Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|20 April 2021

9 Kejadian Buruk Akan Terjadi di Indonesia Akibat Krisis Iklim

Meski di negara tropis, Indonesia akan terkena dampak buruk jika dunia memasuki puncak krisis iklim. Tahun nol emisi perlu direvisi.

KRISIS iklim tak mengenal batas negara. Meski hanya menyumbang 10% produksi emisi, negara-negara berkembang di selatan bumi akan terkena dampak lebih parah ketimbang 10% negara yang menyumbang 70% emisi global.

Ahli linguist Noam Chomsky dan ahli ekonomi Robert Pollin menyimpulkan ketimpangan bencana iklim ini dalam buku terbaru mereka, Climate Change and the Global Green New Deal. Studi-studi lain juga menegaskan bahwa penduduk di negara miskin tak memiliki perlindungan lebih baik dari bencana iklim dibanding penduduk yang tinggal di negara berkembang.

Apa saja bencana iklim itu? Apakah Indonesia, sebagai negara tropis yang gemah ripah loh jinawi, akan ikut terkena dampak bencana iklim akibat pemanasan global?

Para peneliti di Yayasan Indonesia Cerah coba menganalisisnya dengan mencari ke banyak referensi ilmiah. Hasilnya adalah 9 jenis bencana alam yang akan terjadi di Indonesia jika tak ada penanganan serius dalam mencegahnya. Cara mencegahnya, menurut Direktur Eksekutif Yayasan Indonesia Cerah Adhityana Putri, “Menetapkan target iklim lebih ambisius dan nol emisi pada 2050.”

Tahun 2050 adalah janji 196 pihak dalam Perjanjian Iklim di Paris tahun 2015 untuk nol emisi. Indonesia memang telah menetapkan nol emisi. Tapi melenceng 20 tahun dari perjanjian itu, yakni 2070. Tahun 2070 itu pun usaha-usaha mencapainya tak seambisius dan sedarurat bencana iklimnya (Forest Digest membahas soal ini dalam laporan utama edisi 19 di sini).

Jika usaha-usaha mencegah krisis iklim hanya melalui kebijakan semenjana, pelbagai literatur ilmiah memprediksi bencana dengan risiko besar akan melanda Indonesia hingga 2100. Ini tahun terakhir patokan bencana iklim. Jika manusia gagal menahan laju pemanasan bumi di atas 20 Celsius dibanding masa praindustri 1800-1850, bumi tak akan sanggup menanggungkan bencananya. 

Masalahnya, kita tak harus menunggu 80 tahun untuk tahu bumi akan kolaps. Sekarang saja banyak penelitian menghitung dunia akan gagal menahan suhu bumi naik 1,50 Celsius pada 2050 karena tak ada kebijakan serius mencegahnya. Tahun 2020 menjadi tahun terpanas karena emisi gas rumah kaca di atmosfer mencapai level baru sehingga suhu bumi naik 1,1C.

Gelombang Panas Lebih Sering 

Kemungkinan ada tiga gelombang panas yang ekstrem pada 2020-2052. Setelah itu gelombang panas ekstrem akan berulang tiap dua tahun antara tahun 2068-2100. Para ahli memprediksi gelombang suhu panas ekstrem ini sama dahsyatnya dengan panas ekstrem di Rusia pada 2010 yang menewaskan 55.000 orang, menghancurkan sekitar 9 juta hektare lahan pertanian, membunuh semua burung di Moskow, dan menyebabkan kebakaran hutan.

Referensi: Journal of Geophysical Research: Atmospheres

Curah Hujan Berkurang

Kalimantan Timur dan Sumatera timur diprediksi mengalami pemanasan hampir 4° C dan curah hujan berkurang 12% pada tahun 2070-2100. Akibatnya, ada sekitar 55 hari bahaya kebakaran ekstrem per tahun di Kalimantan Timur pada 2070-2100, dibandingkan dengan hanya 14 hari seperti pada masa sebelum 1990. Di Sumatera timur, jumlah hari bahaya kebakaran ekstrem setiap tahun naik dari 17 menjadi 64 hari.

Referensi: Forest Policy and Economics

Kekeringan Hebat

Berkurangnya curah hujan pada periode antar musim akan turun. Ini akan mengakibatkan 20-30% kawasan Kalimantan bagian selatan dan Sumatera bagian utara lebih kering pada 2071-2100, dan 30-40% di Jawa serta Sumatera Selatan. Jawa Timur, yang sudah dilanda kekeringan, kemungkinan kekeringannya naik 45%. Sementara itu, Kalimantan Timur akan mengalami indeks kekeringan sebesar 893—naik dua kali lipat dibanding sebelum 1990 yang hanya 460. Sedangkan indeks kekeringan Sumatera Timur sebesar 960, naik dari 545 sebelum tahun 1990.

Referensi: Climate Dynamics dan International Journal of Climatology: A Journal of the Royal Meteorological Society

Banjir Bandang 

Kerugian akibat banjir pada 1990-2013 sekitar US$ 5,5 miliar atau Rp 79 triliun—lebih banyak dibanding anggaran perubahan iklim tahunan sejak 2016. Perubahan iklim meningkatkan kerusakan ekonomi akibat banjir sungai hingga 91% pada 2030. Tak hanya memicu kekeringan, pada waktu lain krisis iklim bisa memicu iklim tak menentu seperti curah hujan tinggi yang parah melanda beberapa bagian Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Referensi: Science of The Total Environment

Badai Topan 

Setelah banjir, cuaca ekstrem di Indonesia yang paling banyak memakan korban jiwa adalah badai. Topan menyebabkan kerusakan ekonomi sangat besar di Indonesia, seperti topan Savana pada 2019 yang menyebabkan kerusakan senilai US$ 7,5 juta. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengaitkan pemicu topan Seroja pada 2021 dengan peningkatan suhu perairan sekitar sebesar 4°C .

Referensi: DBI Working Paper

Banjir dan Rob

Pada 2000-2030, rob akan menaikkan risiko banjir perairan naik 19-27%. Jawa sudah rentan terhadap banjir pesisir, akan menjadi sangat rentan pada 2030, diikuti oleh sebagian Sumatera bagian utara. Bahkan tempat-tempat yang saat ini tidak mengalami banjir pesisir, seperti Sulawesi Selatan, akan mendapatkan risiko kenaikan 2030. Kenaikan permukaan laut, yang dilanjutkan dengan perluasan perkotaan yang tidak terkendali, akan menyebabkan kerusakan US$ 400 juta di seluruh Indonesia pada tahun 2030. 

Referensi: Science of The Total Environment

Gagal Panen 

Sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa suhu udara memiliki pengaruh terbesar terhadap hasil panen padi di Ciherang, yang menyumbang sekitar setengah produksi beras Indonesia.

Hasil panen di Sumatera bagian utara dan Jawa serta seluruh Kalimantan akan turun 20-30% pada 2039-2042. Di Papua Barat paling parah terkena dampak dengan penurunan sebesar 30% diperkirakan terjadi di sebagian besar wilayah dataran rendah.

Penurunan hasil padi akan berdampak negatif yang kuat pada masyarakat lokal, swasembada Indonesia, dan PDB. Sebuah studi menemukan bahwa kenaikan suhu 2°C dan penurunan curah hujan sebesar 246 milimeter akan meningkatkan defisit beras Indonesia sebesar 38%, dari 65 juta ton menjadi 90 juta ton, dengan kenaikan suhu berdampak terbesar.

Referensi: Journal of Agricultural Meteorology dan ISSAAS

Produksi Kopi Menurun

Kenaikan suhu seiring perubahan curah hujan akan menurunkan panen kopi di Indonesia hingga 85%. Areal yang cocok untuk produksi kopi arabika di Aceh, Sumatera Utara, Sulawesi, Flores, Bali, dan Jawa Timur saat ini sekitar 360.000 hektare, dengan sekitar 210.000 hektare di Sumatera Utara. Dalam zona produksi saat ini, kenaikan suhu 1,7° C akan menurunkan area yang sesuai menjadi 57.000 hektare—lebih dari 15% area—Sumatera Utara dan Aceh akan kehilangan 90% lahan di zona produksi saat ini, Sulawesi dan Bali kehilangan 67-75%. Flores menjadi tidak cocok lagi menjadi produsen kopi.

Referensi: Regional Environmental Change 

Terumbu Karang akan Mati

Di Indonesia 29% pariwisata berada di pesisir. Wisata terumbu karang di Indonesia menghasilkan hampir US$ 2 miliar setiap tahun, dengan pariwisata di sekitar terumbu karang bernilai lebih dari US$ 1,1 miliar. Secara keseluruhan, wisata terumbu karang menarik setidaknya US$ 3,1 miliar setiap tahun. Jika suhu naik 2° C hampir semua karang akan hilang.

Referensi: Marine Policy

Ekonomi Mandek

Kerugiaan tahunan rata-rata per tahun akibat perubahan iklim US$ 45 juta pada 2000-2019. Beberapa ekonom memprediksi PDB Indonesia hanya sebesar senilai US$ 8.800 per kapita, jauh lebih kecil dibanding PDB tanpa perubahan iklim sebesar US$ 38.500 per kapita pada 2100. PDB per kapita diperkirakan turun 31% antara 2040-2059, dan 78% pada 2080-2099.

Referensi: ADBI Working Paper

Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain