Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|08 April 2021

Temuan Baru: Gen Homo Sapiens Mengandung DNA Neanderthal

Studi terbaru menemukan gen tertua Homo sapiens mengandung DNA Homo neanderthal. Sejarah manusia akan berubah.

SEJARAH manusia sedang berubah dan harus ditulis ulang. Para peneliti dari Universitas Leipzig Jerman mengumumkan temuan baru yang mengejutkan di jurnal Nature edisi 7 April 2021: DNA tertua Homo sapiens dari masa 45.000 tahun silam mengandung DNA Homo neanderthal.

Temuan ini mengukuhkan salah satu teori asal-usul manusia bahwa Homo sapiens yang datang dari Afrika timur telah bercampur dengan kawin silang dengan Homo neanderthal di lembah Neander di semenanjung Balkan, Eropa tenggara. Teori ini, misalnya, merumuskan bahwa dalam gen manusia sekarang ada 2% gen Neanderthal yang terbawa akibat persilangan itu. 

Teori sebaliknya adalah teori okupasi. Ini teori yang bertahan cukup lama, sebelum muncul teori kawin campur yang kian mendapatkan bukti-bukti awal pada 2010-2015 meski tak terlalu meyakinkan soal jalur genetikanya hingga hari ini. Tak hanya dengan Neanderthal, gen orang Aborigin di Australia juga terdeteksi mengandung 6% gen Homo denisovan, homo penduduk asli Siberia di Kutub Utara.

Menurut teori okupasi, genetika Homo sapiens berbeda dengan Homo neanderthal sehingga meski sempat kawin campur pun mereka tak akan menghasilkan keturunan. Dengan teknologi dan semangat invasi yang besar, menurut teori ini, Homo sapiens datang ke Eropa dan Timur Tengah lalu menumpas seluruh Neanderthal sehingga homo ini punah 30.000 tahun lalu.

Setelah itu, sebagai spesies dengan otak paling besar di banding hewan lain, Homo sapiens menjelajah ke seluruh dunia, akibat perubahan iklim, hasrat bertahan, dan keinginan menjelajah tempat-tempat baru. Mereka tiba di Siberia lalu menumpas Homo denisovan di sana. Mereka kemudian tiba di Alaska karena memburu mamot dan terus bergerak hingga ujung selatan benua Amerika.

Masalahnya, belum ada studi yang menelisik artefak dari masa sebelum 40.000 tahun lalu. Ini masa tergelap mengingat Homo sapiens datang ke Eropa dan Timur Tengah pada 30.000 tahun sebelumnya. Maka masa 40.000-70.000 tahun lalu adalah masa terpenting untuk mengetahui sejarah kita.

70.000 tahun lalu adalah masa terpenting dalam revolusi kognitif Homo sapiens sehingga Homo sapiens menjadi spesies paling pintar dibanding lima homo lain yang sudah ada. Masa penting itu buram sehingga teori kawin campur nyaris tak diakui.

Menurut sejarawan Yuval Noah Harari, dalam Sapiens, para ahli biologi tak hendak membuka kotak pandora untuk membuktikan teori mana yang benar. Sebab, jika teori kawin campur yang benar, akan mendorong politik rasialisme kembali menguat: bahwa manusia memang bukan berasal dari satu nenek moyang yang sama. Sebaliknya, teori okupasi lebih diterima karena mendorong kesimpulan seluruh penghuni bumi saat ini berasal dari gen yang sama, yakni keturunan Homo sapiens.

Teori okupasi kini mendapatkan tantangan dengan kian banyaknya bukti-bukti yang mengukuhkan teori kawin campur. Temuan ilmuwan dari Universitas Leipzig akan menjadi satu pijakan baru bagaimana seharusnya menulis sejarah manusia di planet ini.

Temuan itu mereka dapatkan setelah mengurutkan gen Homo sapiens dari masa 45.930 dan 42.580 tahun lalu. Artefak yang diteliti diduga sebagai sapiens tertua karena berasal dari era Pleistosen akhir. Genetika tersebut berasal dari goa Bacho Kiro di Bulgaria.

Menurut para peneliti Leipzig, jika dua individu pada temuan 2015 dari Rumania dan Siberia tak memiliki jejak genetika hingga manusia modern sekarang, jejak genetika orang Bacho Kiro lebih mirip dengan kita kini. Gen Neanderthal mereka lebih banyak dari manusia Rumania, yakni kira-kira 3,4-3,8%.

Genetika orang Bacho Kiro juga mirip dengan manusia di Asia Timur dan Amerika. Temuan ini sesuai dengan teori lain soal jalur persebaran Homo sapiens yang menjelajah seluruh penjuru dunia dalam waktu 20 milenium. Teori okupasi kian kukuh karena tiap kali Homo sapiens tiba di suatu wilayah, penduduk asli daerah tersebut menghilang dalam 1.000 tahun.

Dalam Sapiens, meski mengajak kita tak menyederhanakan soal teori mana yang kuat, Harari coba menyederhanakan bahwa Homo sapiens kemungkinan membasmi semua Neanderthal di Eropa karena “terlalu familier untuk diabaikan, terlalu berbeda untuk ditoleransi.”

Persebaran manusia Bacho Kiro dari Bulgaria, Homo sapiens yang dalam genetikanya memiliki 3,8% gen Homo Neanderthal (Sumber: Nature, 7 April 2021)

Dengan sifat egois karena merasa menjadi mahluk paling pintar, Homo sapiens membunuh spesies apa pun yang mereka anggap akan menjadi pesaing. Neanderthal adalah homo yang lebih tahan dingin, lebih berotot, dan ukuran otak lebih besar. Pelbagai peninggalan di Eropa juga menunjukkan mereka merawat orang tua yang mereka yang sakit, bukan membunuhnya seperti Homo sapiens, sang penjelajah.

Akankah temuan para ahli Leipzig akan membuka pandora sejarah manusia? Bagaimana pun sejarah manusia adalah sejarah yang masih kabur. Sebagai homo termuda, muncul 500.000 tahun lalu, Homo sapiens mencoba tampil sebagai pemenang di antar lima homo lain yang sudah ada. Homo-homo ini menghilang begitu Homo sapiens tiba-tiba menyebar tak terbendung ke seluruh bumi. Hingga kini jumlahnya mencapai 7,8 miliar.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain