Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|01 April 2021

Misteri Asal-Usul Virus Corona Mulai Terkuak

WHO menurunkan tim peneliti untuk menginvestigasi asal-usul virus corona covid-19. Bukti kebocoran virus dari laboratorium Wuhan masih kecil.

MISTERI asal-usul virus corona SARS-Cov-2 covid-19 mulai terkuak oleh investigasi sejumlah peneliti yang diterjunkan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Di bawah pimpinan ahli virologi Peter Ben Embarek, sebanyak 34 ilmuwan datang ke Cina pada akhir Januari 2021. Selama empat pekan mereka menelusuri jejak virus corona yang terdeteksi mulai muncul menulari manusia pada 8 Desember 2019.

Hasilnya adalah laporan setebal 120 halaman. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa laporan para ilmuwan itu sebagai laporan awal yang penting untuk mengetahui asal-usul virus corona. “Tim telah mengkonfirmasi ada kontaminasi luas dengan SARS-CoV-2 di pasar Huanan di Wuhan, tetapi tidak dapat menentukan sumber kontaminasi ini,” kata Tedros saat pemaparan hasil investigasi pada 30 Maret 2021. 

Menurut Tedros, 34 ilmuwan tersebut datang dari pelbagai negara. Mereka adalah ahli-ahli virus terbaik dari Australia, Cina, Denmark, Jerman, Jepang, Kenya, Belanda, Qatar, Federasi Rusia, Inggris, Amerika Serikat dan Vietnam. Mereka mengakses data yang sudah lebih dulu dikumpulkan para ahli virus di Cina ketika awal mula pandemi ini meletup.

Objek investigasi para peneliti adalah pasar hewan Huanan di Wuhan, memeriksa sampel orang-orang yang paling awal mengalami gejala terinfeksi virus corona, dan mewawancarai peneliti serta memeriksa laboratorium Institut Virus Wuhan. Banyak spekulasi yang menyebut bahwa virus corona menyebar dari laboratorium ini, baik karena kebocoran atau sengaja disebarkan.

Di awal pekan para ilmuwan WHO memeriksa 170 orang pertama yang terinfeksi virus ini. Mereka dilaporkan berinteraksi dengan hewan mati dan hidup di pasar hewan Huanan lalu mengalami gejala covid. Sebanyak 17 orang yang mengalami gejala serupa tak bersentuhan dengan hewan di pasar Huanan, tapi baru pulang dari luar negeri.

Menurut laporan WHO tersebut, dari sekuensi virus pada tubuh orang-orang tersebut ada delapan kemiripan dengan virus yang ditemukan di hewan di pasar Huanan. Namun, beberapa sekuensi genom virus ini juga terhubung ke jenis virus lain yang berasal dari luar pasar. Para ahli WHO tersebut untuk sementara menyimpulkan, virus sudah menyebar sebelum pandemi namun belum terpantau.

Para peneliti Cina telah mengumpulkan dan memeriksa 1.000 sampel dari pasar Huanan pada awal 2020. Sampel berasal dari kios, toilet, tempat sampah, hewan, termasuk tikus dan kucing. Orang-orang yang berinteraksi dengan semua benda tersebut ketika dites terbukti memiliki virus corona di tubuhnya.

Mereka yang positif terinfeksi virus corona adalah pedagang yang menjual hewan laut, ternak, dan unggas. Para peneliti juga mengambil sampel dari 188 hewan dari 18 spesies di pasar Huanan. Tapi ketika dites, seluruh hewan tersebut negatif virus corona.

Penelitian ahli virus Cina itu dikritik oleh Peter Daszak, salah satu ahli virus yang masuk tim WHO. Menurut dia, hewan-hewan yang negatif virus corona itu tidak mewakili semua yang dijual di pasar Huanan. “Seribu sampel adalah awal yang baik, tapi masih kurang,” kata presiden organisasi penelitian nonprofit, Ecohealth Alliance di New York City.

Dari Peter kita tahu para peneliti lalu melacak hewan ternak di pasar Huanan ke tiga provinsi di Cina, terutama di pasar yang menjual tenggiling dan kelelawar. Dua hewan ini memiliki virus yang mirip dengan SARS-Cov-2, meskipun virus dalam tubuh mereka agak jauh dari segi hubungan silsilah dengan virus corona. Tapi, menurut Daszak, hewan tersebut mungkin memberi petunjuk wabah di antara hewan lain.

Dari laporan WHO itu para peneliti agaknya percaya bahwa penularan virus berasal dari hewan ke manusia. Menurut Peter Daszak, para peneliti WHO diizinkan bertanya apa pun kepada peneliti di Institut Virus Wuhan. Menurut mereka, kata Daszak, tak ada peneliti yang terinfeksi ketika berinteraksi dengan virus lalu menularkannya ke orang lain. Mereka juga membantah memelihara virus hidup, apalagi serupa corona. Virus yang mereka teliti berada di lemari pendingin yang beku.

Meski begitu, para peneliti WHO tak menutup kemungkinan virus berasal dari laboratorium. Seperti kata Tedros, penyebaran dari laboratorium tetap menjadi perhatian peneliti meski peluangnya sangat tipis. Ia tak menyangkal bahwa penelitian tim WHO dipantau secara ketat oleh pemerintah Cina sehingga beberapa ilmuwan lain meragukan hasilnya yang independen, meski beberapa peneliti lain yang dikutip Nature mengatakan argumen tim WHO lumayan kokoh.

Kesimpulan lain dari penelitian ini adalah bahwa virus corona mulai berevolusi pada November-Desember 2019 dan memuncak pada Januari 2020. Kesimpulan ini menguatkan penelitian ilmuwan lain di jurnal Science yang mensimulasikan penyebaran virus di Provinsi Hubei, provinsi terbesar dalam jumlah infeksi setelah Wuhan.

Karena itu, kata Tedros, penelitian 34 ahli WHO itu sebagai bukti awal untuk penelitian berikutnya yang lebih detail. Dalam pidatonya Tedros menyimpulkan beberapa rekomendasi yakni penelitian terhadap petani, pemasok, dan kontak mereka di Huanan; penelitian virus melalui rantai makanan; studi hewan yang dibudidayakan yang dijual di pasar Huanan.

Perlu studi lebih lanjut, kata Tedros, untuk mencapai kesimpulan yang lebih kuat. “Meskipun tim menyimpulkan kebocoran laboratorium adalah hipotesis paling kecil kemungkinannya, hal ini memerlukan penyelidikan lebih lanjut dengan misi tambahan yang melibatkan pakar spesialis, yang siap saya terapkan,” katanya

Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain