Untuk bumi yang lestari

Surat dari Darmaga|29 Januari 2021

Filosofi Naik Gunung

Kesalahan umum para penulis perjalanan: menulis destinasi dan fokus pada tujuan, lupa menikmati perjalanannya.

SEPERTI kebanyakan anak muda lain, sewaktu remaja saya senang naik gunung. Tidak selalu serius dengan menaklukkan gunung-gunung tertinggi, kadang hanya hiking ringan tanpa target tertentu. 

Seorang teman yang hidupnya sangat lurus dan selalu punya nilai bagus dalam pelajaran sekolah bertanya dengan cukup serius, saat melihat saya dan teman-teman mempersiapkan perjalanan untuk naik gunung lagi. “Apa sih tujuan kalian naik gunung? Apa yang kalian cari di puncak? Sudah capek-capek naik, nanti turun lagi. Di atas pun cuma sebentar. Lagian, pemandangan di puncak belum tentu lebih indah dari pemandangan di kaki gunung yang bisa kita tempuh pakai motor.”

Saat itu saya tidak tertarik menjawab pertanyaan semacam itu. Tapi mungkin karena saya tidak punya jawabannya. Pernyataan teman itu ada benarnya. Sejujurnya saya tidak tahu untuk apa naik gunung. Jawaban faktualnya, ya karena senang dan ikut-ikutan teman.

Ada juga pikiran bahwa naik gunung untuk menikmati keindahan. Tapi jika tujuan naik gunung adalah menikmatipemandangan sepanjang perjalanan, kenapa harus susah payah naik sampai ke puncak?

Baru belakangan ini saya tahu ada yang salah dari pertanyaan itu: “Apa yang kalian cari di puncak gunung?” Dia menganggap bahwa sampai di puncak adalah tujuan. Ya, untuk para pendaki serius yang ingin menaklukkan Seven Summits, puncak adalah tujuan.

Tapi, bagi kami para pendaki amatir, puncak bukan tujuan. Perjalanan itu sendiri yang merupakan tujuan. Keindahan dan kebahagiaan ada di sepanjang perjalanan naik dan turun. Mereka yang terlalu fokus pada puncak akan kelelahan saat naik dan akan mendapatkan kekosongan saat turun.

Hal ini saya sadari setelah mengobrol dengan penulis perjalanan Agustinus Wibowo. Menurut dia, kesalahan umum para penulis perjalanan adalah mereka menulis destinasi (pantai, gunung, bangunan bersejarah), tapi lupa menulis (dan menikmati) perjalanan menuju ke sana, perjumpaan dengan orang-orang di perjalanan atau di tempat tujuan, kecelakaan dan hal yang tidak disangka-sangka, dan lain sebagainya.

Akibatnya, perjalanan mereka (juga tulisannya) menjadi begitu membosankan. Kadang ekspektasi mereka terlalu besar hingga kecewa saat tiba di destinasi. Kadang waktu untuk menikmati tujuan (puncak gunung, menara Eiffel, pantai) jauh lebih singkat dari usaha yang dilakukan untuk mencapainya.

Kita sering kecewa dan kelelahan karena terlalu fokus pada tujuan dan lupa menikmati proses.

Demikian juga dalam hidup. Banyak orang yang mengejar kebahagiaan di akhirat (yang memang adalah tujuan kita), tapi lupa untuk bahagia di dunia. Kehidupan di dunia diisi dengan ketakutan akan orang dari kelompok lain, kemarahan kepada yang tidak sepaham, selalu merasa gagal menjadi orang paling suci.

Padahal, inti dari beragama adalah, Tuhan ingin kita bisa bahagia dan damai dalam kehidupan di dunia ini. Karena hanya orang yang bahagia yang bisa bersyukur. Bukan orang yang mencapai puncak gunung yang bisa pulang dengan tersenyum, tapi mereka yang bahagialah yang bisa tersenyum meski mereka gagal sampai di puncak.

Sarjana Hadits Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Kairo

Bagikan

Komentar

Artikel Lain