Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|26 Januari 2021

Ancaman Lain Setelah Banjir Kalimantan Selatan

Setelah banjir di musim hujan, kita akan menghadapi ancaman lain di musim kemarau: kebakaran. Indikatornya sangat jelas.

DI tengah pandemi virus corona covid-19, berbagai bencana hidrometeorologi tengah berlangsung di Indonesia. Banjir, longsor, gempa, di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku. Dampak negatif tak terhitung lagi. Materi, imateri hingga korban jiwa.

Bencana hidrometeorologi itu merupakan sinyal gangguan ekosistem tengah terjadi, baik itu yang direncanakan karena pemulihannya tak tuntas, baik, benar, dan seharusnya, hingga kegiatan ilegal yang dibiarkan dengan berbagai alasan, termasuk untuk dan atas nama kepentingan masyarakat.

Banyak yang menyatakan hujan adalah biang keladi bencana hidrometeorologi. Tak hanya ketika banjir. Saat musim kering pun ketika hutan dan lahan terbakar, banyak yang menyatakan faktornya karena hujan.

Banjir karena hujan besar, kata mereka, saat kebakaran besar juga karena hujannya kecil. Pemadaman api yang tak berhasil saat musim kering dan banjir seperti sekarang, menunjukkan kita tak bisa mengelola dan menyimpan air hujan.

Ekspansi bencana hidrometeorologi dalam hitungan hari atau pekan ke depan mungkin akan berkurang seiring dengan turunnya curah hujan. Meskipun akan terhenti sesaat, namun pekerjaan lain masih berjalan yaitu perbaikan infrastruktur, perbaikan fasilitas publik, dan lainnya.

Semoga saja keinginan memperbaiki ekosistem yang rusak, yang sudah diketahui sejak tahun 1990, memang benar dan bukan sekadar memuaskan publik yang mulai pudar kepercayaan kepada aparatur negara. Karena, seperti janji-janji yang lalu, setelah hujan berkurang dan masyarakat kembali ke rumah, janji itu akan hilang ditelan masalah baru.

Sebab, masalah baru itu telah terlihat tanda-tandanya. Ancaman bencana baru setelah tak musim hujan adalah kebakaran hutan dan lahan. Sejatinya kegiatan pencegahan kebakaran hutan dan lahan sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelum api meletik. Sebab, memadamkan api saat sudah menyala, merupakan pencegahan yang terlambat.

Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika kita tahu bahwa Fine Fuel Moisture Code (FFMC) untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan berada dalam keadaan merah seperti ditampilkan dalam beberapa gambar berikut:

Tingkat kemudahan terbakar lapisan atas permukaan di Asia Tenggara

 

FFMC menunjukkan tingkat potensi kemudahan terjadinya kebakaran ditinjau dari parameter cuaca pada bahan-bahan ringan mudah terbakar di lapisan atas permukaan tanah (BMKG, 2021).

Tingkat kekeringan bahan-bahan ringan yang mudah terbakar (seperti humus permukaan, sampah dedaunan kering, alang-alang, dan bahan ringan lain) biasanya menutupi lantai hutan pada kedalaman 1-2 sentimeter.

Tingkat kebakaran lapisan permukaan di Kalimantan

Sementara FFMC berwarna merah menunjukkan alang-alang dan dedaunan yang biasanya menutupi lantai hutan dalam kondisi sangat kering dan dalam kondisi sangat mudah terbakar.

Tiga provinsi di Sumatera yaitu Sumatera Selatan, Jambi dan Riau wilayahnya didominasi FFMC berwarna merah yang mengindikasikan bahan bakar halus seperti alang-alang dan dedaunan dalam keadaan sangat mudah terbakar.

Meskipun warna merah tidak sedominan seperti di Sumatera, patut kita mewaspadai wilayah Kalimantan khususnya provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Tingkat kebakaran lapisan permukaan di Sumatera

Dengan data ini, semua pihak hendaknya tak menutup mata bahwa salah satu faktor penting mengurangi luas kebakaran dan frekuensi terjadinya kebakaran tahun 2020 adalah curah hujan tinggi, selain memang ada upaya pemadaman yang terencana.

Akankah kita akan mengambinghitamkan hujan pada saat kebakaran dan lahan yang akan terjadi tahun ini sama dengan saat ketika banjir dan longsor terjadi saat ini?

Semoga FFMC yang sudah berwarna merah ini mendapat perhatian dan menjadi pengingat agar aparatur negara dan semua pihak mencegahnya sebelum api menyala besar.

Guru Besar Perlindungan Hutan Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB University

Bagikan

Komentar

Artikel Lain