Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|14 Januari 2021

Varian Baru Virus Corona Lebih Cepat Menular

Temuan para ilmuwan di Inggris terhadap varian baru virus corona yang lebih cepat menular, terutama pada anak-anak dan remaja.

PARA ilmuwan Inggris menemukan varian baru virus corona SARS-Cov-2 pada akhir Desember 2020. Dalam rapat NERVTAG, panel ilmuwan yang bertugas memberi nasihat kepada pemerintah Inggris, para ahli menyimpulkan bahwa varian baru virus corona ini lebih cepat menular, terutama pada anak-anak usia di bawah 15 tahun—seperti temuan awal Imperial College London. 

Varian baru virus corona ini dinamakan VUI 202012/01, singkatan dari Variant Under Investigation, tahun 2020, bulan 12, varian 01. Catatan rapat pada 21 Desember 2020 itu menegaskan bahwa belum ada kesimpulan sahih tentang perilaku varian baru ini, terutama dalam hal kemampuannya menginfeksi manusia dan kecepatannya melumpuhkan imunitas.

Dari tiga analisis independen terhadap gen virus corona klaster B.1.1.7 yang diambil dari sampel pasien di Inggris tenggara, timur, dan London, tingkat penularan varian baru ini sebesar 56% dibanding varian lain sejak virus ini menyebar pertama kali di Wuhan, Tiongkok. Mutasi virus corona membuat mereka beradaptasi sehingga makin kuat menginfeksi.

Tiga riset independen secara konsisten menemukan bahwa varian baru virus corona tumbuh 0,7 kali diibanding pertumbuhan varian lain virus corona yang beredar di Inggris. Misalnya, varian B.1.1.7 kecepatan reproduksinya hanya 0,39. Meski begitu, para ahli belum menemukan faktor-faktor penularan yang cepat dari varian baru virus corona ini.

Faktor penularan virus meliputi waktu yang dibutuhkan untuk virus menginfeksi dan menular, jumlah virus dan kemampuan mereka mengikat inang, usia orang yang terinfeksi, dan hubungannya dengan komorbiditas—penyakit lain sebelum terinfeksi. Para peneliti sedang menginvestigasi kemampuan serum yang diambil dari pasien yang sudah sembuh dari infeksi corona untuk menetralkan varian baru virus ini.

Varian baru virus corona keturunan B.1.17 yang mirip dari klaster B.1.351 dua bulan sebelumnya ditemukan di Afrika Selatan. Lagi-lagi, para peneliti belum menyimpulkan kesamaan dan perbedaan galur baru di dua negara yang terpisah jauh ini. Mobilitas manusia selama pelonggaran karantina wilayah bisa jadi yang memicu penularan varian baru ini. Dari Inggris, varian virus ini juga dilaporkan telah menginfeksi pasien di Amerika Serikat dan Kanada.

Kendati diyakini lebih cepat menular, tak ada perbedaan varian baru virus corona dengan induknya dalam hal penyebaran. Virus berukuran 400 mikrometer atau 1/1.500 ketebalan rambut manusia ini tetap menular melalui droplet(cairan saluran napas manusia) dan aerosol (partikel melayang di udara).

Gambar tiga dimensi varian baru virus corona SARS-Cov-2

Hingga kini belum ada bukti ilmiah yang menyatakan varian baru virus corona tersebut meningkatkan risiko kematian atau menyebabkan penyakit yang lebih parah. Sugiyono Saputra, peneliti di Pusat Penelitian Biologi LIPI, mengatakan bahwa varian-varian baru virus corona merupakan sesuatu yang wajar karena virus terus berubah melalui mutasi. Varian virus bisa muncul lalu hilang, dan lainnya bertahan.

“Perbedaan varian baru SARS-CoV-2 dengan varian sebelumnya adalah pada banyak tidaknya mutasi pada nukleotida (materi genetik) yang terjadi sehingga membentuk klaster atau lineage tersendiri. Contohnya adalah pada VUI 202012/01, di mana telah terjadi multiple mutations pada spike protein dan secara total telah terjadinya pergantian atau substitusi sebanyak 29 nukleotida jika dibandingkan dengan galur SARS-CoV-2 dari Wuhan,” ujar Sugiyono.

Meski muncul varian baru para peneliti menganjurkan agar kita tak panik berlebihan. Di luar soal vaksin yang mulai disuntikan pada 13 Januari 2021, cara ampuh mencegah penularan tetap dengan 3M: memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan memakai sabun. Sabun mengandung surfaktan, zat kimia aktif di permukaan, yang bisa menghancurkan lemak pembungkus tubuh virus.

Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain