Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|03 Januari 2021

Harimau Jawa: Masih Ada atau Sudah Punah?

Komunitas pemburu mengklaim bertemu dengan harimau Jawa di hutan Jawa Tengah. Pemantauan, konservasi, dan pemulihan satwa langka yang masih ada tidak terdistorsi oleh upaya pencarian untuk membuktikan eksistensi harimau Jawa.

BENARKAH harimau Jawa masih ada? Seorang peneliti mendapatkan foto kucing besar yang diklaim sebagai harimau Jawa dari komunitas pemburu babi hutan di Jawa Tengah pada September 2018. Peneliti ini sudah mendatangi lokasi foto itu dan menyampaikannya dalam forum Global Tiger Day 2020 pada Agustus 2020. 

Temuan ini seperti mengulang temuan staf dan mitra Taman Nasional Ujung Kulon pada 2017. Harimau itu sedang berjalan di padang penggembalaan banteng dan tertangkap kamera video. Namun, setelah dianalisis morfologi dan bentuk tubuhnya, para peneliti menduga kucing besar itu adalah macan tutul.

The Union for Conservation of Nature (IUCN) sudah menetapkan bahwa harimau Jawa sudah punah pada 1970-an. Meski begitu, tak sedikit orang yang meyakini hewan ini masih ada di hutan-hutan Jawa. Secara ilmiah, peluang eksistensi harimau Jawa memang ada. Tapi kemungkinannya sangat kecil.

Dalam studi ilmiah, untuk membuktikan kepunahan satu spesies satwa, apalagi dengan tingkat kepercayaan mendekati 100%, memerlukan biaya besar. Serupa halnya, membuktikan keberadaan apalagi menghitung populasi atau jumlah individu, satwa yang sudah mendekati kepunahan.

Semakin langka suatu spesies, semakin sulit dipastikan jumlahnya. Untuk memperoleh perkiraan jumlah dengan tingkat presisi dan akurasi yang memadai, perlu survei besar. Kondisi seperti itu terutama berlaku bagi spesies yang bersifat pemalu, dan hidup di daerah yang jauh dari jangkauan manusia. Harimau dan badak menjadi contoh untuk ini.

Sewaktu saya dan tim hendak memastikan keberadaan (dan mencoba memperkirakan jumlah yang masih ada) badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) di berbagai wilayah Sumatra dan Kalimantan. Upaya ini memerlukan survei intens dan sistematis.

Intensitas survei berbanding lurus dengan biaya dan sumber daya. Semakin intensif survei dan semakin banyak sampel terkumpul, semakin tinggi taraf kepercayaan dan kemampuan data sebelum kita terima atau tolak hipotesisnya. Asumsinya, survei secara sistematis dengan metode tepat sesuai karakter spesies dan kondisi lokasinya.

Gajah Sumatera, mamalia darat terbesar yang kritis karena habitatnya terdesak, konflik yang kronis, dan perburuan gading (Foto: Sunarto)

Bisa saja kita mengklaim peluang keberadaan suatu spesies sudah sangat dekat dengan 0 (alias punah total), dengan taraf kepercayaan yang mendekati 100%. Tapi tantangannya, sulit mencari investor yang tertarik membiayai. Kalaupun dana tersedia, keputusan alokasinya biasanya ditentukan oleh besaran rasio manfaat terhadap risikonya dibandingkan opsi membiayai program atau kegiatan lain dengan tujuan penyelamatan suatu spesies terancam.

Dalam ilmu statistik ada istilah power analysis. Dengan teknik tersebut, kita bisa mengetahui jumlah sampel untuk penelitian. Biasanya, kemampuan (power) dari data untuk menguji hipotesis akan semakin besar seiring dengan bertambahnya jumlah sampel.

Dalam penelitian satwa liar, kekuatan data melalui metode kamera jebak akan semakin besar seiring makin banyak atau lamanya kamera dipasang. Selain itu, dalam ilmu konservasi, kepunahan ada tingkatannya. Ini yang kadang terlupakan dan karenanya sering terjadi pertentangan karena perbedaan pemahaman 

Kebanyakan orang baru menganggap suatu jenis punah ketika individu terakhirnya mati. Memastikan kapan dan di mana individu itu mati nyaris mustahil. Karena itu dalam ilmu konservasi, khususnya kajian viabilitas populasi (population viability analysis), kepunahan ditentukan batas (threshold) jumlah individu tertentu atau kondisi tertentu yang ditetapkan dan disepakati berdasarkan karakter individu dan keperluan pengelolaan. Berapa pun jumlah individu yang tersisa, jika semuanya jantan atau semua betina, bisa dikatakan jenis tersebut telah punah.

Kepunahan juga bisa dikategorikan berdasarkan wilayah sebaran. Misalnya punah secara global atau punah di wilayah tertentu. Punah secara global disebut extinct, punah di wilayah disebut extirpated. Ada juga yang mengategorikan punah di alam (namun masih ada di penangkaran atau budidaya), atau punah di mana pun. 

Maka selama survei menyeluruh dan intensif belum dilakukan, harimau Jawa belum bisa dikatakan punah 100%. Namun, mengingat pencarian, baik langsung maupun tidak, yang sistematis maupun non-sistematis sudah cukup panjang, dan belum ada bukti yang bisa diverifikasi bersama, kemungkinan harimau Jawa masih eksis sangat kecil.

Badak Sumatera, mamalia darat paling langka di dunia yang hanya tersisa di pulau Sumatera dan Kalimantan (Foto: Sunarto)

Seperti keberadaan orang pendek di Sumatera dan yeti di Himalaya. Sampai kini belum ada bukti meyakinkan tentang keberadaan mereka. Salah satu proyek penting pelestarian harimau di Sumatera pada awalnya pencarian orang pendek.

Walhasil, diskursus harimau Jawa tidak mendistorsi perlunya kita fokus pada pelestarian jenis satwa yang masih ada dan perlu perhatian khusus seperti gajah dan badak di Sumatra dan Kalimantan atau harimau di Sumatera. Juga macan tutul di Jawa.

Satwa-satwa itu telah tergolong kritis dan sangat terancam punah berdasarkan kriteria IUCN. Kalau kita terlambat merespons kondisi ini, bukan tidak mungkin tidak lama lagi kita juga akan disibukkan dengan upaya membuktikan satwa-satwa itu.

* Perbaikan pada 6 Januari 2021 untuk perbaruan data dan revisi kalimat untuk menghindari salah pengertian. 

Pemerhati lingkungan dan penggemar jelajah alam. Anggota Dewan Penasehat Forum HarimauKita dan anggota Specialist Groups IUCN SSC

Bagikan

Komentar

Artikel Lain