Reportase | Januari-Maret 2018

Orang Rimba di Purbalingga

Wong Alas menjadi gosip yang sudah berlangsung turun-temurun. Mereka ada atau sekadar mitos?

Gunanto Eko Saputro

Alumni Fakultas Kehutanan IPB, tinggal di Purbalingga.

ORANG Purbalingga di Jawa Tengah menyebutnya “Wong Alas”. Mereka percaya suku Pijajaran atau Carang Lembayung sebagai penghuni hutan di pegunungan utara yang membentang dari Desa Gunung Wuled di Panusupan, Tanalum di Rembang, hingga perbatasan Desa Watukumpul yang masuk wilayah Kabupaten Pemalang.

Banyak versi kisah suku tersebut, yang ujungnya menjadi misteri. Benarkah mereka ada? Pada 19 November 2017 masyarakat Purbalingga berkumpul di Aula Kedai Kebun membicarakan wong Alasa ini. Diskusi berlangsung gayeng sampai larut malam yang dipandu oleh Direktur Institut Negeri Perwira, Indaru Setyo Nurprojo.

Kisah yang umum beredar asal muasal legenda suku Pijajaran tak bisa lepas dari Syekh Jambu Karang. Ia tadinya bangsawan dari Kerajaan Pajajaran bernama Raden Mundingwangi yang menyepi sampai ke wilayah Pegunungan Ardi  Lawet. Rombongan mereka bertemu dengan Syekh Atas Angin, seorang penyebar agama Islam dan terjadi adu ilmu kesaktian.

Raden Mundingwangi kemudian kalah dan menyatakan diri masuk Islam serta berganti nama menjadi Syech Jambu karang.  Namun, ada sebagian rombongannya yang tidak mau mengikuti keyakinan baru pimpinannya itu dan memilih untuk tetap menetap di hutan belantara. Mereka itu diduga sebagai nenek moyang wong Alas.

Saat ini, petilasan Syekh Jambu Karang ada di Desa Panusupan, Kecamatan Rembang dan menjadi salah satu obyek wisata religius yang banyak dikunjungi peziarah. Namanya juga diabadikan menjadi salah satu nama jalan utama di sekitar alun-alun Purbalingga. Sementara, Makam Syekh Atas Angin juga ada di Desa Gunung Wuled, Kecamatan Rembang.

Berlatar cerita tersebut, masyarakat di sekitar pegunungan Ardi Lawet meyakini keberadaan mereka hingga kini. Namun mereka dinilai bukanlah manusia biasa seperti kita, melainkan manusia yang memiliki kelebihan khusus. “Suku Pijajaran disebut manusia setengah harimau dan memiliki berbagai kemampuan supranatural sehingga masyarakat menghormatinya dan enggan untuk bersentuhan dengan mereka. Saya meyakini mereka itu ada, akan tetapi tidak seperti kita,” kata pemerhati Sejarah Purbalingga, Catur Purnawan.

Ciri fisik Suku Pijajaran, kata Catur, seperti manusia biasa. Hanya saja mereka tidak memiliki tumit atau cenderung berjalan jinjit dan tidak memiliki gumun atau lekukan di bawah hidung.

Catur, yang leluhurnya berasal dari Desa Jingkang, Kecamatan Karangjambu juga mengaku sudah pernah berada di perkampungan Wong Alas. “Saya pernah berada disana tetapi kemudian setelah keluar berubah menjadi hutan belantara lagi,” katanya.

Persentuhan dengan Wong Alas
Fariz, warga Desa Kramat, Kecamatan Karangmoncol masih ingat betul kejadian sekitar 5 tahun silam. Ia dan rombonganya dicegat orang yang tidak dikenal saat melintasi hutan. Mereka meminta seekor ayam yang dibawanya. “Kami sampai rebutan ayam dengan mereka,” katanya. Rombongan orang tersebut, kata Fariz, memiliki ciri-ciri yang sama dengan manusia biasa hanya berpakaian seadanya dan tidak banyak bicara.

Tiga tahun kemudian, ia bertemu lagi dengan mereka di tempat yang sama. Dari tokoh masyarakat di sana, Fariz tahu orang-orang yang mencegatnya disebut wong Alas. “Jadi, dua kali saya bertemu dengan mereka, dipimpin oleh seseorang bernama Cawing Tali, ” katanya.

Kris Hartoyo Yahya, Direktur Puspahastama milik pemerintah Kabupaten, juga tak bisa melupakan kejadian tahun 1999. Saat itu, Ia baru saja pulang seusai melakukan kegiatan politik di Desa Sirau dan sekitarnya. Nahas, waktu sudah tengah malam, mobilnya mogok di tengah jalan. “Tiba-tiba ada serombongan orang mendorong mobil saya. Setelah lepas dari jalan dan mobil bisa dihidupkan kembali, mereka pergi begitu saja,” katanya.

Ia tidak yakin bahwa mereka adalah penduduk sekitar. Soalnya, lokasi mogok jauh dari perkampungan. Ia dan orang-orang yang menolongnya tak bicara banyak. Ketika Kris mengucapkan terima kasih, mereka hanya mengangguk.

Taufik Katamso, sesepuh Perhimpunan Pecinta Alam (PPA) Gasda yang sejak tahun 1998 telah mengumpulkan berbagai macam informasi mengenai keberadaan wong Alas dari banyak orang yang mengaku berjumpa dengan mereka. Menurut dia, penduduk Dusun Karanggintung di Desa Panusupan mengaku sering didatangi wong Alas. “Biasanya wong Alas datang meminta makan atau rokok,” katanya.

Wong Alas, dari cerita yang diperoleh Taufik , tidak mengenal kulonuwun (permisi) sehingga akan masuk jika ada rumah yang pintunya terbuka. Bahkan, ada cerita salah seorang wong Alas perempuan yang masuk ke rumah menggendong bayi yang ditinggal ibunya ke dapur. Wong Alas tersebut akhirnya diterima oleh tuan rumah dan menjadi pengasuh balita itu meskipun hanya selama dua minggu.

Menurut Taufik, wong Alas sudah melakukan transaksi ekonomi melalui barter makanan dengan penduduk sekitarnya. Artinya, mereka beregenerasi karena Taufik mewawancarai penduduk yang mengaku melihat anak-anak wong Alas. Dari cerita-cerita itu, Taufik menyimpulkan wong Alas hidup turun-temurun di pedalaman rimba Purbalingga.

Ia mengidentifikasi setidaknya ada dua kelompok wong Alas. Pertama, kelompok pimpinan Cawing Tali dan Minarji seperti yang dijumpai oleh Fariz; kedua, kelompok San Klonang. Masyarakat sekitar hutan umumnya enggan memberi informasi detail soal mereka. “Karena takut terkena malapetaka,” kata Taufik.

Soalnya pernah ada perempuan wong Alas meninggal akibat makan racun untuk babi. San Klonang marah dan mengancam penduduk Dusun Tundagan. Esoknya 30 ekor kambing mati tanpa sebab.

Dengan misteri keberadaan wong Alas dan harmoni dengan penduduk sekitar, hutan di sekitarnya relatif terjaga. Sewaktu saya penelitian masyarakat Adat Kasepuhan Cibedug di Pegunungan Halimun, saya menemukan banyak tempat yang sama dengan nama-nama Sunda karena persentuhan dengan budaya Kerajaan Pajajaran. Ada Sungai Kahuripan (kehidupan), Sungai Ideng atau Hideung (Hitam) dan Gunung Cahyana (cahaya), Dukuh Tundagan (menunda).

Untuk menyingkap berbagai misteri tersebut, pembicara dan peserta diskusi mengusulkan ekspedisi atau penelitian secara komprehensif melibatkan berbagai pihak untuk membuktikan secara ilmiah keberadaan wong Alas. Tentu saja, ekspedisi ini hanya bertujuan untuk dokumentasi dan kelestarian alas Purbalingga yang telah menjadi penopang hidup orang-orang di sekitarnya. “Perlu arif mendekati mereka agar hutan dan manusia tetap harmonis,” kata Taufik Katamso.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.