Surat dari Darmaga | 07 Agustus 2020

Lingkungan dan Spiritualisme

Kita memakai kata “memohon” dan “memanjatkan” untuk berdoa, yang berakar dari kata "pohon". Spiritualitas dekat dengan alam.

Qaris Tajudin

Sarjana Hadits Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Kairo

LINGKUNGAN di sekitar manusia—budaya, ekonomi, sosial, bahkan alam—berpengaruh pada ekspresi spiritualitas kita. Saya tidak sedang mengatakan bahwa agama dipengaruhi oleh lingkungan, tapi cara kita menyatakan perasaan spiritual dipengaruhi apa yang ada di sekitar kita. 

Sebelum meninggalkan Hajar dan Ismail yang masih bayi di sebuah lembah tak berpenghuni dan tidak memiliki tanaman, Nabi Ibrahim berdoa terlebih dahulu. Dia memasrahkan anak dan istrinya kepada Tuhan sembari memohon agar mereka dibimbing secara spiritual.

Kata doa dalam bahasa Indonesia diambil dari kata du’a dari bahasa Arab. Banyak yang mengartikannya sebagai permohonan. Ini tentu saja tidak salah, tapi permohonan hanyalah bagian dari doa.  Du’a yang satu akar kata dengan da’wah aslinya berarti ajakan dan undangan. Jadi, doa dalam bahasa Arab punya makna mengajak Allah SWT turut serta dalam kehidupan kita. Doa adalah mengharapkan kebersamaan Tuhan.

Orang Arab memilih kata du’a dengan makna seperti itu tentu ada sebabnya. Kesendirian dan kesepian di tengah alam yang nyaris kosong—hanya ada pasir dan batu di mana-mana—memunculkan keinginan untuk ditemani. Ada dorongan agar Tuhan yang Maha Mendengar itu ada bersama mereka saat semua makhluk-Nya tak berada dalam jangkauan.

Sejumlah ekspresi spiritual lain dalam bahasa Arab juga memiliki makna semisal. Salah satunya adalah kurban atau korban. Banyak yang mengartikan kurban sebagai to sacrifice. Padahal, arti aslinya adalah mendekat. Sedangkan to sacrifice dalam bahasa Arab adalah tadh-hiyyah yang kemudian menjadi adha. Misal yang lain adalah salat yang berasal dari shillat(h), yang arti asalnya adalah terhubung.

Ini berbeda dengan kata pray dalam bahasa Inggris yang banyak dipakai sebagai terjemahan dari salat atau doa. Pray berasal dari bahasa Prancis kuno, preier, yang diambil dari bahasa Latin precari. Arti asalnya adalah memohon kesungguhan, minta agar kita memiliki kekuatan hati untuk melakukan sesuatu.

Yang menarik adalah padanan kata ini dalam bahasa Indonesia sebelum kita menyerap doa. Kita kerap memakai kata “memohon”. Ada dugaan, kata kerja ini berasal dari kata benda, “pohon”. Ini terjadi karena sebelum kedatangan agama-agama samawi ke Indonesia, masyarakat Indonesia yang sangat dekat dan lekat dengan alam, termasuk vegetasi, menjadikan pohon-pohon tertentu sebagai tempat berdoa mereka. Itulah kenapa, ada frasa “memanjatkan” doa.

Ekspresi ini tetap dipakai meski kemudian pengertiannya berubah, tidak lagi memanjatkan doa di pohon, kita tetap memakai ekspresi memohon untuk doa. Sama seperti kita tetap memakai kata sila atau silakan (ajakan untuk bersila) meski ketika memakai kata itu kita sedang meminta orang lain duduk di kursi—tentu tidak bersila.

Ini karena ekspresi spiritual sering terlepas dari doktrin keagamaan. Apa yang dirasakan seseorang saat sendiri di tengah padang pasir mungkin tidak berubah selama ribuan tahun. Demikian juga saat kita masuk ke dalam hutan dan didekap oleh vegetasi raksasa. Yang berubah adalah keyakinan religius kita dan tata cara dalam beragama.

Gambar oleh Darwis Alwan dari Pixabay.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain