Kabar Baru | 30 Mei 2020

Inspirasi dari Belajar Jarak Jauh Hutan Sosial

Belajar jarak jauh (e-learning) hutan sosial menjadi solusi pendampingan petani di masa pandemi. Layak ditiru program dalam kebijakan pemerintah yang lain.

Swary Utami Dewi

Board Kawal Borneo Community Foundation dan anggota The Climate Reality Leaders of Indonesia.

SELALU ada peluang di tengah krisis. Akibat pandemi virus corona covid-19 semua orang di seluruh dunia gelisah karena keadaan menjadi tidak menentu, termasuk program perhutanan sosial yang membutuhkan pelatihan, pendampingan bagi para petani hutan yang sudah mendapatkan izin mengelola kawasan hutan. Kebijakan pembatasan sosial membuat dua hal itu sulit diwujudkan.

Akankah corona mengalahkan kita? Bisakah virus menghambat kebijakan itu? Kita beruntung hidup di tengah teknologi yang sudah maju. Dengan Internet dan teknologi komunikasi hambatan itu bisa diatasi. Saya melihat sendiri bagaimana Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang menjadi penjaga gawang perhutanan sosial melihat peluang di tengah krisis itu dengan membuat pelatihan dan pendampingan jarak jauh.

Kita menyebutnya “e-learning” perhutanan sosial pasca izin. Memakai teknologi percakapan video yang dilengkapi dengan fitur-fitur canggih pengunggahan dokumen, pelatihan jarak jauh tahap pertama telah terlaksana pada 27 April hingga 15 Mei 2020. Tanpa hambatan berarti, saya kira, pelatihan itu sukses.

Ada sekitar 1.500 perwakilan petani hutan dan para pendamping yang mengikuti e-learning secara gratis tersebut dengan antusiasme yang tinggi. Saya menjadi tutor untuk pelatihan tahap pertama dan akan dilanjutkan tahap kedua untuk 1.500 petani berikutnya. Saya amati, kesulitan fasilitas seperti koneksi Internet tak menghalangi peserta giat dan melibatkan diri selama belajar virtual.

Metode belajar ini dirancang memudahkan pelatihan sehingga menjangkau menjangkau masyarakat sampai pelosok Maluku dan Maluku Utara. Para petani yang awalnya canggung dan was-was merasa mendapatkan pengetahuan baru setelah mengikuti pelatihan ini. Seperti Andi Samsualang, petani dari Soppeng, Sulawesi Selatan.

Andi merasa senang karena mendapatkan pelatihan memakai GPS, global positioning system, alat untuk membuat peta. “Pelatihan ini yang kami butuhkan,” katanya. Di Soppeng, tak banyak ahli yang bisa mengoperasikan dan mengimplementasikan GPS. Padahal pemetaan wilayah sangat diperlukan bagi para petani yang mengelola hutan negara karena menyangkut tata batas hutan sosial yang mereka kelola, pemetaan potensi hutan untuk menyusun rencana kerja.

Dari tahap pertama pelatihan ini, saya mempelajari beberapa hal:

Pertama, agar belajar menarik, materi mesti unik dan dikemas secara matang. E-learning menyediakan ekosistem ini. Selama empat hari para petani dan pendamping menjadi tekun dan giat karena belajar dikemas secara apik. Ada modul, ada tugas, bahan ajar, sistem teknologi, tutor yang mumpuni, hingga evaluasi pelaksanaan belajar dan tugas-tugas petani.

Kedua, materi yang disajikan membumi. Materi ini sesuai dengan kebutuhan para pendamping dan petani hutan saat melakukan kegiatan setelah mereka mengantongi akses legal perhutanan sosial. Beberapa mata pelajaran yang terbilang berat, seperti Pengelolaan Pengetahuan dan Monitoring Evaluasi, disajikan dengan memakai penyajian yang sedekat mungkin dipahami petani dengan cara memberikan contoh dan implementasinya secara riil di lapangan.

Ketiga terkait pendekatan. Karena peserta belajar jarak jauh ini orang dewasa maka metode andragogi lebih tepat dibanding pedagogi, yakni mengedepankan empati. Hubungan tutor dan peserta mula-mula harus terbangun sehangat dan secair mungkin sehingga kecanggungan dan kekhawatiran peserta bisa ditekan. Semua bersikap suportif terhadap para peserta untuk tetap menjaga semangat belajar mereka.

Keempat tim yang solid. Kesuksesan sebuah acara sering kali ditentukan oleh tim belakang layar yang sigap dan cekatan. Di balik belajar jarak jauh ini ada penanggung jawab, admin, dan sub-admin, serta para staf yang siap menyokong kegiatan belajar: dari urusan tutorial teknis hingga kelancaran jaringan komunikasi. Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia serta Direktorat Jendral Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan telah menunjukkan kemampuan kerja sama lintas eselon yang baik, yang selama ini jadi hambatan dalam banyak program pemerintah.

Sebagai tutor, saya mendapatkan pengetahuan dan banyak hal yang menyangkut pembelajaran orang dewasa. Saya belajar tentang daya juang petani dan pendamping yang tidak putus asa mendapatkan pengetahuan baru meski ada pandemi. Saya menyaksikan kerja solid tim pendukung yang bekerja tanpa lelah dan melayani dengan hati. Saya melihat kelihaian para tutor mengolah materi menjadi layak santap bagi petani hutan dan pendampingnya. Saya juga menyaksikan kolaborasi yang baik tiap orang maupun instansi.

Pandemi telah membuka kreativitas dan inovasi. Saya kira apa yang dilakukan KLHK layak ditiru dan dikembangkan oleh instansi pemerintah lain yang memerlukan pelatihan dan pendampingan dalam bidang lain, seperti nelayan, petani sawah, atau siapa saja yang memerlukan pendampingan untuk menjalankan program di tingkat tapak.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain