Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|15 Mei 2020

PSBB: Perhutanan Sosial Bakal Berjaya

Catatan tutor perhutanan sosial dalam belajar jarak jauh. Ada gairah baru mengelola hutan: seperti virus corona yang memicu PSBB, tapi dengan arti perhutanan sosial bakal berjaya.

MULANYA gamang, berikutnya ketagihan. Demikianlah perasaan saya menjadi fasilitator belajar jarak jauh perhutanan sosial bersama para pendamping dan petani hutan sosial yang sudah mendapatkan izin pada 12-15 Mei 2020. Apakah pelatihan ini bisa berjalan sementara materinya relatif berat? 

Bertempat di kantor Balai Pendidikan dan Latihan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pekanbaru, kami memulai sesi belajar online itu dengan materi model-model contoh pendampingan perhutanan sosial. Isinya berupa pendampingan tahap awal, pengelolaan dan pengembangan kawasan hutan dan lingkungan, kerja sama dan membentuk jejaring, akses modal dan pasar, juga materi tentang manajemen pengetahuan serta monitoring dan evaluasi.

Sehari sebelum belajar, para peserta harus mengunduh dan mengirimkan Catatan Belajar Mandiri (CBM). Apa yang belum dan sudah mereka pahami serta kendala pemahamannya tercatat di sana. Saya menduga, para pendamping dan petani itu akan terbebani dengan syarat itu.

Ternyata tidak. Dugaan saya meleset. Mereka dengan suka cita mengirimkan tugas mandirinya. Ketika ada hambatan di LMS Pusdiklat SDM LHK, mereka kirim lewat grup WhatsApp yang beranggotakan peserta pelatihan, panitia, tutor, nara sumber, dan widyaiswara. Waoo, ternyata belajar online ini mengasyikan...

Mengapa? Bisa jadi ini semacam “mainan baru”. Diskusi dalam ruang kelas pintar (smart room) virtual adalah hal baru bagi sebagian besar peserta dan fasilitator. Proses pembelajaran tidak kaku harus di depan meja rapi berjajar dalam kelas.

Seperti diakui Al Ahri. Sekretaris hutan kemasyarakatan Sipang Jaya Rokan Hulu ini belajar sambil berkebun. Said Faizan, Syaful, Nur Kholis, Said Mursalim, dan Datuk Somi menyimpak materi sambil rebahan di kasur gantung (hammock). Mereka pengelola hutan adat Imbo Putui Petapahan Kampar. Sementara itu Kesi Yarti dari kelompok tani hutan (KTH) Gunung Pandang Kerinci, Jambi, mengikuti kelas di dalam mobil bersama suami dan dua anaknya.

Seperti diceritakan Kang Rakhmat Hidayat, para pengelola hutan adat Baru Pelepat Bungo, Jambi, belajar memakai satu laptop setelah menempuh 70 kilometer jalan yang sulit dari dusun mereka ke kantor KPH Bungo. “Salome, satu laptop rame-rame,” kata Kang Rakhmat.

Tomi Jepisa, Martio, dan Tasmin, rombongan Kelompok Tani Hutan (KTH) Gunung Pandang Kerinci Jambi malah “hanya” memakai satu telepon seluler untuk semua orang karena mereka belum memiliki laptop.

Selama belajar, mereka semua memakai masker dan tetap jaga jarak satu sama lain. Asyik, bukan? Tetap di rumah, bahagia bersama keluarga tapi ikut aktif dalam pembelajaran. Mirip nonton bareng Piala Dunia, tapi mendapat pengetahuan. Ini barangkali yang disebut musibah membawa berkah. Pandemi virus corona covid-19 adalah musibah tapi muncul inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan belajar secara virtual ini.

Peserta sebanyak 180 orang dari pelbagai daerah: Kepulauan Riau, Riau, Sumbar, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu. Latar belakang pendidikan dan tingkat jabatan mereka sangat beragam. Dari petani hutan hingga Direktur Jenderal dan Kepala Badan menyatu dalam satu kelas virtual. Bahkan ada inspektur dari Inspektorat Jenderal KLHK yang memelototi proses belajar.

Suasana egaliter sangat terasa. Tak ada rasa canggung atau ewuh pakewuh. Semua saling menghargai. Meski semua proses pembelajaran virtual ini direkam, tidak ada yang merasa takut menyampaikan gagasan, pertanyaan, atau usulan.

Para tutor dan narasumber menyampaikan materi dengan bahasa yang dipahami petani. Bahan ajar dalam modul yang tebal-tebal dan susah dipahami itu ditransformasikan menjadi bahan diskusi yang sederhana dan merakyat. Awalnya agak gagap memang. Setelah beberapa saat materi terasa mengalir.

Saya dan teman-teman fasilitator jadi kian bersemangat ketika melihat antusiasme para petani dan pendamping. Militansi para pemegang izin perhutanan sosial ini seolah menjadi energi yang baru dalam mewujudkan “Hutan Lestari, Masyarakat Sejahtera” yang menjadi semboyan program perhutanan sosial sejak 2014.

Kelompok tani hutan mengikuti belajar virtual.

Selama ini, jargon itu terasa hanya sebatas mimpi. Tak banyak contohnya. Paling-paling kita akan menyebut HKm Kalibiru di Yogyakarta dan LPHD Burno, Senduro, di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Mana yang di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi atau Papua? Sebagian besar kawasan hutan kita sudah terdegradasi. Rusak sangat parah. Perambahan, pembalakan liar, kebakaran, dan kisah-kisah buruk lainnya. Sementara masyarakat di sekitar hutan banyak yang miskin.

Dengan belajar virtual ini, perhutanan sosial terasa memberi harapan baru. Ini konsep lama yang diharapkan menjadi alternatif resolusi konflik tenurial, meningkatkan ekonomi, dan melestarikan hutan. Dengan memiliki izin mengelola kawasan hutan, masyarakat menjadi pemain utama. Menjadi “tuan”, bukan buruh bagi pemodal seperti dulu. Dengan begitu, mereka akan menjaga hutan tetap utuh.

Konsep yang bagus ini perlu pengelola yang punya integritas dengan kapasitas mumpuni. Beberapa kali saya berjumpa pemegang izin perhutanan sosial yang bingung hendak berbuat apa setelah menerika SK. Melalui pelatihan program pendampingan ini, kebingungan mereka terjawab.

Jaringan alumni peserta pelatihan ini sebanyak 3.000 orang. Tentu ini modal jaringan yang bagus untuk kerja sama, bertukar informasi, pengetahuan, dan pengalaman mengelola hutan sosial. Maka, jika kebijakan mencegah penularan virus corona melalui PSBB, pembatasan sosial berskala besar, belajar virtual ini juga PSBB: perhutanan sosial bakal berjaya.

Widyaiswara Balai Pendidikan dan Latihan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pekanbaru

Bagikan

Komentar

Artikel Lain