Laporan Utama | Juli-September 2018

Di Balik Sampul Forest Digest Edisi Khusus Hapka 2018

Sampul yang coba menangkap masa lalu dan masa kini, kenangan dan harapan yang akan datang.

Libriana Arshanti

Anggota Dewan Redaksi, bekerja sebagai konsultan kehutanan dan lingkungan.

SEBERMULA, sampul edisi khusus ini akan diisi oleh gambar yang datang dari para pembaca. Redaksi mengedarkan sayembara membuat gambar sampul kepada para alumni Fakultas Kehutanan IPB. Temanya disesuaikan dengan pokok soal yang jadi cerita utama edisi 08 ini, yakni Hari Pulang Kampus Alumni Fakultas Kehutanan IPB.

Bagi sivitas akademika Fahutan, Hapka selalu menjadi momen besar. Selain pemilihan Ketua Himpunan Alumni yang baru, ada serangkaian acara untuk menyambutnya, dan ditutup dengan pesta jazz semalam suntuk. Maka redaksi menyiapkan Forest Digest dengan sebuah edisi khusus yang menelusuri kembali sejarah Fahutan, cerita Ospek yang mengesankan, juga kisah-kisah yang tak terceritakan selama kuliah.

Karena edisi khusus, sampul pun mesti khusus. Kami ingin menjaring semangat Hapka sebagai reuni akbar ini melalui gambar, tidak melulu foto aktual seperti edisi-edisi sebelumnya. Gambar bisa macam-macam: vinyet, lukisan, sketsa, etsa-etsa. Selain profil penggambar terpilih akan ditulis di edisi khusus itu, pemenang juga akan mendapat hadiah menarik dari redaksi.

Rupanya, pancingan dari redaksi itu kurang umpan. Tak satu pun mahasiswa atau alumni yang mengirimkan gambar sesuai kriteria dan yang diinginkan redaksi. Maka, dalam sebuah rapat pengecekan bahan, redaksi membuat rencana cadangan seaindainya tak ada kiriman gambar dari para alumni, yakni mereproduksi ulang foto lama dengan foto baru.

Karena Hapka adalah ajang reuni, dan artikel-artikel di dalamnya akan berisi kisah dulu dan sekarang, sampul juga harus mencerminkan cerita itu. Pemimpin Redaksi Bagja Hidayat lalu punya ide menggabungkan foto lama dan baru. Foto lama tetap ditampilkan, dan foto baru hanya separo foto lama berbentuk “lidah sampul”. Pose pada foto baru itu harus menirukan gaya mahasiswa yang ada di foto lama.

20180904173502.jpeg
Redaktur Foto R. Eko Tjahjono sedang memotret awak redaksi Forest Digest untuk sampul edisi khusus Hapka, Juli-September 2018.


Redaktur Foto R. Eko Tjahjono menemukan foto tua dari dokumentasi Hapka tahun 1980-an dan buku Sejarah Fakultas Kehutanan IPB yang terbit pada 2015. Dua dokumen ini memang menjadi basis redaksi menuliskan dan mewawancarai ulang sejarah Fahutan untuk edisi ini.

Foto tua itu menampilkan tujuh orang mahasiswa Fahutan sedang mejeng di depan kampus mereka di Baranangsiang. Sebelum 1969, mahasiswa eks jurusan Kehutanan kuliah di belakang gedung utama Kampus IPB Baranangsiang yang apak dan sempit. Penandanya hanya sebilah papan bertuliskan Fakultas Kehutanan. Merurut Eko, foto tersebut paling pas dan gampang direproduksi.

Tadinya ia mencari foto tahun 1960-an yang menampilkan orang dan gedung Fahutan di Dramaga. Rupanya sangat minim foto semacam ini. Ada foto Gedung Sylva pada awal dibangun milik dosen Fahutan, Bapak Soedari Hardjoprajitno, ketika arboretum belum ada, dan dijepret dari arah kanan gedung tersebut. Tapi, ukuran foto itu terlalu kecil. Eko tak berani ambil risiko mereproduksi foto dengan ukuran kecil karena akan pecah jika dijadikan sampul.

20180904173403.jpeg
Dari kiri: Dradjad Kurniadi, Bagja Hidayat, Reza Ahda, Mustofa Fato (Foto: Libriana Arshanti)

Maka, demikianlah, Eko meminta empat orang anggota redaksi yang sedang berkutat menyelesaikan desain dan tenggat penulisan edisi ini berpose di depan papan Fakultas Kehutanan di Ruang Sidang Sylva. Kebetulan, ornamen belakangnya agak mirip dengan gedung lama yang menjadi objek foto sepia itu. Idealnya, memang, Eko mencari siapa saja tokoh yang ada di foto itu untuk dijepret sekarang. Tapi tak ada yang tahu siapa saja mahasiswa yang mejeng tersebut.

Pemilihan sampul seperti ini ingin menunjukkan Fahutan zaman now dan zaman old, yang baru dan lama, yang kini dan masa lalu. Semoga ide sampul ini tak terlalu melenceng dari keinginan tersebut. Judulnya dipilih sesimpel mungkin, yakni slogan utama mahasiswa Fahutan, yang melekat dalam ingatan kolektif siapa pun yang menjadi anggota keluarga besar Rimbawan IPB.

20180904173649.png

Selamat membaca. Fahutan, ASIK!

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain