Kabar Baru | 29 April 2020

Perginya Penyayang Badak

Obituari Marcellus Adi Riyanto, peneliti badak di Indonesia. Dokter hewan yang jatuh cinta pada konservasi.

Sectionov

International Rhino Foundation

LIMA hari setelah merayakan ulang tahunnya yang ke-55, pada Hari Bumi 22 April 2020, Marcellus Adi Riyanto wafat di Kalimantan, tempat ia meneliti keajaiban temuan badak Sumatera. Masyarakat konservasi Indonesia, yang terkejut karena kepergiannya yang mendadak, mengenal dokter hewan lulusan Fakultas Kedokteran Hewan IPB angkatan 1983 ini sebagai aktivis awal yang menyerukan perlindungan badak.

Kecintaan Adi pada badak dimulai sejak ia kuliah dengan menelitinya di Kebun Binatang Ragunan Jakarta sebagai topik riset untuk skripsi. Waktu itu, meneliti satwa liar bukan topik favorit mahasiswa veteriner. Karena meneliti satwa liar, pembimbing Adi dan empat mahasiswa lain adalah dosen ahli satwa liar dari Fakultas Kehutanan: Profesor Hadi S. Alikodra.

Bersama Adi, mahasiswa lain yang meneliti badak adalah Indra Exploitasia, kini menjabat Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Jika Indra meniti karier sebagai birokrat, selepas lulus Adi meneruskan cita-citanya terjun langsung mengurus badak dengan bergabung ke Yayasan Mitra Rhino—yayasan konservasi badak pertama di Indonesia.

Penelitian badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon Banten sudah dimulai tahun 1970-an oleh WWF. Namun, hingga awal 1980 belum ada organisasi lokal Indonesia yang fokus meneliti keberadaan badak Jawa itu, juga badak-badak lain di pulau lain tentang populasi, perilaku, kerentanan akibat konflik dengan manusia akibat  berkurangnya hutan tempat hidup mereka.

Yayasan Mitra Rhino—nama ilmiah dari bahasa Latin untuk badak—bekerja sama dengan Departemen Kehutanan dan mendapatkan bantuan dari lembaga luar negeri seperti GEF dari UNDP dan donor dalam negeri untuk konservasi badak Jawa dan Sumatera. Salah satu kegiatan Yayasan Rhino yang cukup fenomenal di tahun 1994 adalah berhasil mendatangkan grup band pop dari Amerika Serikat: Air Supply.

Popularitas dua pemusik itu sampai ke Indonesia lewat lagu mereka berjudul “Good bye”. Marcellus Adi adalah salah seorang arsitek di balik kesediaan Air Supply konser di Ancol Jakarta. Tujuan konser adalah, selain bagian dari kampanye badak, juga mendatangkan donasi untuk kegiatan konservasi. Di tahun 1990, menggalang donasi perlindungan satwa liar melalui konser musik belum terlalu umum. 

Pada 1998-1999, Yayasan Mitra Rhino menggagas pembangunan Suaka Rhino Sumatera (SRS) di Taman Nasional Way Kambas Lampung.  Yayasan mengirim Marcellus Adi bekerja di sana sebagai veteriner yang juga bermitra dengan masyarakat dalam konservasi hewan besar itu. Dua tahun kemudian Adi menjadi manajer Suaka Rhino Sumatera karena menjadi yayasan tersendiri agar fokus mengurusi badak Sumatera.

Selama di Lampung, dari tangan dia dan kepemimpinannya di Suka Rhino banyak informasi badak Sumatera yang mengalir hingga kita mengetahuinya hari ini. Adi memimpin Suaka Rhino hingga 2009. Ia lalu mendirikan Yayasan Aliansi Lestari Rimba Terpadu (AleRT) yang fokus pada restorasi hutan di sekitar Way Kambas dan memasang kamera pengawas untuk mempelajari perilaku badak Sumatera.

Kementerian Kehutanan dan WWF Indonesia meminta Adi hijrah ke Kutai Barat di Kalimantan Timur menyusul temuan habitat badak Sumatera di pulau ini. Pada akhir 2016, kamera pengawas menangkap seekor badak Sumatera di hutan Kalimantan. Temuan ini mematahkan kesimpulan para ahli hewan liar dunia yang menyatakan badak Sumatera di Kalimantan telah punah sekaligus sebagai bukti baru bahwa Kalimantan dan Sumatera pernah menjadi satu daratan.

Karena pengalamannya membangun suaka badak di Way Kambas, Adi diminta membuat desain suaka badak Sumatera di Kalimantan. Bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur, WWF Indonesia, perguruan tinggi, perusahaan, Adi bahu membahu menjalankan konservasi badak hingga berdiri Kalimantan Rhino Sanctuary seluas 500 hektare.

Setelah kerja sama WWF dan Kementerian Lingkungan selesai tahun lalu, Yayasan AleRT meneruskan usaha konservasi anak badak Sumatera yang berhasil ditangkap dan masuk program konservasi. Adi yang menangani langsung keberlangsungan hidupnya.

Marcelus Adi C.T Riyanto (22 April 1965-27 April 2020).

Anak badak yang berada di suaka ini diberi nama Pahu. Berat ketika masuk suaka setelah karantina pada 2019 sekitar 360 kilogram dengan tinggi 101 sentimeter. Dilihat dari struktur giginya, badak betina ini diperkirakan berusia 25 tahun. Pahu beruntung bisa diselamatkan karena Najaq, bayi badak Sumatera lain, tewas akibat luka parah karena jerat di kakinya.

Kepergian Adi yang mendadak membuat duka di kalangan pegiat konservasi. Tapi semangatnya telah memberi pelajaran kepada kita bahwa konservasi satwa liar adalah perjuangan menyelamatkan planet ini yang menyenangkan sekaligus tak mengenal selesai.

Adi telah melakukan hal berharga dalam hidupnya dengan menghabiskan waktu dan cinta kepada badak. Dalam konservas,i hewan ini disebut hewan payung. Artinya, melindungi badak sama saja dengan melindungi hewan besar lain. Sebab badak memerlukan hutan. Jika melindungi badak maka kita akan menjaga hutannya yang menjadi habitat bagi hewan besar lain.

Survei Taman Nasional Ujung Kulon pada 2017 hanya mendapatkan badak Jawa di hutan ujung barat Jawa ini hanya 67 ekor, 37 jantan 30 betina. Jumlah dan rasio ini tak ideal untuk menjaga habitat dan perkembangbiakan badak. Sebab, badak adalah hewan jenis allee effect--mereka akan musnah karena tabiat alamiahnya yang jarang kawin, lama berketurunan, dan jumlah kelahirannya sedikit.

Maka apa yang dilakukan Marcellus Adi sepanjang hidupnya jadi terasa kian berharga. Ia mengabdikan hidup menjaga hewan yang hampir punah yang berperan sebagai penyeimbang planet ini.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain