Surat dari Darmaga | 03 April 2020

Perubahan Iklim Dalam Al-Quran

Al-Quran sudah mengingatkan bahaya perubahan iklim dan pemanasan global. Virus corona Covid-19 menghentikan aktivitas manusia yang membuat alam kembali pulih.

Qaris Tajudin

Sarjana Hadits Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Kairo

EMPAT bulan pandemi virus corona Covid-19 telah berhasil mengubah banyak hal di bumi ini. Langit menjadi lebih cerah, timbunan emisi gas buang di atmosfer jauh berkurang, sejumlah sungai dan kanal di Italia menjadi lebih jernih, banyak hewan liar yang keluar dari persembunyiannya dan berjalan-jalan dengan bebas di permukiman manusia.

Bencana ini kemudian menyadarkan kita bahwa banyak hal telah berubah di bumi ini karena perbuatan kita selama ini. Ekonomi yang dipacu begitu cepat dan masif menjadi faktor utamanya. Dan begitu kita mengurangi aktivitas tersebut, perlahan alam kembali berubah ke kondisi semula.

Sebenarnya sudah lama para ahli mengingatkan akan terjadinya perubahan iklim. Perubahan yang tidak hanya berdampak pada naiknya suhu rata-rata bumi, tapi juga mengakibatkan banyak hal berubah, mulai dari hilangnya terumbu karang sebagai rumah ikan, naiknya permukaan laut, mencairnya es di kutub, hingga cuaca yang susah diramal, karena musim yang datang tak menentu.

Hal ini sebenarnya pernah terjadi di masa Firaun, sekian ribu tahun yang lalu. Dalam surat Al-A’raf ayat 130, Allah berfirman: "Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Firaun dan) kaumnya dengan musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran."

Kita tidak tahu apa yang terjadi di saat itu hingga musim kemarau begitu panjang. Perubahan cuaca yang terjadi mungkin bersifat lokal, karena saat itu perubahan iklim belum mengglobal seperti saat ini. Mungkin ada kerusakan yang mereka lakukan hingga Sungai Nil yang menjadi satu-satunya sumber air di Mesir (tempat Firaun berkuasa) berkurang alirannya.

Yang jelas, ayat itu memberikan pelajaran kepada kita untuk memperhatikan cuaca dan tidak merusak keseimbangannya. Kalimat “supaya mereka mengambil pelajaran” tidak hanya ditujukan kepada  Firaun dan rakyatnya, tapi juga kepada kita semua. Bagaimanapun juga kisah itu diceritakan dalam Al-Quran supaya kita yang membacanya di kemudian hari, ikut mengambil ibrah atau pelajaran.

Kewajiban bagi kita memperhatikan musim juga tertuang dalam surat Al-Quraisy. Allah menceritakan tentang kebiasaan orang-orang Quraisy yang bepergian di musim dingin dan panas untuk mendapatkan makanan dan rasa aman. Bayangkan seandainya musim berubah dan orang tak bisa lagi menjadikan musim, yang berganti dengan teratur, sebagai perangkat mendapatkan makanan dan rasa aman.

Rasa aman di ayat 4 surat tersebut muncul karena adanya keteraturan musim. Keteraturan yang membuat kita tahu kapan harus menanam, memanen, memperdagangkannya, dan lain sebagainya. Perubahan iklim akan membuat keseimbangan yang berubah dan rasa aman dan makanan pun berubah.

 “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (Al Baqarah (2) : 164)

Gambar oleh Simon Matzinger dari Pixabay.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain