Laporan Utama | Juli-September 2018

"Ini Soal Hidup dan Mati"

Pidato Bung Karno ketika meletakkan batu pertama Kampus IPB Baranangsiang. Seharusnya gedung ini dirancang Frederich Silaban.

Fitri Andriani

Alumni Fakultas Kehutanan IPB, kontributor lepas, dan wirausahawan produk ramah lingkungan.

GEDUNG Kampus IPB Baranangsiang merekam sejarah panjang perjuangan pendidikan Indonesia, rasialisme melawan penjajah, hingga kisah di balik gejolak politik rezim Orde Lama. Sebermula, nama gedung kampus itu CV De Condor, yang dibangun Belanda yang kemudian dipakai menjadi tempat belajar Fakultas Pertanian Universitas Indonesia. 

Setelah kemerdekaan 1945, pemerintahan Soekarno memugar bangunan lama menjadi bangunan baru bergaya Belanda. Itu karena arsiteknya merupakan arsitek asal negara itu. Arsitek itu dinyatakan sebagai pemenang sayembara dengan sebuah skandal yang memalukan.

Mereka sesungguhnya tak berhak menjadi arsitek gedung Fakultas Pertanian itu. Sebab pemenangnya adalah Frederich Silaban, lulusan STM dan setahun belajar arsitek di Akademie der Beeldende Kunsten di Amsterdam. Dialah arsitek kelahiran Bonandolok, Sumatera Utara, yang terkenal karena merancang dan membangun Masjid Istiqlal di Jakarta.

Demikianlah Gedung IPB Baranangsiang, jika Silaban yang merancangnya. Seperti tercantum dalam buku Sejarah Singkat Fakultas Kehutanan IPB (2013) ia menang dalam sayembara itu karena mengajukan sebuah rancangan futuristik berupa susunan lego agar gedung itu bisa tumbuh jika ingin ada penambahan tanpa menghilangkan fondasinya. Panitia menunjuk konsorsium dari Zandaam dan Volendam yang mengajukan proposal pembangunan gedung masif.

Silaban dikalahkan hanya karena ia arsitek lokal dan bukan lulusan penuh sekolah tinggi di Belanda. Lobi-lobi arsitek Belanda itu yang menggoyahkan panitia menggugurkan kemenangan arsitek kelahiran 1912 yang menjadi kesayangan Presiden Sukarno ini. Silaban yang tinggal di Bogor kemudian membangun rumah dinas Wali Kota Bogor yang ada di seberang Kebun Raya Bogor itu.

Fakultas Pertanian merupakan reinkarnasi dari Faculteit van Landbouwwetenschap atau Lembaga Pendidikan Tinggi Pertanian pada 1950 dengan dua jurusan: pertanian dan kehutanan. Sekolah ini sempat ditutup semasa pendudukan Jepang antara 1942-1945. Cikal bakal perguruan tinggi ini berasal dari pemerintah kolonial Belanda yang membutuhkan juru ukur tanah dan penyuluh kehutanan.

Setelah dihidupkan kembali pada 1945, lembaga pendidikan tinggi ini dilebur menjadi bagian Universitas Indonesia di Depok. Ketika Presiden Sukarno berinisiatif membangun universitas khusus pertanian, lembaga pendidikan tinggi ini memisahkan diri dan digabungkan dengan Diergeneeskundige Faculteit atau Sekolah Dokter Hewan Bogor yang ada di Taman Kencana.

20180907114937.jpg

Batu pertama oleh Presiden Sukarno.

Saat peletakan batu pertama pembangunan Gedung IPB Baranangsiang pada 27 April 1952, Sukarno menulis di batu prasasti itu, “Soal Hidup dan Mati”. Ini adalah judul pidato Sukarno dalam peletakan batu pertama itu. Ia menyoroti problem terbesar Indonesia di tahun itu, yakni krisis pangan. Dalam hitungannya, Indonesia defisit 0,7 juta ton beras untuk menghidupi 75 juta penduduknya yang butuh 86 kilogram beras per tahun per orang.

Indonesia, kata Sukarno, terpaksa mengimpor beras dari Saigon dan Siam untuk menutup kekurangan itu. Dengan jumlah yang tekor itu jumlah konsumsi kalori penduduk Indonesia hanya 1.700. Padahal, untuk menjadi maju tiap-tiap orang harus makan setidaknya 2.250 kalori. “Jadi soal makanan rakyat ini soal hidup dan mati,” katanya. “Maka kalian para pemuda dan pemudi harus menjadi pelopor revolusi pembangunan ini.”

Sukarno amat berharap, para ilmuwan di Fakultas Pertanian itu menyelesaikan soal genting makanan rakyat ini melalui penelitian dan penyuluhan agar petani bisa lebih memberdayakan lahannya. “Politik bebas, prijsstop, keamanan, masyarakat adil dan makmur, semua itu omong kosong belaka selama kita kekurangan bahan makanan dan harga beras kian naik jika kita terus adu cemooh dan sinisme,” katanya.

20180914121012.jpeg

Profesor Ir. A.H Verkyul, Ketua Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian UI (1955-1958).

Jurusan Kehutanan setelah gedung jadi itu dipegang oleh Profesor Ir. A.H Verkyul yang menjabat antara 1955-1958. Dosennya ada enam, semua orang Belanda: Profesor P.K.M Steuf, Profesor C. Gartner, Profesor E. Juta, Profesor F. Versteegh, Profesor J. Becking, dan Hollerworger.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain