Kabar Baru | 09 Desember 2019

Melindungi Hutan Lindung dengan Memanfaatkannya

Cerita dari Desa Aik Berik, Lombok Tengah. Penduduk masuk hutan untuk memanfaatkan arealnya, tapi hutan jadi terlindungi.

Redaksi

Redaksi

AIR terjun di Desa Aik Berik tak punya mata air. Bergalon-galon air itu muncul dari rekahan perut bumi sepanjang 200 meter yang mengelingi lembah Aik Berik di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Kawasan ini berada di kaki Taman Nasinonal Gunung Rinjani. Karena muncul dari sela-sela batu, air tumpah tak satu pintu, melainkan merembet membentuk garis seperti benang turun. “Karena itu kami menyebutnya Air Terjun Benang Kelambu,” kata Marwi, penduduk desa.

Pada 1998, Marwi menjadi pejabat desa. Sebagai penduduk yang lahir besar di Aik Berik, ia sudah lama mengusulkan agar pemerintah memberikan akses kepada penduduk masuk hutan. Soalnya, penduduk sekitar 1.000 keluarga itu mengandalkan hidup dari hutan-hutan sekitarnya. Tapi paradigma pengelolaan hutan kala itu masih berpatokan pada kemurnian alam. Siapa pun yang bukan organ negara masuk ke kawasan hutan, apalagi memanfaatkan arealnya, akan dicap perambah dan dikejar polisi hutan.

Beruntung, di NTB kekakuan itu tak berlangsung lama. Ketika pemerintah mengadakan proyek padat karya penghijauan di Gunung Rinjani, Dinas Kehutanan NTB mendengar usul Marwi dan warga desa. Pejabat Dinas yang punya kelebihan uang Rp 50 juta dari proyek itu setuju membangun jalan dan infrastruktur yang bisa membuka akses ke lokasi air terjun Benang Kelambu itu.

Air terjun Benang Kelambu yang keluar dari patahan perut bumi di Desa Aik Berik, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Uang sebanyak itu cukup membuat jalan lebar dua meter 3 kilometer yang menghubungkan akses desa dengan lembah itu. Setelah selesai membangun jalan pemerintah juga membangun trek ke air terjun, terutama setelah pengunjung ke air terjun ini mulai berdatangan dan menjadi penghasilan tambahan bagi penduduk desa dengan memungut karcis.

Uangnya dikelola oleh desa dengan membentuk kelompok Rimba Lestari. Kelompok inilah yang mengatur pengelolaan ekowisata air terjun, sekaligus menjaganya. Menurut Marwi, kini air terjun memberi penghasilan individu kepada 200 penduduk desa yang menjadi pemandu turis, penjaga areal wisata, hingga pedagang. “Umumnya anak-anak muda,” kata Marwi.

Para orang tua, sementara itu, mengajukan izin perhutanan sosial untuk menggarap areal hutan lindung. Mereka menanami buah-buahan dan tanaman berkayu seperti sengon. Dinas Kehutanan mengizinkan mereka masuk hutan dengan syarat menjaga kawasannya dari kebakaran dan perambahan. “Kami support dengan pengadaan bibit,” kata Madani Mukarom, Kepala Dinas Kehutanan NTB.

Awal pembukaan lahan, kata Marwi, penghasilan per keluarga kelompok Rimba Lestari hanya Rp 300 ribu per bulan karena buah-buahan tak menghasilkan terlalu banyak. Kini, setelah bibit disuplai pemerintah dan mereka fokus menggarap kebun, penghasilan per keluarga dari 2 hektare lahan Rp 3 juta hingga Rp 5 juta jika sedang panen.

Menurut Marwi, izin perhutanan sosial yang mereka dapatkan pada 2007 membuat kehidupan ekonomi masyarakat Desa Aik Berik terangkat. Anak-anak kini sekolah dan kesejahteraan 1.042 kepala keluarga Rimba Lestari melewati garis kemiskinan yang ditetapkan Badan Pusat Statistik. “Sekarang relatif bagus karena penghasilan buah-buahan sudah tetap,” kata dia.

Izin perhutanan sosial juga membuat mereka tenang berkebun, tak lagi cemas dianggap perambah dan diusir polisi hutan. Sebab, dengan mengelola hutan, tiap penduduk terdorong melindungi kawasan Rinjani. Total luas hutan yang dikelola 842 hektare. “Ekowisata juga mulai berkembang tapi ini dikelola oleh desa,” kata dia.

Tarif masuk ke air terjun ini Rp 10.000 per orang. Pengunjungnya padat jika libur, termasuk oleh para turis asing yang datang ke sana untuk mandi dan berendam. Pengurus desa lalu membuatkan kolam dan fasilitas mandi, cuci, kakus di kawasan air terjun. Sehingga mereka yang selesai mandi bisa membersihkan diri di toilet.

Keterangan fenomena geologi air terjun Benang Kelambu di Desa Aik Berik, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Marwi mengatakan, selama ia hidup di Aik Berik, air terjun itu tak pernah surut meski kemarau. Kini mereka berencana memanfaatkan aliran air dari air terjun yang masuk ke sungai menjadi sumber energi generator pembangkit listrik untuk menerangi desa-desa di sekitarnya dan setrumnya dijual ke PLN. “Ada Profesor Watanabe dari Jepang mengatakan bahwa air terjun seperti ini hanya ada dua di dunia: di sini dan di Jepang,” kata Marwi.

Keunikan itu yang membuat turis datang berduyun ke Aik Berik. Seperti kata Madani Mukarom, Aik Berik adalah contoh pengelolaan hutan lestari yang melibatkan masyarakat sekitar hutan. Dengan mengajak mereka berpartisipasi, hutan terjaga, warga desa sejahtera.

Tonton videonya:

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.