Laporan Utama | Juli-September 2018

Dari Kuis Ketok ke Kuis Tetot

Meja-meja rusak karena diketok saat ujian. Bikin kaget.

Libriana Arshanti

Anggota Dewan Redaksi, bekerja sebagai konsultan kehutanan dan lingkungan.

BAGI mahasiswa Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, kuis ketok  memberi kenangan unik karena lucu dan genting. Lucu karena tradisional, genting karena acap membuyarkan konsentrasi. Kuis ketok biasanya dipakai saat ujian praktikum Dendrologi atau ilmu mengenal jenis-jenis pohon dengan cara mengidentifikasinya lewat daun dan ranting. 

Disebut kuis ketok karena batas waktu menjawab satu pertanyaan terdengar lewat ketokan di papan tulis. Sewaktu belum ada spidol, ketokan itu memakai penghapus papan tulis. Lalu menjadi pemukul meja. “Saya angkatan 16 masuk tahun 1980, sudah ada ujian ketok,” kata Iwan Hilwan, salah satu pengajar mata kuliah Dendrologi, bulan lalu.

Di zaman Iwan, saat ujian atau kuis ketok ini mahasiswa berpindah ke daun berikutnya begitu terdengar bunyi ketokan di meja. “Jadi orangnya yang pindah, bukan daunnya,” kata dia. Durasi antar ketokan tak sampai satu menit. Dalam waktu yang sempit itu mahasiswa harus menuliskan nama dagang sebuah pohon plus nama Latin, genus, dan kerajaannya, dengan cara mengamati keunikan daun, arah buku-buku jarinya, hingga aromanya.

Menurut Iwan, kuis ketok ditujukan untuk menguji ingatan mahasiswa terhadap jenis-jenis pohon yang populer. Juga mengenalkan metode ilmiah pengenalan jenis pohon begitu mereka terjun ke lapangan kerja. “Paling minimal bisa membuat herbarium,” katanya.

Saat praktikum para mahasiswa biasanya diminta menggambar daun-daun tersebut di atas kertas kerja dan menuliskan nama-nama Latin serta fungsi utama dan keunggulannya. Pengetahuan di kelas dan saat praktik ke lapangan bertemu daun sesungguhnya itulah yang diuji dalam ujian ketok.

Selama menjadi dosen pengampu mata kuliah ini, kata Iwan, mahasiswa Fahutan umumnya punya nilai baik. Meski jadi momok tiap mahasiswa, jarang ada yang tak lulus mata kuliah ini. “Nilai umumnya antara 70 sampai 80,” kata dia.

Belakangan kuis ketok Dendrologi berubah cara. Bukan orangnya yang berpindah, melainkan daunnya yang bergerak di atas meja bundar yang bisa diputar. Cara ini agak kurang efektif karena mahasiswa terakhir hanya mendapat rantingnya saja karena daunnya sudah habis diremas dan dihidu oleh mahasiswa sebelumnya.

Sebab, ketika orang yang bergerak pun, mahasiswa di akhir acap tak bisa menjawab soal terakhir karena tak bisa mengidentifikasi daun yang sudah rusak. “Di zaman saya, mahasiswa rebutan menjadi nomor pertama ketika ujian Dendrologi agar bisa kebagian daun yang utuh,” kata Yulita Vitalis, angkatan 27.

Menurut Iwan, sebetulnya bukan hanya Dendrologi yang menerapkan kuis ketok. Mata kuliah Perlindungan Hutan juga memakai kuis ketok ketika ujian praktikum pengenal serangga dan hewan-hewan bawah tanah. Bedanya, jika Dendrologi daunnya segar, serangga berupa spesimen. 

Belakangan, mata kuliah Perlindungan Hutan tak lagi memakai kuis ketok dan ujian pengenalan hewan itu hanya melalui gambar. Hanya ujian Dendrologi yang masih bertahan memakai kuis ketok. Itu pun bukan lagi meja yang dipukul. “Sudah diganti bel karena fakta membuktikan banyak meja yang rusak akibat dipukul,” kata Iwan.

Selain itu, kuis ketok yang memakai pemukul dan meja membuat kaget mahasiswa yang paling dekat dengan pengawas. Bayangkan saja, sedang pusing memikirkan jari-jari daun dan mengingat nama dagang dan nama Latin sebuah pohon, tiba-tiba menggelegar bunyi meja dipukul di dekat telinga. Buyar sudah konsentrasi untuk soal berikutnya.

Dengan bel, kata Iwan, pelantang suaranya bisa ditaruh di tengah ruangan sehingga tak membuat kaget dan mahasiswa mendengar suara batas waktu itu secara merata. Hanya saja, agaknya, kuis ketok mesti berubah nama menjadi “kuis tetot”.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain