Laporan Utama | Juli-September 2018

HAPKA: Pesta Sampai Bosan

Hari Pulang Kampus muncul tahun 1980. Untuk mengenang kuliah dan hari-hari yang menyenangkan.

Rina Kristanti

Penjelajah bentang alam dan voluntir pelestarian lingkungan.

PULANG dari Amerika Serikat di tengah studi doktoralnya karena dipanggil rektor menjadi pengajar di Fakultas Kehutanan IPB pada 1964, Rudy Tarumingkeng tak hanya membawa ilmu soal mengelola hutan. Ia membawa pengalaman-pengalaman selama studi di Duke University. 

Salah satunya adalah hubungan para alumni dan almamaternya yang tak putus setelah lulus. Rudy diangkat menjadi Dekan Fakultas Kehutanan, dekan keempat pada 1968-1971. Dua tahun sebelumnya ia menjadi presidium Dekan hingga 1967 setelah kisruh politik 1965 yang merembet ke dalam kampus.

Rudy ingin meniru kebiasaan alumni Duke University, yakni berpesta di kampus mengenang masa-masa kuliah. Di awal masa jabatan periode kedua menjadi Dekan, ia mencetuskan ide membuat “Home Coming Day”. “Acaranya kumpul-kumpul, kangen-kangenan, mojok di sana-sini, nyanyi-nyanyi, menari, sulap selama dua-tiga hari sampai bosan,” kata Rudy, alumni Fahutan angkatan 1955, bulan lalu.

Home Coming Day pertama terjadi pada September 1970. Ketua Panitianya adalah Darwis Suharman Gani, mahasiswa seangkatan Rudy Tarumingkeng, yang lulus tahun 1966. Angkatan 1955 adalah angkatan enam jurusan Kehutanan yang masih jadi bagian Universitas Indonesia atau angkatan minus 8 jika menghitung tahun lahir IPB.

Di HCD pertama, Suwarno Sutarahardja menjadi Koordinator Keamanan. Waktu itu ia sudah menjadi dosen muda di Fahutan. Ia, kini 73 tahun, masih ingat acara kumpul-kumpul alumni itu digelar di Baranangsiang dan Dramaga selama tiga hari. Para alumni yang hadir lumayan banyak, sekitar 200 orang. Datang sendiri atau rombongan bersama keluarganya.

Selain untuk alumni, kata Suwarno, panitia menyediakan acara-acara untuk anak dan istri para alumni Fahutan. Acaranya macam-macam, belajar menyulam, pelatihan hidroponik, kursus kecantikan, kunjungan ke Istana Bogor, dan seminar-seminar motivasi. Sementara untuk alumni lebih banyak lagi. “Lomba teriak, memotong kayu dengan mesin maupun manual, meniti batang kayu, gaple, sampai lomba dayung di Situ Gede,” katanya.

Di tahun-tahun berikutnya Home Coming Day digelar secara rutin tiga tahun sekali setiap September. Biasanya, bulan September adalah bulan wisuda di IPB. Di Fahutan wisuda sarjana itu disebut Pemanenan, merujuk pada waktu matang pohon ketika ditebang. HCD biasanya disesuaikan dengan acara pemanenan.

Namanya pun berubah. Seingat Suwarno, HCD berubah menjadi Hari Pulang Kampus pada acara kumpul alumni tahun 1982 atau pada HCD kelima, terutama setelah terbentuk Himpunan Alumni Fahutan. Karena pengurus dan organisasi HAE sudah jadi, kepanitiaan juga beralih kepada alumni, bukan para dosen dan pegawai Fahutan lagi.

20180906012108.jpg

Hapka 1989.

Hari Pulang Kampus kemudian terkenal disebut Hapka hingga hari ini dengan puncak acara pemilihan Ketua Himpunan Alumni E. Tahun ini Hapka menginjak edisi yang ke-17. Semangat dan acaranya masih sama, yakni pesta para alumni selama dua hari penuh.

Adjat Sudradjat menyarankan agar Hapka tak hanya sekadar pesta alumni, melainkan menghasilkan kertas pemikiran untuk diusulkan kepada pemerintah. “Lingkungan Hidup dan Kehutanan digabungkan itu salah besar, alumni harus bersuara,” kata alumni angkatan 1969 yang akrab disapa Kang Kromo ini.

Kang Kromo pernah menjabat Direktur Jenderal Planologi Kehutanan dan Perkebunan pada 1999-2000. Menurut dia, para alumni Fahutan perlu bersiasat agar suaranya didengar pemerintah. Salah satunya menelurkan pemikiran lalu beraliansi dengan alumni fakultas kehutanan dari universitas lain. “Bahwa nanti tidak didengarkan, itu soal lain,” kata dia. “Hapka harusnya menggodok dan menghasilkan hal-hal seperti ini.”

Pemikiran tentang usul-usul terhadap pembangunan kehutanan, kata Kang Kromo, bisa dilakukan melalui penjaringan ide sejak dari komisariat daerah (Komda). Komda-Komda di seluruh Indonesia yang menjadi tempat berhimpun alumni di daerah bisa mengajukan pemikiran tersebut dan diajukan ke Himpunan Alumni untuk digodok saat Hapka.

Usul Kang Kromo sejalan dengan pendapat Profesor Kurnia Sofyan, pengajar Kimia Kayu di jurusan Teknologi Hasil Hutan. Angkatan 1962 ini menganjurkan agar Hapka menjadi momentum bagi rimbawan untuk refleksi diri terhadap pengelolaan hutan. “Setelah merasakan nikmat materi dari pemanfaatan hutan, hendaknya para alumni memikirkan bagaimana hutan Indonesia dapat dikembalikan dan dikelola secara lestari,” kata dia.

Bagi Profesor Kurnia, hutan bisa menjadi model pembangunan lestari untuk menjadi contoh pemanfaatan pada aspek-aspek lain sehingga Indonesia bisa mandiri, tak tergantung kepada negara lain. “Gunakan Hapka sebagai momen pertukaran informasi terkait perkembangan teknologi pengolahan hasil hutan, sistem pengelolaan hutan produksi lestari dan update kondisi kehutanan saat ini,” kata dia.

Robi Waldi dan Fitri Andriani berkontribusi dalam laporan ini.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain