Kabar Baru | 09 Agustus 2019

Orang Indonesia Paling Senang di Asia

Survei Gallup 2019 menunjukkan orang Indonesia paling senang dan banyak tertawa dibanding warga negara lain di Asia. Hidup cuma mampir minum di warung kopi, kan?

Redaksi

Redaksi

JANGAN lupa bahagia. Kalimat sederhana yang acap beredar di media sosial ini begitu kuat, sebuah pesan agar kita senantiasa berusaha mencapai kebahagiaan. Sebab bahagia adalah tujuan utama kita hidup di dunia. Orang Indonesia telah melakukannya.

Meski politik acap ruwet, kendati ekonomi bisa mandek, atau pertikaian di media sosial bisa keras dan tajam dalam berebut dukungan calon presiden, orang Indonesia rata-rata masih bisa tertawa. Survei terbaru Gallup menunjukkan Indonesia satu-satunya negara Asia dalam 10 besar yang orang-orangnya memandang hidup dan dunia dengan lebih positif.

Indeks kepuasan hidup orang Indonesia menempati urutan ke-6 dengan skor 83. Indonesia nyempil di antara sembilan negara lain yang seluruhnya berasal dari Amerika Latin. Survei ini juga membuktikan merasa senang dengan hidup sehari-hari bisa tak berhubungan dengan keadaan negara dan layanan birokrasi. Sebab merasa senang adalah soal bagaimana pikiran positif bekerja.

Tak ada satu pun negara Skandinavia yang masuk 10 besar. Padahal, dalam pelbagai survei sebelumnya, negara Nordik seperti Norwegia atau Finlandia selalu menempati urutan teratas negara yang penduduknya bahagia jika dihubungkan dengan demokrasi, sistem politik dan pemerintahan, serta sistem layanan negara kepada masyarakatnya.

Negara-negara Amerika Latin yang layanan birokrasinya terpuruk justru masyarakatnya masih bisa tertawa dan memandang masalah dengan lebih ringan. “Orang Amerika Latin mungkin tidak selalu menilai kehidupan mereka yang terbaik, seperti negara-negara Nordik, tetapi mereka tertawa, tersenyum, dan menikmati hidup,” kata Jon Clifton, Global Managing Partner Gallup.

Survei ini dilakukan di 143 negara dengan melibatkan 151.000 responden orang dewasa. Pertanyaan untuk mengukur indeks kepuasan adalah:

  • Apakah Anda merasa cukup istirahat kemarin?
  • Apakah Anda diperlakukan dengan hormat sepanjang hari kemarin?
  • Apakah Anda banyak tersenyum atau tertawa kemarin?
  • Apakah Anda belajar atau melakukan sesuatu yang menarik kemarin?
  • Apakah Anda mengalami perasaan berikut selama banyak hari kemarin? Bagaimana dengan kesenangan?

Sementara pertanyaan untuk mengukur ketidakpuasaan adalah:

  • Apakah Anda mengalami perasaan berikut selama banyak hari kemarin? Bagaimana dengan sakit fisik?
  • Apakah Anda mengalami perasaan berikut selama banyak hari kemarin? Bagaimana dengan kekhawatiran?
  • Apakah Anda mengalami perasaan berikut selama banyak hari kemarin? Bagaimana dengan kesedihan?
  • Apakah Anda mengalami perasaan berikut selama banyak hari kemarin? Bagaimana dengan stres?
  • Apakah Anda mengalami perasaan berikut selama banyak hari kemarin? Bagaimana dengan amarah?

Parameter pengukurannya meliputi kecemasan, kegelisahan, kesedihan, stres, kebahagiaan, sakit. Sebanyak 7 dari 10 orang mengatakan mereka tersenyum dan tertawa (74%), merasa senang (71%), merasa cukup istirahat (72%), dan mendapat perlakukan secara hormat (87%). Secara keseluruhan indeks kepuasan hidup dalam survei ini sebesar 71, angka tertinggi sejak 2015.

Indeks Pengalaman Positif (Sumber: Gallup, 2019)

Artinya, penduduk dunia umumnya merasa senang dengan banyak senyum dan tertawa. Survei ini mengkonfirmasi tesis Steven Pinker dalam buku Enlightenment Now atau Hans Rosling lewat Factfulness. Keduanya menunjukkan salah sangka umumnya perasaan orang di dunia bahwa keadaan sedang memburuk. Dengan statistik dan argumen yang meyakinkan, keduanya mentimpulkan dunia sudah lebih baik dibanding 100 tahun lalu dalam pelbagai hal.

Selain 10 negara paling senang, 10 negara paling tidak senang didominasi negara-negara Asia dan Timur Tengah seperti Mesir, Belarus, Yaman, Bangladesh, Turki, dan penduduk yang merasa paling buruk adalah Afganistan dengan skor 43. “Ini mencerminkan betapa dahsyatnya siklus negatif kemiskinan dan kekerasan bagi pengalaman sehari-hari warga Afganistan,” kata Clifton.

So, apakah Anda tersenyum dan tertawa terbahak-bahak kemarin? Jangan lupa bahagia, ya...

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.