Kabar Baru | 16 Juni 2019

Emisi Karbon Deforestasi dan Degradasi Hutan Berkurang

Angka emisi karbon yang terverifikasi melampaui perkiraan pemerintah Norwegia. Kembali ke jalur yang benar.

Redaksi

Redaksi

PEMERINTAH Indonesia kembali ke jalur yang benar dalam pengurangan emisi karbon akibat deforestasi dan degradasi lahan. Setelah dua tahun tak berhasil melampaui garis batas emisi yang diizinkan dalam perjanjian dengan Kerajaan Norwegia, perhitungan emisi karbon dari dua jenis kerusakan hutan dan lahan tersebut kembali tercapai untuk tahun 2017.

Dari laporan Direktorat Jenderal Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang diterbitkan Mei 2019, Indonesia bisa menurunkan emisi hingga 7,4 juta ton setara karbon dioksida. “Ini adalah komitmen kami dalam meratifikasi Perjanjian Paris 2016 dalam menurunkan emisi dengan melindungi hutan alam dan gambut,” kata Direktur Jenderal Perubahan Iklim Ruandha Agung Sugardiman dalam pengantar laporan itu.

Pengurangan hingga 7,4 juta ton itu melampaui, atau hampir dua kali lipat, perkiraan pemerintah Norwegia sebesar 4,8 juta ton setara karbon. Pemerintah Indonesia dan Norwegia belum sepakat soal harga per ton karbon. Norwegia menawar US$ 5 per ton, sementara pemerintah Indonesia menginginkan US$ 10-11 per ton karbon yang bisa dikurangi. 

Angka 7,4 juta ton itu berasal dari pengurangan emisi dari deforestasi sebesar 8.597.611 ton atau 3,63 persen batas emisi yang diizinkan dalam kerja sama sebanyak 278,5 juta ton setara karbon. Artinya, emisi karbon dari deforestasi pada 2016-2017 sebanyak 236. 947.440 ton. Sementara emisi dari degradasi lahan sebanyak 441.551.481 ton atau lebih tinggi 1.191.560 dari batas yang diizinkan (- 2,87 persen). Walhasil, total penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi lahan sebanyak 7,4 juta ton tersebut setara 2,66 persen dari target dalam perjanjian dengan Norwegia.

Sejak perjanjian kerja sama pengurangan emisi dengan Norwegia itu, dengan hibah Norwegia senilai US$ 1 miliar, Indonesia baru empat kali mencapai target menekan emisi dari deforestasi dan degradasi lahan, yakni 2010-2011, 2011-2012, dan 2013-2014. Kebakaran hebat hutan dan lahan gambut pada 2015 membuat angka emisi karbon kembali melonjak di atas 278,5 juta ton setara karbon.

Produksi emisi

Deforestasi dan degradasi lahan menjadi penyumbang terbesar dalam emisi gas rumah kaca terhadap sektor kehutanan, sekitar 60 persen. Ada lima sektor penyumbang emisi:  energi, proses industri dan penggunaan produk, pertanian dan kehutanan serta perubahan penggunaan lahan lainnya, serta pengelolaan limbah. Kehutanan merupakan sektor terbanyak dalam menyumbang emisi karbon, sebesar 17 persen.

Deforestasi didefinisikan sebagai perubahan hutan alam untuk tujuan lain, sementara degradasi mengacu pada berubahnya hutan primer sehingga tak mampu lagi menjadi penyerap karbon yang dihasilkan oleh aktivitas manusia. Kebakaran dan pembalakan masuk dalam kategori degradasi lahan.

Dalam Laporan Inventarisasi Gas Rumah Kaca dan Pengukuran, Pelaporan, dan Verifikasi (MRV) Nasional 2017, gas rumah kaca nasional sebanyak 1,5 juta giga ton atau naik 507.219 giga ton karbon dibanding emisi tahun 2000 atau naik 2,9 persen per tahun hingga 2016. Sementara kontribusi perhitungan nasional (NDC) penurunan emisi sebesar 8,7 persen dari target emisi 834 juta ton setara CO2—29% dari target bisnis as usual penurunan emisi karbon secara nasional.

Emisi gas rumah kaca Indonesia (2000-2017)

Penurunan emisi gas rumah kaca dalam laporan Direktorat Jenderal PPI yang baru ini menunjukkan bahwa tingkat deforestasi dan degradasi lahan berkurang. Dari peta indikatif tutupan lahan terlihat bahwa tutupan lahan meningkat di beberapa pulau yang menjadi pantauan dalam kerja sama dengan Norwegia itu.

Akibat kebakaran hutan dan lahan tersebut, Presiden Joko Widodo menghentikan sementara izin baru untuk perkebunan kelapa sawit pada 19 September 2019. Jokowi memilih meningkatkan produksi minyak sawit dari pabrik-pabrik yang sudah berjalan. Jumlah emisi karbon akibat kebakaran itu mencapai 357,9 juta ton karbon.

Emisi Deforestasi dan Degradasi Hutan 2017 (Sumber: KLHK)

Target total penurunan emisi karbon dari semua bidang pada 2017 sebanyak 250 juta ton setara CO2. Adapun jumlah emisi tahun tersebut sebanyak 1,1 miliar ton karbon—turun dibandingkan 2015 sebanyak 2,3 miliar ton. Maka penurunan emisi karbon 7,4 juta ton baru sebagian kecil dari penurunan emisi secara nasional.

Angka 7,4 juta ton karbon itu setara dengan membakar 2,3 miliar ton solar atau butuh 260 ribu pohon trembesi agar gas rumah kaca itu bisa diserap dalam setahun. Luar biasa banyak. Indonesia masih harus bekerja keras menurunkan emisi karena punya target ambisius menurunkannya sebanyak 29 persen pada 2030.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.