Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 30 September 2023

Budi Daya Bawang Merah Palu yang Unik

Bawang merah Palu tidak semerah bawang merah. Produktivitas masih rendah.

Bawang merah Palu (atas) dan bawang merah biasa (Foto: Iin Petiwi)

GARAM menambah rasa, bawang merah mengharumkannya. Dua barang ini nyaris selalu ada di dapur orang Indonesia. Bawang merah memang jadi bumbu pelengkap, tapi ia krusial dalam makanan. Di Indonesia ada beberapa jenis bawang merah sebagai komoditas pertanian yang memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Salah satunya varietas unggul bawang merah Lembah Palu. Orang lokal menyebutnya cukup dengan bawang merah Palu.

Kementerian Pertanian melepas komoditas bawang merah Palu pada 2011. Penggunaan nama bawang merah Palu diresmikan Gubernur Sulawesi Tengah pada perayaan Hari Krida Pertanian 2000 di Kota Palu. 

Bawang merah Palu hanya bisa tumbuh di Sulawesi tengah, khususnya di Lembah Palu (wilayah Kota Palu serta sebagian wilayah Kabupaten Sigi dan Donggala). Kekhasan ini karena faktor geografis dan geologi daerah Lembah Palu. Dulu, daerah ini merupakan dasar laut yang kaya endapan mineral dan berada di zona sesar Palu Koro.

Faktor lain yang mendukung bawang merah ini hanya tumbuh di lembah Palu adalah kandungan sulfur dalam tanah di lembah ini, yang bertekstur tanah lempung liat berpasir. Bawang Merah Palu tumbuh membutuhkan iklim kering dengan intensitas pencahayaan tinggi dan harus ditunjang dengan ketersediaan air tanah yang cukup.

Bawang merah Palu tumbuh dengan baik pada dataran rendah kurang dari 450 meter dari permukaan laut, dengan suhu 27,7-30o Celsius, kelembaban udara 61,22-68,90% dan intensitas pencahayaan 692-626,33 μmol per meter persegi per detik.

Secara visual, bawang merah ini berbeda dengan bawang merah pada umumnya. Bentuk bawang merah Palu lebih kecil, kulit yang tipis, dan warnanya yang tidak semerah bawang merah pada umumnya. Ciri lain bawah merah Palu lebih keras sehingga sering juga disebut bawang batu.

Kandungan air pada bawang ini juga sangat rendah. Jika dibandingkan dengan jenis bawang lainnya di Indonesia, jenis bawang merah Palu cocok dijadikan bawang goreng karena memiliki aroma yang khas, tekstur yang padat, gurih, tidak ada sedikit pun rasa pahit, dan tahan lama. Rasa gurih bawang merah Palu muncul karena ditanam bergantung cuaca Palu dan hanya diberi sedikit air. 

Bawang merah Palu termasuk kelompok bawang Wakegi yang merupakan hasil persilangan alami Allium ascalonicum L. (bawang merah) dan Allium fistulosum L. (bawang daun). Berdasarkan dendogram hubungan kekerabatan, bawang merah Palu satu klaster dengan bawang Sumenep dan Palasa.

Bawang Wakegi yang banyak dibudidayakan di Indonesia tidak dapat berbunga sehingga tidak memiliki biji. Hal ini membuat bawang merah Palu memiliki keragaman genetik yang rendah. Hingga saat ini perbanyakan hanya secara vegetatif memakai umbi, yang mudah terinfeksi oleh patogen.

Umumnya perbanyakan benih bawang merah Palu ditingkat petani dilakukan secara konvensional. Benih bawang merah Palu berasal dari tanaman induk melalui seleksi calon benih dengan memilih umbi yang sehat dan warna cerah. 

Umur panen bawang merah tergantung pada ketinggian tempat penanaman dan varietasnya. Umur panen pada dataran tinggi (800 mdpl) rata-rata lebih lama 5-10 hari dibandingkan jika bawang merah ditanam di dataran rendah (100 mdpl), dan kadar air umbi lebih tinggi pada dataran tinggi.

Varietas yang berumur pendek seperti bawang merah Palu yang diperuntukkan sebagai bahan baku bawang goreng bisa dipanen pada usia 60-65 hari, sedangkan untuk bibit dipanen pada umur 70-85 hari setelah tanam. Tanaman yang siap panen ditandai dengan daun tanaman mulai menguning, pangkal daun lemas jika dipegang, dan daun bagian atas mulai rebah.

Selain itu, sebagian besar umbi bawang merah sudah tampak di permukaan tanah, lapisan umbi penuh berisi, dan warna umbi merah mengkilat. Pemungutan hasil terbaik pada saat cuaca cerah dan tidak hujan, dan sebaiknya pada pagi atau sore hari. 

Penanganan pascapanen juga perlu diperhatikan karena bawang merah Palu memiliki  kelemahan dari segi ketahanan fisik. Varietas ini hanya mampu bertahan satu bulan dari masa  dormansi atau pascapanen sampai siap tanam, berbeda dengan bawang merah biasa yang  mampu bertahan hingga lima bulan. Jika melebihi masa dormansi, bawang merah Palu akan rusak karena kelebihan kadar air dan tidak bisa digunakan baik untuk benih mapun bahan baku  bawang goreng.

Sentra produksi bawang merah Palu tersebar pada beberapa lokasi yaitu di Kota Palu meliputi Kelurahan Kayumalue, Duyu, Tavanjuka, dan Petobo; di Kabupaten Donggala yaitu Desa Guntarano; dan di Kabupaten Sigi yaitu Desa Maku, Solouve, Bulupontu Jaya (Sidera) dan Olobojo.

Produktivitas bawang merah palu masih sangat rendah, hanya mencapai 3,5-4,5 ton per hektare, dan potensinya dapat 9,7 ton per hektare. Penyebab rendahnya produktivitas bawang merah Palu adalah sistem budi daya dan pascapanen yang belum optimal, seperti jaminan ketersediaan benih bermutu, teknis penggunaan bedengan yang belum sesuai kondisi agroekosistem lahan, teknis pengairan dan konservasi air, teknis pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, serta penanganan pasca panen yang belum baik.

Harga bawang merah palu fluktuatif tergantung pada musim dan ketersediaan bawang merah di tingkat petani. Untuk bahan baku bawang goreng, harganya bervariasi antara Rp 20.000- 30.000 per kilogram, sedangkan bawang merah untuk benih harganya bervariasi antara Rp 40.000-70.0000 per kilogram. Untuk produksi 1 kilogram bawang goreng diperlukan 3 kilogram bahan baku bawang merah, sedangkan harga jual bawang goreng bervariasi antara Rp 250.000-300.000 per kilogram.

Meski produktivitas masih rendah, bawang merah Palu merupakan salah satu inovasi dalam pertanian yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan produksi pangan dan pendapatan petani di Indonesia. Dengan karakteristik unggulnya, varietas ini bisa menjadi solusi ketahanan pangan dan ekonomi petani. Perlu penelitian dan pengembangan agar manfaatnya makin beragam dan meningkat.

Ikuti percakapan tentang isu-isu pertanian di tautan ini

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Peneliti Ahli Pertama Kelompok Riset Konservasi Tumbuhan Berpotensi Obat Baran Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Topik :

Translated by  

Bagikan

Komentar



Artikel Lain