Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 11 Juli 2023

Hutan Tertua di Dunia Berumur 385 Juta Tahun

Hutan tertua di dunia ada di Amerika Utara. Umurnya 385 juta tahun.

Penemuan fosil hutan tertua di dunia berumur 385 juta tahun (Foto: Smithsonian Magazine)

SEJAK lama para ilmuwan penasaran bagaimana hutan terbentuk. Apakah peran hutan menopang bumi selalu sama dari waktu ke waktu, yakni sebagai penyerap emisi karbon dan penyedia jasa lingkungan bagi mahluk hidup. Apakah di masa lalu terjadi perubahan iklim akibat kerusakan hutan?

Pelan-pelan, pertanyaan itu terjawab ketika sejumlah peneliti menemukan fosil hutan tertua di dunia. Mereka menemukan fosil akar besar pada 2009 di Cairo, hutan di New York, Amerika Serikat. Menurut publikasi mereka di jurnal Cell pada 2019, hutan Cairo diperkirakan berusia 385 juta tahun.

Para peneliti yang dipimpin oleh William E. Stein, ahli biologi dari Binghamton University, menggali lebih dalam fosil akar-akar yang ada di Cairo. Mereka menemukan jaringan perakaran yang kompleks, besar, dan tertancap hingga 5 meter ke dalam tanah. 

Setelah mengecek kandungan karbonnya, peneliti menemukan bahwa akar-akar ini diperkirakan 140 juta tahun lebih tua dari era dinosaurus. Fosil akar ini merupakan genus Archaeopteris, salah satu jenis tumbuhan pertama dan pohon tertua di bumi. Archaeopteris juga diperkirakan merupakan cikal bakal dari pohon modern hari ini yang memproduksi biji.

Sistem perakaran yang kompleks dan besar ini membantu Archaeopteris memaksimalkan penyerapan dari nutrisi. Perakaran yang kompleks ini diduga juga didorong oleh adaptasi Archaeopteris ke lingkungan Cairo yang kering. Karena telah mengembangkan adaptasi yang baik, Archaeopteris berkembang pesat di wilayah Cairo dan membentuk ekosistem hutan purba.

Sebenarnya, jauh sebelum ditemukannya hutan purba di Cairo, ilmuwan telah menemukan hutan purba lainnya di Gilboa, Amerika Serikat, berjarak 40 kilometer, dan berumur 2-3 tahun lebih muda dari hutan purba di Cairo

Tak seperti Cairo yang berisi Archaeopteris, hutan purba di Gilboa diisi oleh genus Eospermatopteris. Genus yang menjadi cikal bakal tumbuhan pakis hari ini. Jika Archaeopteris memiliki perakaran dalam, akar Eospermatopteris cenderung dangkal. Ini karena wilayah Gilboa basah. 

Wilayah yang basah ini menjadi sebab Archaeopteris tidak menyebar ke Gilboa dan sebaliknya. Namun, para peneliti berpendapat bahwa dulu, jutaan tahun sebelum mereka membentuk hutan, pohon-pohon itu pernah ada di satu lanskap yang sama dan membentuk ekosistem yang unik.

Berbeda dengan hutan yang kita kenal hari ini yang dihuni oleh ribuan jenis, hutan purba hanya diisi tiga genus. Mereka adalah Archaopteris, Eospermatopteris, dan Lycopsid. Karena itu hutan purba sangat rentan dengan perubahan. Hutan purba cenderung hidup di sekitar sungai. Saat sungai mengalami perubahan aliran, mereka akan kesulitan beregenerasi dan pada akhirnya mati.

Keberadaan hutan purba, baik di Cairo dan Gilboa, memainkan peran besar dalam perubahan iklim global. Keberadaan hutan purba menjadi alasan besar penurunan kadar karbon dioksida di atmosfer pada era Devonian. Hutan purba ini menyerap banyak karbon dioksida dari atmosfer, menyimpannya di batang sampai mereka mati, terdeposit di tanah, dan menjadi nutrisi bagi tumbuhan generasi selanjutnya.

Selain itu, keberadaan hutan purba juga menjadi penyebab meningkatkan kadar oksigen di era Devonian dari 21% ke 35%. Keberadaan hutan juga membantu mencegah banjir dan mengubah komposisi kimia, biologi, dan fisika tanah. Bahkan, para ilmuwan berhipotesis jika keberadaan hutan purba menjadi alasan bumi memasuki zaman es atau periode glasial.

Saat ini, hutan tertua yang masih eksis adalah hutan hujan tropis Daintree di Australia yang berumur 180 juta tahun! Hutan Kalimantan juga termasuk hutan tertua di dunia dengan umur 130 juta tahun.

Ikuti percakapan tentang hutan di tautan ini

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumnus Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB

Topik :

Translated by  

Bagikan

Komentar



Artikel Lain