Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 11 April 2023

Cara Mengendalikan Puru, Penyakit Sengon

Produktivitas sengon bisa menurun akibat terserang kanker. Cara mengendalikan puru, penyakit sengon.

Penyakit sengon

HUTAN sengon (Falcataria molluccana) berkembang pesat di Jawa, meski tempat tumbuh alamiahnya di Indonesia bagian timur. Kayu cepat tumbuh ini menjadi andalan industri mebel dan pertukangan. Indonesia menjadi eksportir sengon ke pasar global dengan harga lebih tinggi dibanding jabon. 

Salah satu sentra sengon adalah BKPH Pare di KPH Kediri Perhutani Jawa Timur. Pada 2008, produktivitas kayu sengon rata-rata 152,8 meter kubik per hektare. Enam tahun kemudian turun menjadi 54,2 meter kubik per hektare. Penurunan produktivitas ini karena serangan puru, karat tumor yang umum terjadi pada batang pohon sengon.

Penyakit karat puru disebabkan oleh cendawan Uromycladium tepperianum (Sace.) Bentuk serangan dapat terjadi pada seluruh bagian dari tanaman sengon, mulai dari polong, benih, bibit, tanaman muda hingga pohon.

Seperti umumnya cendawan yang berkembang biak dengan spora, karat puru berkembang biak dengan menyebarkan spora yang dibantu oleh angin, serangga atau hewan, bahkan oleh manusia.  Angin akan menghembuskan spora hingga menempel pada bagian-bagian tanaman, terutama di bagian tanaman dengan jaringan yang masih muda.

Serangga atau hewan akan membantu penyebaran spora, yaitu spora terbawa atau menempel pada bagian tubuh serangga, mereka bergerak atau terbang dengan membawa spora pada tubuhnya. Spora yang menempel pada serangga akan berpindah tempat dan menempel pada tanaman sengon, terutama jika serangga tersebut menjadi polinator dalam proses penyerbukan di sengon.

Spora yang sudah menempel pada bagian tanaman, terutama di jaringan yang masih muda, akan melakukan penetrasi dan berkembang biak. Cendawan Uromycladium tepperianum (Sace.) bersifat patogen, karena keberadaannya menyebabkan pertumbuhan tanaman inangnya, yaitu sengon, terganggu. Bahkan apabila tingkat serangannya tinggi atau parah dapat menyebabkan kematian.  

Gejala paling umum karat tumor pada pohon sengon adalah terlihat benjolan (tumor) pada ketiak daun, ranting dan batang pohon. Demikian pula yang menyerang bagian polong, terdapat benjolan pada polong. Keberadaan karat puru pada bagian daun akan menyebabkan terganggunya proses fotosintesa, gangguan ini mengakibatkan pasokan makanan bagi pertumbuhan tanaman menjadi terganggu. Apabila benjolan muncul di bagian batang utama, akan menyebabkan pelukaan dan luka ini dapat mengundang hama untuk masuk, sehingga batang pohon menjadi rapuh dan menurunkan kualitas kayu.

Perilaku lain yang pernah kami amati adalah tempat tumbuh sengon yang terkait dengan intensitas serangan karat puru. Penelitian ini didanai Pusat Pembiayaan Pembangunan Hutan- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (P3H-KLHK) pada 2016.

Spora puru dan jenis kanker sengon

Penelitian dilakukan di tiga tempat sentra tanaman sengon di Jawa Bagian Selatan, yaitu Serang (Banten), Cianjur Selatan (Jawa Barat) dan Wonogiri (Jawa Tengah). Temuan penelitian ini adalah bahwa tingkat serangan karat puru semakin tinggi pada daerah berjarak datar lebih dari 6 kilometer dari garis pantai, serta serangan cukup berat pada tanaman berumur di bawah 4 tahun, dengan pemeliharaan yang tidak intensif. Selain itu puru serta berbagai hama lainnya seperti boktor banyak menyerang tegakan sengon yang ditanam secara monokultur dibandingkan pada tegakan campuran.

Seperti Covid-19, puru menyebar cepat. Usaha pengendaliannya antara lain:

Pemilihan benih tahan puru

Penggunaan benih sengon yang berasal dari pohon induk tahan karat puru melalui pemuliaan pohon. Pembibitan sebaiknya jauh dari lokasi tegakan sengon yang sudah terserang karat puru. Karena bibit yang masih muda sangat mudah terserang karat puru, akibat spora yang terbawa angin.

Teknik penanganan benih

Benih bisa menjadi mediator penyebaran penyakit, termasuk karat puru. Benih yang berasal dari daerah endemik karat puru, akan membawa serta spora pada permukaan kulitnya. Pengendalian pada tingkat benih dapat dilakukan melalui berbagai cara, di antaranya penerapan sterilasasi benih sebelum disemaikan. Benih dicuci atau dibersihkan dengan larutan pembersih (bisa menggunakan chlorox) atau fungisida. Namun sebelum disemaikan benih dicuci terlebih dahulu di air bersih untuk menghilangkan bahan-bahan tersebut. Bentuk sterlisasi lain yang cukup mudah dan murah, yang juga merupakan bagian dari pematahan dormansi benih sengon adalah merendam benih sengon dalam air mendidih, yang kemudian dibiarkan  hingga dingin selama 24  jam.

Juga bisa dipakai teknik priming untuk meningkatkan vigor (kekuatan benih), yaitu teknik hidro priming yang dikombinasikan dengan penggunaan fungisida. Teknik priming ini sangat mudah dilakukan petani, yaitu dengan rendam jemur benih (hidrasi-dehidrasi). Air rendaman dapat ditambakan fungisida. Proses ini berhenti pada saat benih mulai membengkak. 

Cara lain yang pernah dilakukan pada benih sengon adalah pemanfaatan teknik iradiasi sinar gamma (CO60), dengan  dosis di bawah 100Gy. Teknik ini mampu meningkatkan vigor benih serta sebagai upaya membunuh spora yang terbawa pada benih.

Pengendalian saat pembibitan

Teknik pengendalian pada bibit juga dengan memberikan perlakuan Plant Growth Promoting  Rhizo-bacteria (PGPR), fungisida hayati, fungisida kimiawi dan penambahan unsur hara boron pada media bibit. Pemberian perlakuan ini mampu menurunkan keberadaan spora puru pada bibit sengon hingga 94,6% setelah diberi dua kali larutan pengendali tersebut.

Pengendalian puru di tegakan

Serangan puru yang paling mudah dilihat adalah pada tegakan. Pengendaliannya melalui teknik silvikultur intensif, yaitu pemeliharaan. Membuang bagian pohon (terutama cabang dan ranting) yang sudah terserang, bisa menjadi cara efektif, sehingga pertumbuhan tidak terganggu. Atau dengan campuran tegakan jenis lain. 

Pengawasan peredaran benih dan bibit

Hingga saat ini sentra benih dan bibit, serta pengada dan pengedar benih, masih terpusat di Jawa. Peredaran bibit tanpa pengawasan menjadi salah satu sebab menyebarnya tumor puru pada sengon.  

Strategi meningkatkan produktivitas sengon

Bagi petani, menanam sengon seperti membuat tabungan. Setelah besar, mereka akan memanennya untuk kebutuhan-kebutuhan penting dan besar. Daur sengon termasuk pendek. Sengon bisa dipanen sejak usia 4 tahun. Setelah mencegah kanker puru, menaikkan produktivitas sengon bisa melalui beberapa cara: 

Infusi genetik. Berupa penambahan materi genetik baru pada populasi sengon di Jawa. Ini cara meningkatkan keragaman genetik populasi sengon di Jawa untuk mendapatkan klon-klon unggul.

Sumber benih. Meningkatkan jumlah sumber benih untuk menghasilkan benih unggul dari sisi kuantitatif maupun kualitatif

Invigorasi benih. Penanganan benih setelah panen. Teknik invigorasi benih bisa meningkatkan mutu fisiologik benih sengon.

Pengembangan musuh alami karat puru. Ini teknik alamiah dengan menemukan musuh cendewan karat puru untuk mengendalikan dan mencegah infeksinya.

Ikuti perkembangan terbaru penanganan hama dan penyakit tanaman di tautan ini

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Peneliti Pusat Riset Konservasi Tumbuhan, Kebun Raya, dan Kehutanan Badan Riset Dan Inovasi Nasional (BRIN)

Topik :

Translated by  

Bagikan

Terpopuler

Komentar



Artikel Lain