Kabar Baru

Kontroversi Kebakaran Hutan dan Lahan

Meski naik, luas kebakaran hutan tahun lalu jauh lebih kecil jika dibandingkan tahun 2016, seluas 438.363 hektare.

Redaksi

Redaksi

Calon Presiden Joko Widodo membuat pernyataan dalam debat kedua pada 17 Februari 2019 dengan mengatakan, selama tiga tahun ke belakang tak ada lagi kebakaran hutan, lahan, dan kebakaran gambut. “Dan itu kerja keras kita semua,” kata Jokowi di Hotel Sultan dalam debat bertema pangan, energi, dan lingkungan itu. 

Pernyataan itu memunculkan polemik karena faktanya, kebakaran masih terjadi. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan dalam empat tahun terakhir kebakaran masih terjadi. Data Januari-Agustus 2018 saja ada 194.757 hektare hutan Indonesia yang terbakar. Angka ini naik dibanding data tahun sebelumnya seluas 165.528 hektare.

Meski naik, luas kebakaran hutan tahun lalu jauh lebih kecil jika dibandingkan tahun 2016, seluas 438.363 hektare. Angka ini pun jauh menurun dibanding luas hutan yang terbakar setahun sebelumnya seluas 2.611.411 hektare.

Belakangan, Jokowi merevisi ucapannya dengan mengatakan bahwa pemerintah telah mampu mengatasi kebakaran hutan dan lahan hingga turun lebih dari 85 persen. “Salah satunya karena penegakkan hukum yang tegas," ujar di Pandeglang, Banten, seperti dikutip Tempo.co.

Melalui akun Twitter, KLHK mengklarifikasi bahwa pernyataan Jokowi itu mengacu kepada pengertian bencana kebakaran hutan, seperti pada 2015. Direktur Penanggulangan Kebakaran Hutan KLHK, Raffles Pandjaitan, menegaskan bahwa kebakaran yang dimaksud Jokowi adalah kebakaran yang mengganggu penerbangan, aktivitas penduduk, hingga protes negara tetangga karena asap. “Dunia internasional mengapresiasi upaya pemerintah ini,” kata Raffles seperti dikutip Kompas.com, 18 Februari 2019.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Artikel Terkait

Komentar

Artikel Lain