Kabar Baru | 28 April 2019

Kontroversi Kebakaran Hutan dan Lahan

Meski naik, luas kebakaran hutan tahun lalu jauh lebih kecil jika dibandingkan tahun 2016, seluas 438.363 hektare.

Redaksi

Redaksi

Calon Presiden Joko Widodo membuat pernyataan dalam debat kedua pada 17 Februari 2019 dengan mengatakan, selama tiga tahun ke belakang tak ada lagi kebakaran hutan, lahan, dan kebakaran gambut. “Dan itu kerja keras kita semua,” kata Jokowi di Hotel Sultan dalam debat bertema pangan, energi, dan lingkungan itu. 

Pernyataan itu memunculkan polemik karena faktanya, kebakaran masih terjadi. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan dalam empat tahun terakhir kebakaran masih terjadi. Data Januari-Agustus 2018 saja ada 194.757 hektare hutan Indonesia yang terbakar. Angka ini naik dibanding data tahun sebelumnya seluas 165.528 hektare.

Meski naik, luas kebakaran hutan tahun lalu jauh lebih kecil jika dibandingkan tahun 2016, seluas 438.363 hektare. Angka ini pun jauh menurun dibanding luas hutan yang terbakar setahun sebelumnya seluas 2.611.411 hektare.

Belakangan, Jokowi merevisi ucapannya dengan mengatakan bahwa pemerintah telah mampu mengatasi kebakaran hutan dan lahan hingga turun lebih dari 85 persen. “Salah satunya karena penegakkan hukum yang tegas," ujar di Pandeglang, Banten, seperti dikutip Tempo.co.

Melalui akun Twitter, KLHK mengklarifikasi bahwa pernyataan Jokowi itu mengacu kepada pengertian bencana kebakaran hutan, seperti pada 2015. Direktur Penanggulangan Kebakaran Hutan KLHK, Raffles Pandjaitan, menegaskan bahwa kebakaran yang dimaksud Jokowi adalah kebakaran yang mengganggu penerbangan, aktivitas penduduk, hingga protes negara tetangga karena asap. “Dunia internasional mengapresiasi upaya pemerintah ini,” kata Raffles seperti dikutip Kompas.com, 18 Februari 2019.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Kabar Baru

    Cinta Lingkungan di Masa Pandemi

    Pandemi bisa menjadi kesempatan lebih ramah lingkungan. Dimulai dari cara kita memproduksi dan mengolah sampah rumah tangga.

  • Surat

    Forest Digest Berusia 4 Tahun

    Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang lestari.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Bogor Akan Buka Wisata Hutan Kota Setelah Kebun Raya

    Satu lokasi sedang disiapkan di hutan penelitian Darmaga yang terdapat situ Gede dan perkantoran CIFOR. Potensial menjadi hutan penelitian dan wisata pendidikan karena strukturnya masih lengkap.

  • Surat dari Darmaga

    Cara Menumbuhkan Inovasi di Birokrasi

    Birokrasi kita lambat dalam membuat inovasi karena terjebak pada hal-hal teknis yang dikepung banyak aturan. Perlu terobosan yang kreatif.

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.