Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 15 November 2022

Apa Itu COP27

COP27 bertema perempuan dan anak muda. Menaikkan target biaya krisis iklim

KONFERENSI iklim COP27 sudah berlangsung sepekan yang akan berakhir 18 November 2022. Pertemuan delegasi 194 negara membahas mitigasi krisis iklim tahun ini berlangsung di Sharm el-Sheikh, kota pantai di tepi Laut Merah, Mesir. Kota ini berjarak 350 kilometer atau satu jam penerbangan dari Kairo.

Menurut panitia COP27, pendaftar yang datang ke konferensi ini mencapai 50.000 orang. Pemerintah Mesir membangun arena COP27 di tengah padang pasir. Sehingga para peserta harus memakai kendaraan dari tempat menginap mereka di kota yang berjarak 30-60 menit bahkan hingga 2 jam. Ada bus gratis untuk mencapai arena COP27.

Tema COP27 menekankan pada tema perempuan dan anak muda dengan mengusung slogan “together for implementation”. Ini tema yang diharapkan banyak orang karena setiap tahun pembahasan menetapkan pelbagai target mitigasi krisis iklim tak tercapai.

Misalnya, dalam COP26 di Glasgow, Skotlandia, tahun lalu, negara-negara gagal menyepakati pembiayaan krisis iklim sebanyak US$ 100 miliar per tahun. Dana ini seharusnya dikumpulkan dari negara maju untuk membiayai perbaikan lingkungan di negara berkembang.

Negara-negara maju sudah mentok dalam mencegah emisi karbon karena sangat bergantung pada mesin untuk menopang pertumbuhan ekonomi sejak Revolusi Industri 1750. Emisi itu kini harus dibayar dengan bencana iklim yang dampaknya tak kenal teritori negara.

Maka kini saatnya negara maju membayar perbaikan lingkungan kepada negara berkembang yang masih memiliki potensi alam untuk menyerap emisi karbon. Pemakaian energi fosil mengakibatkan produksi emisi menjadi tak terkendali atau berlebihan dari kemampuan atmosfer menyerapnya.

Akibatnya, emisi yang diproduksi di bumi kembali ke planet ini menaikkan suhu pelan-pelan. Menurut catatan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), suhu bumi telah naik 1,2C dibanding masa praindustri 1800-1850. Padahal untuk mencegah puncak krisis iklim suhu bumi harus ditahan tak melampaui 1,5C pada 2030. 

Caranya dengan mengurangi emisi karbon hingga 45% dari yang diproduksi sekarang sebanyak 51 miliar ton setara CO2 setahun. Namun, dari perhitungan IPCC tahun lalu, kapasitas semua negara menurunkan emisi melalui proposal nationally determined contributions (NDC) hanya sebanyak 25%. 

Selain menurunkan emisi 45% dengan mengganti sumber energi dari fosil ke energi terbarukan, dunia juga harus memperbaiki kerusakan alam, dengan cara mencegah deforestasi dan degradasi lahan. Sebab ekosistem harus kembali bisa menyerap emisi karbon agar tak menjadi gas rumah kaca.

Karena itu Perjanjian Paris 2015 juga menyepakati net zero emission atau nol bersih emisi pada 2050. Net zero emission adalah keadaan ketika jumlah emisi yang diproduksi bumi terserap seluruhnya oleh ekosistem bumi atau tak terlontar ke atmosfer. Industri kini sedang merancang mesin yang bisa menangkap emisi.

Pelbagai usaha itu dibahas di konferensi iklim COP setiap tahun. Menurut Presiden COP27 Shameh Shoukry, Menteri Luar Negeri Mesir, untuk mencapai target Perjanjian Paris 2015, biaya yang dibutuhkan sebanyak US$ 4-7 triliun setahun.

Dalam COP27, delegasi 194 negara akan bernegosiasi mencapai pembiayaan itu termasuk lubang pembiayaan yang masih menganga. Shoukry menargetkan COP27 bisa menyepakati pembiayaan mitigasi krisis iklim sebesar US$ 134 miliar setahun, separuh kekayaan Elon Musk setelah mengakuisisi Twitter.

Salah satu biaya tersebut akan tersalurkan melalui perdagangan karbon. Dalam skema result based payment, misalnya, perlindungan lingkungan mencegah deforestasi bisa dikompensasi dengan unit karbon yang bisa diserap kepada negara atau industri yang memproduksi emisinya.

Apakah COP27 berhasil membuat banyak kesepakatan berarti? Hasil COP26 di Glasgow yang menyepakati pengurangan batu bara dianulir Cina dan India—dua negara pemakaian batu bara terbesar—di hari terakhir konferensi iklim.

Ikuti perkembangan terbaru COP27 di tautan ini

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Redaksi

Bagikan

Komentar



Artikel Lain