Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 08 Oktober 2022

Bioprospeksi di Hutan Konservasi

Konsep bioprospeksi dan ekowisata menunjang pembangunan berkelanjutan. Memanfaatkan hutan konservasi.

SELAMA ini hutan konservasi identik dengan terra incognita, area yang tak boleh dimasuki, apalagi diolah dan dikelola. Meski pohon tumbuh dan keanekaragaman hayati bertambah, hutan konservasi tak masuk dalam skema perdagangan karbon karena dianggap tak punya nilai tambah penyimpanan karbon, dibanding restorasi hutan produksi.

Sejak 2018, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan membuka peran masyarakat yang tinggal di dalamnya untuk memanfaatkan lahan melalui skema agroforestri: menanam komoditas pertanian seraya menjaga hutan. Namanya kemitraan konservasi, persis skema perhutanan sosial di hutan produksi atau hutan lindung: petani boleh mengelola lahan untuk kebutuhan hidup mereka.

Kini ada cara baru memanfaatkan hutan konservasi, yakni bioprospeksi. Bioprospeksi adalah bagian dari konservasi, yakni memanfaatkan hutan tanpa merusakanya. Sebab, bioprospeksi memanfaatkan jasa lingkungan, keanekaragaman hayati, dan nilai-nilai tak terlihat yang dihasilkan hutan yang bermanfaat bagi semesta serta mendatangkan ekonomi.

Forest healing yang sedang tenar adalah bentuk bioprospeksi. Ekowisata dan pemanfaatan jasa lingkungan adalah skema bioprospeksi.

Baca: Apa Itu Bioprospeksi?

Dalam rapat kerja kolaborasi ilmuwan, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah di Bogor 6 Oktober 2022 terungkap bahwa banyak negara yang sudah memanfaatkan bioprospeksi. Salah satunya Kosta Rika. Negara di Amerika tengah sebesar Jawa Barat itu memanfaatkan kekayaan alam untuk kebutuhan pengobatan da jasa lingkungan. Kosta Rika menjadi negara paling hijau di dunia tanpa kehilangan nilai ekonomi berkat bioprospeksi.

Indonesia punya ide seperti Kosta Rika. Maka muncul gagasan program Integrated Conservation Development Program (ICDPb) yang akan yang mengambil proyek contoh di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) di Jawa Barat. Dalam rapat kerja itu hadir perwakilan dari Pemerintah Daerah Lebak, Sukabumi, Bogor, KLHK, Balai TNGHS, dan universitas di sekitar Bogor.

Rapat kerja ICBPb diharapkan menghasilkan konsep rancangan atau grand design bioprospeksi yang akan menjadi pertimbangan pemerintah membuat kebijakan memanfaatkan hutan konservasi. “Bioprospeksi dan ekowisata di kawasan konservasi merupakan potensi yang luar biasa," kata Indra Exploitasia, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik KLHK.

Menurut Indra, Indonesia sebagai negara megabiodiversity memilik keindahan alam yang sangat menarik dan masih terjaga dengan baik di kawasan-kawasan konservasi. Dengan luas kawasan konservasi sekitar 27 juta hektare, Indonesia menyimpan potensi panorama alam dan sumber daya genetik yang sangat tinggi.

Apabila potensi besar jasa lingkungan itu dikembangkan bersama dengan pihak-pihak yang berkompeten, nilai ekonominya akan sangat besar untuk kesejahteraan masyarakat. Sebab, di sana ada lapangan pekerjaan, pendapatan asli daerah, bahkan devisa seperti Kosta Rika.

Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) merupakan ekosistem wilayah pegunungan yang sangat khas dan langka, memiliki kekayaan keanekaragaman hayati tinggi, serta budaya dan kearifan masyarakat yang khas. Kawasan ini juga merupakan tangki air alam untuk memasok air bersih kota-kota dan masyarakat desa sekitarnya.

Gunung Halimun-Salak juga menyimpan cadangan panas bumi yang besar, emas, perkebunan, pariwisata, tanaman obat. Lokasinya yang dekat dengan Ibu Kota Jakarta menjadi daya tarik lain pemanfaatan dan perlindungannya. Karena itu TNGHS bisa menjadi model pemanfaatan bioprospeksi yang menopang pembangunan wilayah tiga kabupaten yang melingkunginya.

Beberapa hasil kerja sama penelitian di kawasan konservasi yang lain juga telah memberikan informasi positif mengenai bioprospeksi. Misalnya di Gunung Ciremai Kuningan, Jawa Barat, yang menemukan mikroba yang bermanfaat untuk pertanian.

Di Taman Nasional Gunung Merapi Yogyakarya ada tumbuhan yang mengandung antioksidan dan di Taman Nasional Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, ada jamur morel yang bermanfaat bagi kesehatan dan memiliki harga yang sangat mahal. Sementara Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur menemukan spons yang memiliki zat antikanker dan kepikunan.

Baca: 12 Tahun Hilang, Kodok Merah Muncul Lagi di Gunung Halimun-Salak

Indra Exploitasia mengatakan tantangan pengembangan bioprospeksi ke depan adalah data dan hasil eksplorasi. Saat ini data dan hasil eksplorasi pengetahuan tradisional masih belum tertata dengan baik.

Lalu pengembangan produk dan paten yang perlu didukung oleh industri dalam pengembangan produk dan komersialisasinya. Karena itu dukungan regulasi pengelolaan sumber daya genetik. Hingga saat ini, kata Indra, belum ada regulasi yang secara khusus mengaturnya.

Sebaliknya, eksploitasi yang berlebihan ditambah belum terdatanya pengetahuan tradisional menjadi ancaman hilangnya sumber daya yang belum termanfaatkan. Terakhir adalah soal pendanaan bioprospeksi sejak industri di hulu hingga produk pemasarannya di hilir.

Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University Hadi Alikodra menjelaskan bahwa sangat penting dan seharusnya para pihak terkait, khususnya pemerintah daerah, terlibat dan mengambil bagian dalam pengembangan wilayah dalam lingkup ekosistem pembangunan dengan memanfaatkan bioprospeksi dan ekowisata.

Bioprospeksi, kata Alikodra, merupakan jawaban adalah ancaman krisis iklim. Pengelolaan biroprospeksi akan menaikkan ketahanan pangan akibatnya meningkatkan jenis virus dan penyakit, energi akibat pemakaian energi fosil yang melahirkan pemanasan global, dan menopang kesehatan. Karena itu bioprospeksi adalah pembangunan ekonomi berkelanjutan yang selaras dengan perlindungan alam.

Dengan begitu, bioprospeksi selaras dengan kebijakan adaptasi krisis iklim. Pemanasan global mendorong perubahan radikal dalam pembangunan dengan lebih hijau dan lestari. Industri ekstraktif sudah tak sesuai dengan perkembangan. Sebaliknya, biorprospeksi amat selaras dengan konsep pembangunan ke depan.

Karena itu rapat kerja ICBPb ini menjadi tahap awal dalam mewujudkan program pembangunan kawasan dan hutan konservasi secara terintegrasi (ICDPb) untuk menunjang pembangunan berkelanjutan. "Rapat kerja ini akan menghasilkan rumusan Model Perencanaan Ekonomi Berkelanjutan Melalui Bioprospeksi dan Ekowisata di Taman Nasional Gunung Halimun Salak Berbasis Pembangunan Wilayah,” kata Alikodra.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar



Artikel Lain