Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|13 Februari 2022

Kodok Merah Muncul Lagi Setelah Pandemi

Setelah 13 tahun kodok merah yang terancam punah terlihat lagi setelah Taman Nasional Gunung Halimun Salak ditutup karena pandemi Covid-19.

PANDEMI membuat sebagian besar aktivitas manusia berhenti. Jeda ini membuat alam memiliki waktu untuk tak terjamah oleh manusia. Dampaknya luar biasa, di London misalnya, sungai Thames berbagai jenis ikan kembali ke sana. Pun di Indonesia, setelah 13 tahun kodok merah (Leptophryne cruentata) atau bloody toad kembali terlihat di Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

“Kodok merah terakhir terlihat 2007, pada 2020 tim monitoring melihat di Cidahu, kemudian di beberapa blok di Taman Nasional Gunung Halimun Salak,” kata Kepala Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) Ahmad Munawir pada Sabtu 12 Februari 2022. “Ini pertanda baik, karena kodok merah hewan yang terancam punah.”

Kodok merah, dari familia Bufonide, merupakan satu-satunya amfibi yang dilindungi dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan 106 tahun 2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Menurut The International Union for Conservation of Nature (IUCN) kodok merah termasuk terancam punah (critically endangered). 

Sejak Maret 2020, ketika pandemi Covid-19 bermula di Indonesia, kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) ditutup untuk kunjungan umum, khususnya wisata alam. Beberapa bulan penutupan membuat satwa-satwa liar endemik kembali muncul di wilayah-wilayah yang biasa dikunjungi wisatawan. Tumbuhan bawah juga kembali merimbun.

Menurut Pengendali Ekosistem Hutan TNGHS Misbah Satria Giri, penemuan kodok merah terjadi beberapa kali. Pertama di blok Bitung Lega, Gunung Salak, pada Juni 2020, lalu blok Loji, dan terakhir pada 2021 di Cidahu. “Kehadiran kodok dalam sebuah ekosistem sangat penting karena menandakan ekosistem, termasuk air, dalam keadaan baik,” kata Giri.

Kodok merah merupakan hewan endemik Indonesia dan hanya ditemui di TNGHS dan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Nama kodok ini diambil dari warna kulit yang bercak darah. Habitat kodok ini berada di daerah perairan dengan arus lambat, sekitar air terjun dan aliran sungai kecil di pegunungan.

Pada 1976 kodok merah ditemukan dalam jumlah banyak. Namun, sebelas tahun kemudian jumlahnya terus menurun. Letusan Gunung Galunggung diperkirakan menjadi salah satu sebab jumlah kodok merah berkurang.

Penemuan kembali kodok merah di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak setelah karantina menunjukkan intervensi manusia cukup signifikan mengganggu keberadaannya. 

Taman Nasional Gunung Halimun Salak merupakan habitat banyak satwa, terutama amfibi. Di blok Loji, selain kodok merah ada sekitar 19 jenis katak dan kodok. Juga rumah owa (Hyblobates molach), kancil (Tragulus javanicus), Surili (Presbytis comata), kijang (Muntiacus muntjak) dan macan tutul (Panthera pardus), dan elang Jawa.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Penggerak @sustainableathome

Bagikan

Komentar



Artikel Lain