Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|17 November 2021

Sungai Thames Hidup Lagi

Pernah dinyatakan mati secara biologis, sungai Thames kini menjadi rumah dari 115 spesies ikan dan 92 jenis burung.

KOTA London pernah terjepit atas bawah. Revolusi Industri yang dimulai tahun 1750 memakan anak-anaknya sendiri ketika lingkungan jadi rusak akibat pemakaian batu bara yang menjadi andalan menghidupkan pelbagai mesin di pabrik-pabrik.

Selama sepekan pada Desember 1952, London dilanda gelap menyengat. Kombinasi siklon dan anomali cuaca diperburuk oleh asap cerobong pabrik yang memakai batu bara. Tak ada siang terang di London selama sepekan akibat pekatnya polusi udara waktu itu.

Lima tahun kemudian, sungai Thames dinyatakan mati secara biologis. Sungai sepanjang 346 kilometer yang membelah kota London itu tercemar polusi berat. Tak ada lagi kehidupan.

Enam puluh empat tahun kemudian, pada November 2021, Zoological Society of London (ZSL) merilis laporan: sungai Thames kini menjadi rumah dari 115 spesies ikan dan 92 jenis burung.

Yang mengejutkan, di sungai Thames hidup tiga jenis hiu: tope, starry smooth-hound dan spurdog.

Tope adalah jenis hiu yang bisa tumbuh hingga 1,8 meter dan hidup 50 tahun. Hiu ini masuk ke dalam daftar spesies yang terancam punah menurut IUCN.

Selain hiu, juga ada kuda laut, belut, dan anjing laut. Kualitas air di sungai Thames juga membaik, jumlah mineral berbahaya seperti fosfor terus turun.

"Laporan ini menunjukkan bagaimana sungai Thames pulih, data ini penting untuk perbaikan masa yang akan datang," kata Alison Debney, kepala program konservasi ZSL.

Meski keragaman hewan liar meningkat, jumlah ikan yang ditemukan di daerah pasang surut sungai sedikit menurun. Menurut para ilmuwan perlu penelitian lanjutan untuk mengetahui sebabnya.

Laporan ini juga mengungkap, perubahan iklim telah meningkatkan suhu Thames rata-rata 0,20 Celsius per tahun. Ini alarm, ditambah naiknya permukaan air laut.

Ketinggian air meningkat sejak pemantauan dimulai pada tahun 1911 di Tidal Thames. Permukaan laut di Silvertown telah meningkat rata-rata 4,26 mm per tahun sejak tahun 1990.

Suhu air juga menghangat secara signifikan selama musim panas dan musim dingin. Dampaknya, satwa liar di muara terpengaruh perubahan siklus dan rentang hidup spesies.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Penggerak @sustainableathome

Bagikan

Komentar

Artikel Lain