Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 01 September 2022

Kota Tua: Kawasan Rendah Emisi Jakarta

Kota yang bermakna adalah kota yang rendah emisi. Bisakah dibangun?

KOTA adalah pusat pertemuan manusia dalam aktivitas ekonomi. Dengan teknologi, transportasi, dan aktivitas yang riuh, momok kota adalah polusi. Untuk menguranginya, beberapa kota di dunia menerapkan kawasan rendah emisi. Apa itu?

Milan, London, Roma adalah metropolitan dunia yang sudah menerapkan kawasan rendah emisi. Menurut World Research Institute (WRI), lembaga kajian dan NGO, kota-kota tersebut berhasil mengurangi emisi baik itu gas NOx, PM10 atau CO2 lebih dari 10%. Penerapan kawasan rendah emisi itu juga efektif mengurangi kemacetan lebih dari 20%.

Kawasan rendah emisi adalah cara pemerintah kota membatasi pengeluaran emisi khususnya dari kendaraan bermotor. Dalam kawasan rendah emisi penduduk lebih banyak memakai transportasi publik atau berjalan kaki dan bersepeda.

Karena itu syarat kawasan rendah emisi adalah fasilitas publik yang ramah manusia. Pedestrian yang besar, jalur sepeda, atau halte yang mudah terjangkau untuk akses kendaraan.

BACA: Mengapa Citayam Fashion Week Viral

Di Indonesia, kawasan rendah emisi baru diterapkan di Ibu Kota Jakarta, tepatnya di Kota Tua sekitar satu tahun yang lalu. Namun, karena Jakarta sudah pekat polusi, kawasan rendah emisi Kota Tua tak terlalu signifikan berdampak pada kualitas udara Jakarta.

Nirwono Yoga, peneliti Pusat Studi Perkotaan Universitas Trisakti Jakarta, mengatakan jika tujuannya meningkatkan kualitas udara, penerapan kawasan rendah emisi di Kota Tua tidak terlalu signifikan. "Perlu ditambah titik-titik lain agar pengaruhnya signifikan," kata Nirwono.

Menurut Nirwono, lokasi yang dijadikan kawasan rendah emisi harus memenuhi beberapa syarat. Pertama, kawasannya didukung dengan transportasi publik yang memudahkan orang untuk datang kesana. Hal itu juga harus didukung dengan nyamannya trotoar maupun jalur sepeda sehingga akan mendorong masyarakat untuk memakai transportasi publik.

Kedua kawasan rendah emisi harus memberlakukan aturan yang secara bertahap menerapkan rendah emisi. Misalnya pembatasan untuk kendaraan yang melintas hanyalah kendaraan yang menggunakan energi yang ramah lingkungan atau kendaraan yang sudah melaksanakan uji emisi.

Ketiga bangunannya pun harus menerapkan konsep bangunan hijau seperti hemat energi, hemat air, maupun tidak memproduksi sampah yang banyak. "Sehinga jadi kawasan yang total menerapkan rendah emisi tidak hanya dari transportasi saja,” kata Nirwono.

Jika itu semua diterapkan, paling tidak lima tahun mendatang kualitas udara Jakarta mungkin bisa lebih baik.

Untuk mencapainya, setidaknya ada tiga langkah besar yang musti dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat Jakarta. Pertama, seluruh daerah harus bisa dijangkau dengan transportasi publik.

Hal ini berkaitan dengan kemauan masyarakat menggunakan transportasi publik. Makin luas jangkauan transportasi publik, makin murah hargannya, maka masyarakat menjadi punya alternatif untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi.

BACA: Taman Kota Mengurangi Kejahatan

Kedua peningkatan penggunaan trotoar. Trotoar masih belum digunakan secara masif di daerah Jakarta. Hal tersebut dikarenakan kondisi trotoar yang sempit dan kotor sehingga mendorong orang enggan untuk jalan kaki. Dengan mendesain ulang trotoar yang ramah pejalan kaki maka akan meningkatkan minat orang untuk berjalan kaki.

Ketiga perbaikan jalur sepeda. Sepeda harus dijadikan sebagai salah satu transportasi publik tidak hanya berfungsi untuk olahraga saja. Dengan jalur sepeda yang baik, bisa mendorong masyarakat tak memakai kendaraan bermotor.

"Kalau kawasan rendah emisi bisa diperbanyak, kemacetan juga bisa berkurang signifikan, kualitas udara lebih baik dan nyaman, dan warga Jakarta akan lebih sehat,” kata Nirwono.

Selain kebijakan untuk menopangnya, perubahan gaya hidup masyarakat menjadi lebih ramah lingkungan juga penting. Sebagus apa pun kebijakan, sebagus apa pun desain kawasan rendah emisi, tidak akan berdampak jika gaya hidup individu tidak berubah untuk mendukungnya.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar



Artikel Lain