Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|12 Juli 2022

Peran Perempuan dalam Mitigasi Krisis Iklim

Mitigasi krisis iklim perlu menimbang peran perempuan. Lebih persisten.

PEREMPUAN punya peran penting dalam mitigasi krisis iklim, tapi mereka pula yang terkena imbas paling berat dalam bencana iklim. Dalam banyak aktivitas yang menyangkut gaya hidup, perempuan menjadi kunci bagaimana konstruksi budaya dan tradisi mengendalikan keseharian: makanan, pakaian, perspektif terhadap kebijakan. 

Sebuah studi Universitas Oregon menyebutkan bahwa parlemen yang didominasi oleh perempuan menghasilkan kebijakan-kebijakan yang ramah iklim. Bisa dikatakan bahwa krisis iklim akibat ulah lelaki, jika merujuk pada pelbagai temuan inovasi dan teknologi yang mengawali Revolusi Industri. Mesin uap ditemukan laki-laki, penggalian energi fosil dimulai—bahkan dunia ini cenderung dekat dengan—dunia yang maskulin.

Satu contoh kecil yang saya temukan menyangkut persepsi ramah lingkungan ketika Idul Qurban 10 Juli lalu. Di tempat tinggal saya di Cihideung Udik Kabupaten Bogor, Jawa Barat, penduduk berbagi tugas ketika menyembelih hewan kurban.

Perlu ada solusi ramah lingkungan di tengah laporan-laporan yang mengemuka bahwa pertanian dan peternakan menjadi sektor paling banyak menyumbang gas rumah kaca ke atmosfer. Daging kurban dari peternakan perlu diimbangi dengan praktik ramah lingkungan agar proses penyembelihan hewan kurban tak makin menambah beban planet ini. 

Misalnya, dalam hal menyediakan bungkus daging kurban. Penduduk memakai keranjang bambu tipis yang di desa tersebut dikenal dengan nama bongsang. Di daerah lain, seperti Sumedang, keranjang ini sering dipakai sebagai wadah tahu goreng. Selain praktis, bongsang juga murah.

Tahun 2018, harga bongsang hanya Rp 600 per buah, jauh lebih murah dari besek bambu yang harganya berkisar antara Rp 3000-6000. Karena tidak rapat, bongsang dialasi daun jati agar daging tetap bersih dan darah tidak menetes. “Kami pernah coba pakai daun pisang, tapi ternyata sulit dipasangnya dan perlu banyak,” kata Farih, salah satu ibu-ibu relawan panitia kurban.

Kasmiana, rekannya, menimpali, “Pakai daun patat juga pernah. Daun patat lebih mudah karena lebih lebar, tapi harus membeli ke pasar. Lumayan harganya, jadi ada pengeluaran tambahan.” Daun patat memang umum dipakai membungkus makanan dan masih sering dipakai hingga sekarang oleh penjual toge goreng di Bogor. “Setelah coba-coba, akhirnya kami pilih daun jati. Daunnya lebar-lebar dan tidak mudah sobek, lagipula gratis minta ke tetangga,” begitu kata Gayatri, ibu-ibu relawan lain. 

Harga memang menjadi salah satu pertimbangan. Ibu-ibu ini secara swadaya membayar bongsang. Tahun ini, harganya naik menjadi Rp 800 per buah. Mereka bilang, ada uang kas ibu-ibu pengajian yang memang dianggarkan tiap tahun untuk ini, jadi tidak mengganggu kas RW. Walaupun ada dana, opsi yang paling praktis, mudah dan murah opsi utama.

Selain ramah lingkungan, memakai bongsang untuk bungkus daging kurban juga membantu ekonomi masyarakat. Ibu-ibu ini membeli bongsang dari perajin bongsang di desa tetangga, Desa Tegal Waru, yang memang merupakan sentra bongsang. Tiap tahun, para perajin yang menua dan sakit-sakitan gembira ketika penduduk datang menjemput bongsang pesanan ke rumah mereka.

Ide menyelenggarakan kurban lebih ramah lingkungan muncul empat tahun lalu dalam obrolan pengajian. Kelompok pengajian ibu-ibu majelis ta’lim Ummi itu memang tidak hanya berkumpul mengaji setiap minggu, juga sering berdiskusi kegiatan sosial dan membantu pengurus lingkungan (RT dan RW) dalam kegiatan sehari-hari maupun kegiatan khusus keagamaan atau perayaan nasional. Biasanya hanya urusan dapur, penyiapan konsumsi, atau komunikasi saja.

Maka ketika ibu-ibu menyampaikan usulan mengganti plastik keresek dengan bongsang dalam rapat panitia, ada perlawanan sengit dari beberapa orang panitia. Mereka khawatir pergantian wadah ini akan memakan waktu lama dan malah menyulitkan proses membungkus, karenanya menghambat semua proses distribusi daging. 

Ketika ibu-ibu mencoba menjelaskan, salah satu peserta rapat malah walk out. Tokoh yang menjadi mediator rapat pun menengahi, namun tetap dengan sindiran bahwa “tidak biasanya ibu-ibu bawel ngurusin beginian”.

Tidak putus asa, ibu-ibu MT Ummi lantas menawarkan solusi terhadap setiap kekhawatiran panitia kurban. Tentang biaya, mereka menawarkan pembayaran dengan uang kas majelis pengajian. Tentang waktu pembungkusan, mereka membeli daging dan bongsang lalu melakukan simulasi pembungkusan daging dan direkam oleh kamera ponsel.

Kekhawatiran membungkus dan memasukkan daging ke dalam bongsang memakan waktu 5 menit ternyata tidak terbukti. “Dari awal sampai akhir, ternyata hanya perlu waktu 21 detik,” kata Kasmiana. Tentang kerepotan membungkus, ibu-ibu juga menawarkan tenaga membungkus di hari-H. Panitia tidak bisa menolak lagi.

Langkah pertama memang selalu yang paling sulit. Setelah berlangsung satu kali dan ternyata berjalan lancar, di tahun kedua panitia kurban yang masih dominan lelaki, meminta ibu-ibu pengajian Ummi kembali membantu dengan penyediaan dan persiapan bongsang. Kali ini cukup membeli dan mengalasi saja dengan daun jati. Bapak-bapak bisa mengambil alih proses pembungkusannya. Pengambilan daun jati dibantu oleh pemuda kompleks.

Dengan demikian, H-1 Idul Adha menjadi ajang kumpul-kumpul ibu-ibu untuk mengelap daun jati dari debu dan memasukkannya ke dalam bongsang sebagai alas daging. Tidak terasa, tahun 2022 ini adalah Idul Qurban keempat tanpa bungkus plastik di kompleks ini.

Tiap tahun, panitia membagikan tidak kurang dari 300 bungkus daging kurban kepada masyarakat. Itu berarti panitia telah mencegah pemakaian 1.200 kantong keresek. Perubahan memang tidak mudah, tapi ketika sudah dimulai, ternyata tidak sesulit itu. Hanya perlu sedikit konsistensi dan kesabaran untuk membuktikan bahwa hal tersebut bisa dilakukan.

Ibu-ibu Cihideung Udik sudah membuktikannya. Mereka berharap langkah kecil yang mereka mulai bisa menjadi tradisi baru yang diturunkan kepada generasi mendatang, dan bisa menyebar kepada lingkungan sekitar. 

Cerita bongsang dalam Idul Qurban hanya satu contoh betapa perempuan memegang peranan penting dalam gaya hidup ramah lingkungan. Perempuan pula, yang persisten, bisa mengubah persepsi dan kebiasaan yang membahayakan alam. Dalam mitigasi krisis iklim, mungkin prosesnya juga tak jauh beda: perubahan bisa dimulai dari peran perempuan yang cenderung berpikir praktis dalam menyayangi bumi.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Mahasiswa master University of California Santa Cruz Amerika Serikat

Bagikan

Komentar



Artikel Lain