Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|09 Juli 2022

Jenis Pohon yang Tepat untuk Rehabilitasi Hutan

Rehabilitasi hutan yang kompleks perlu jenis pohon yang cocok. Apa saja?

BAGI Indonesia, rehabilitasi hutan dan lahan bukan masalah sepele. Angka deforestasi sejak 1976 saja berbeda-beda luasnya. Menurut Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Hutan Lindung lahan kritis pada 2018 mencapai 13,36 juta hektare. Dua tahun kemudian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menetapkan kawasan hutan yang tak lagi memiliki tutupan hutan (artinya deforestasi) 33,4 juta hektare.

Penanaman pohon untuk rehabilitasi hutan biasanya lebih mudah dipantau, dievaluasi, dan dikendalikan dibandingkan rehabilitasi lahan. Rehabilitasi lahan di luar kawasan hutan, selain arealnya tidak kompak, luasnya juga kecil dan terpencar sehingga pengukuran keberhasilannya tidak bisa dilakukan secara fisik dan kuantitatif berapa luas tanaman yang dapat bertahan hidup. Keberhasilan penanaman kegiatan rehabilitasi lahan lebih banyak dilakukan dengan cara kualitatif yakni tingkat partisipasi masyarakat terhadap kegiatan penanaman rehabilitasi lahan itu sendiri.

Bibit/anakan tanaman hutan untuk menjadi pohon dewasa membutuhkan proses dan waktu. Menurut ilmu ekologi hutan pohon dewasa adalah pohon yang mengalami proses metaformosis pertumbuhan dari mulai bibit/anakan/semai (seedling), sapihan (sapling), tiang/pohon muda (pole) dan pohon yang sesungguhnya (trees). John Wyatt-Smith, ahli ekologi hutan dari Inggris, mengklasifikasikan pohon menjadi 4 tahapan: bibit hingga kecambah setinggi 1,5 meter, sapih lebih dari 1,5 meter dengan diameter kurang 10 sentimeter, pole berdiameter 10-35 sentimeter, dan trees jika diameternya lebih dari 35 sentimeter. Satu pohon sampai dewasa butuh waktu 4-5 tahun.

Dalam menentukan jenis bibit tanaman hutan untuk rehabilitasi hutan acap kali disamakan untuk semua area. Padahal tiap lokasi punya karakteristik iklim, jenis tanah, dan fungsi yang berbeda.

Dalam silvikultur dasar, jenis tanaman hutan dibedakan intoleran dan toleran. Jenis pohon intoleran adalah pohon yang tumbuh membutuhkan sinar matahari, sehingga tidak perlu naungan. Jenis-jenis pohon pionir seperti pinus masuk dalam katagori intoleran. Jenis pionir biasanya membutuhkan tempat terbuka dan tumbuh lebih cepat karena dalam pertumbuhan membutuhkan sinar matahari penuh. Sebaliknya, beberapa jenis Shorea sp (meranti) merupakan jenis pohon intoleran. Dalam pertumbuhan anakannya membutuhkan naungan, karena tidak tahan hidup di tempat terbuka. 

Dalam tahun-tahun bekangan ini, program rehabilitasi hutan berkembang jenis-jenis MPTS (multi purpose tree species) atau spesies multifungsi dan jenis-jenis fast growing species, pohon cepat tumbuh. 

Pohon MPTS punya manfaat ganda, selain hidrologis juga ekonomis. Biasanya pohon buah-buahan, atau kemiri, aren, sagu, sukun, nipah. Sedangkan fast growing species adalah pohon cepat tumbuh dengan daur yang pendek seperti Albizia falcataria yang biasa ditemukan di Jawa Barat.

Bagaimana menanam pohon jenis MPTS maupun cepat tumbuh yang cocok dan sesuai dengan agroklimat dan fungsi dalam rehabilitasi hutan?

Departemen Kehutanan telah menerbitkan buku panduan jenis-jenis MPTS untuk program hutan cadangan pangan (HCP). Ada 10 jenis tanaman seperti kemiri, aren sagu, sukun, nipah dan buah-buahan. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 26/2020, jenis-jenis pohon multifungsi direkomendasi untuk kegiatan dalam kawasan hutan dengan pola reboisasi agroforestri yang mengakomodasi lahan kritis berbentuk kebun, kebun campuran, pertanian lahan kering dan terdapat aktivitas pertanian masyarakat.

Saat ini, KLHK merekomendasi jenis pohon multifungsi baru yaitu jenis eksotik (luar) Macadamia. Ini pohon yang cocok untuk rehabilitasi hutan karena pohon kacang ini bernilai ekonomi tinggi dan menghijaukan lahan kritis. Macadamia telah dikembangkan di kawasan Danau Toba, persisnya di Hutaginjang Tapanuli Utara.

Harga jual kacang Macadamia Rp 300.000-500.000 per kilogram. Macadamia mulai dapat dipanen pada umur 5 tahun. Buah Macadamia dipanen setelah jatuh sendiri dari pohonnya. Produksi rata-rata satu pohon sebanyak 12-25 kilogram per tahun.

Sementara jenis pohon cepat tumbuh merupakan pohon pionir yang mempunyai daur masak tebang maksimal 15 tahun. Produksi jenis pohon cepat tumbuh minimal 10 m3 per hektare setiap tahun dengan pertambahan tinggi mencapai 60 sentimeter per tahun.

Jenis pohon cepat tumbuh mampu menstabilkan dan memperbaiki kondisi tanah. Dalam program rehabilitasi hutan, jenis pohon cepat tumbuh biasanya ditanam di lahan kritis dengan tutupan lahan terbuka. Sementara untuk rehabilitasi lahan, seperti daerah perdesaan, jenis pohon yang cocok adalah pohon cepat tumbuh dengan daur yang pendek dan cepat laku seperti Albizia falcataria tadi.

Pola reboisasi intensif memakai pohon cepat tumbuh sangat cocok dikembangkan di lahan kritis hutan lindung yang memerlukan pemulihan tutupan hutan dengan jarak tanam yang cukup rapat yakni 3 x 2 meter atau 3 x 1 meter. Jenis-jenis pohon cepat tumbuh ini seharusnya ditanam di lahan kritis daerah hulu tangkapan air (catchment area) DAS yang sering menimbulkan bencana hidrometeorologi di daerah hilirnya (banjir, banjir bandang, tanah longsor) pada musim hujan.

Sementara di kawasan hutan produksi yang dimanfaatkan oleh korporasi untuk perizinan berusaha pemanfaatan hasil hutan kayu-hutan tanaman, jenis pohon cepat tumbuh hanya cocok dikembangkan untuk jenis kayu yang dimanfaatkan untuk bubur kertas (pulp) dan kertas. Bukan untuk hasil hutan kayu pertukangan atau kayu lapis.

Contoh jenis-jenis pohon untuk rehabilitasi hutan yang cepat tumbuh di antaranya sengon (Falcataria moluccana), mangium (Acacia mangium Wild), ekaliptus (Eucalyptus pellita, E.urolhylla, E.eurograndis), nyawai (Ficus variegata), jabon (Anthocephalus cadamba), dan tisuk (Hibiscus macrophyllus Roxb).

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Pernah bekerja di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Bagikan

Komentar



Artikel Lain