Untuk bumi yang lestari

Surat dari Darmaga| 31 Mei 2022

Mengapa Saya Belum Merokok Lagi

Pengalaman mantan perokok di Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Bahaya rokok menyentuh banyak segi.

SETIAP 31 Mei dunia memperingati hari tanpa tembakau. Perayaan ini untuk mengingatkan bahaya rokok dan produk tembakau. Tidak hanya bagi kesehatan. Dalam sebatang rokok ada dimensi ekonomi, sosial, politik, lingkungan. Sampah puntung rokok, menurut studi di jurnal Ecotoxicology and Environmental Safety, membunuh rumput dan tanaman teresterial yang berperan menyerap emisi karbon.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada hari tanpa tembakau tahun ini mengungkap setiap tahun industri rokok telah merenggut lebih dari 8 juta nyawa manusia, 600 juta pohon, 200 ribu hektare lahan, 22 miliar air dan 84 juta ton CO2. Jika ditambahkan efek pada lingkungan, bahaya rokok sampai menggerus nilai ekologi. Sejak 1980, puntung rokok menyumbang 30-40% sampah di tempat pembuangan perkotaan.

Secara sosial, rokok juga menyimpan ironi. Perkebunan tembakau paling banyak ada di negara-negara miskin, sementara industri rokok selalu menjadikan pemiliknya sebagai orang terkaya. Indonesia jadi fakta nyata bagaimana ketimpangan terjadi di industri tembakau. Di Indonesia, keluarga miskin menghabiskan 11,9% penghasilannya untuk konsumsi rokok, nomor dua setelah beras. Pendidikan, investasi kesehatan, menjadi prioritas ke sekian. 

Perkebunan tembakau juga menyerap air dalam jumlah banyak. Di Mandalawangi Garut, Jawa Barat, penduduk merambah hutan lindung dan mengganti pohon dengan tembakau. Setelah gunung itu runtuh menewaskan penduduk kampung, dan mata air tumpas, mereka sadar telah menciptakan lubang kubur sendiri. Mereka akhirnya mengembalikan hutan lindung itu dengan mengandalkan komoditas agroforestri: kopi, vanili, lada, buah-buahan.

Dalam laporan WHO “Tobacco: Posioning our Planet” juga menyebutkan jejak karbon dalam proses produksi dan transportasi setara seperlima CO2 yang dihasilkan oleh industri penerbangan komersial setiap tahun. Emisi ini berkontribusi terhadap pemanasan global.

Produk tembakau adalah barang yang paling banyak berserakan di bumi, mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia beracun, yang masuk ke lingkungan kita saat dibuang. Sekitar 4,5 triliun filter rokok mencemari lautan, sungai, trotoar kota, taman, tanah, dan pantai kita setiap tahun, kata Dr Ruediger Krech, Direktur Promosi Kesehatan di WHO.

Produk seperti rokok, tembakau tanpa asap, dan rokok elektrik juga menambah penumpukan polusi plastik. Filter rokok mengandung mikroplastik dan merupakan bentuk polusi plastik tertinggi kedua di dunia.

Pada Februari 2022, WHO dan United Nations Environment Porgramme (UNEP) meluncurkan kampanye bahaya dari filter rokok yang mencemari laut. Filter rokok yang mengandung mikroplastik telah mencemari pantai, laut dan merusak ekosistem, termasuk burung, ikan dan mamalia. Kerusakan itu ada andil saya di sana karena saya perokok filter selama 20 tahun.

Mikroplastik dari filter rokok yang terdekomposisi air laut atau sungai masuk ke tubuh manusia lewat rantai makanan. Dampaknya sangat serius bagi kesehatan, di antaranya terhadap genetika, perkembangan otak, dan pernapasan.

WHO juga menyoroti biaya membersihkan produk tembakau yang berserakan menjadi beban pembayar pajak, bukan industri yang membuatnya. Pemerintah harus membayar seorang petugas kebersihan dari uang pajak untuk menyapunya. Setiap tahun, Cina mengeluarkan biaya sekitar US$ 2,6 miliar dan India sekitar US$ 766 juta untuk keperluan ini. Sementara Brasil dan Jerman mencapai lebih dari US$ 200 juta.

Pemerintah negara-negara seperti Prancis dan Spanyol dan kota-kota seperti San Francisco, California di Amerika Serikat, mengikuti prinsip “Pencemar Membayar”. Mereka telah berhasil menerapkan “undang-undang tanggung jawab produsen yang diperluas” yang membuat industri tembakau bertanggung jawab membersihkan polusi yang diciptakannya. 

WHO mendesak negara dan kota untuk mengikuti contoh ini, serta memberikan dukungan kepada petani tembakau untuk beralih ke tanaman berkelanjutan, menerapkan pajak tembakau yang kuat (yang juga dapat mencakup pajak lingkungan), dan menawarkan layanan dukungan untuk membantu orang berhenti merokok.

Saran WHO untuk layanan tersebut patut didukung, terutama mempermudah akses bagi mereka yang punya keinginan berhenti merokok. Survei Global Adults Tobacco Survey (GATS) menemukan jumlah perokok dewasa meningkat hingga 8,8 juta jiwa dalam sepuluh tahun terakhir. Sebanyak 60,3 juta perokok dewasa pada 2011, naik menjadi 69,1 juta perokok dewasa pada 2021. 

Saya bisa menambahkan lagi angka-angka tentang bahaya rokok dan dampak buruknya bagi banyak hal. Tapi bukan karena itu semua saya berhenti merokok lima tahun terakhir. Saya berhenti karena tubuh tak kuat lagi menghisapnya. Saya sakit. Rokok telah membuat asam lambung saya naik tak karu-karuan. Juga kolesterol yang mengakibatkan hipertensi. Resep dokter cuma satu: stop merokok.

Setelah itu memang keluhan-keluhan berkurang. Tapi, harus saya akui, tak mudah berhenti merokok. Peringatan bahaya rokok di bungkus rokok tak membuat saya takut. Ajakan teman tak mempan. Anda mungkin pernah mendengar seloroh berhenti merokok yang lucu atau yang serius seperti agar bisa berhenti merokok tekad harus kuat. Saya menautkan tekad dengan membaca angka-angka tadi.

Sewaktu masih merokok, saya juga seperti Anda. Tiap kali ingin berhenti, saya selalu melihat fakta bahwa saya masih kuat joging 5-10 kilometer tiap pagi. Jadi rokok tak berdampak pada kesehatan. Atau hiburan dari sesama perokok: merokok tak merokok toh kita bakal mati juga. Itu semua benar, sampai lambung dan tubuh tak lagi mampu mengendalikan kolesterol yang memompa tekanan darah ini.

Pilihan memang tergantung pada tiap individu. Saya sudah merasakan bahaya rokok. Saya juga mengonfirmasi dampak positif berhenti merokok: pikiran tak selalu teralihkan untuk merokok tiap melakukan kegiatan, bangun pagi lebih bugar, joging dan bersepeda lebih jauh. Apalagi jika membaca laporan-laporan ilmiah tadi: berhenti merokok tak hanya menyelamatkan diri sendiri, orang dekat yang mencintai hidup Anda, juga lingkungan. Karena belum bisa menjadi bagian dari solusi masalah-masalah ruwet dunia ini, setidaknya saya tak menjadi bagian dari problem-problem itu.

Selamat berhenti merokok di Hari Tanpa Tembakau sedunia. Merokok tak merokok memang akan mati, tapi harga seseorang ditentukan oleh bagaimana kita memberinya harga pada usia. Di era krisis iklim, menjadi berharga ketika kita tak menambah beban planet ini.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Penggerak @sustainableathome

Bagikan

Komentar



Artikel Lain