Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|19 Mei 2022

Masih Ada Pari Manta di Perairan Komodo

Perairan Taman Nasional Komodo menjadi tempat berkumpulnya pari Manta Karang, spesies pari Manta terbesar kedua. Terancam pemburu dan pariwisata.

SEEKOR ikan pari Manta Karang (Mobula alfredi) seakan menari di atas lautan biru. Tak lama dua ekor pari lain ikut mendekat. Bertiga, megafauna laut itu membentangkan tubuh mereka yang hampir empat meter di atas terumbu karang perairan Taman Nasional Komodo. Pemandangan ini nyaris tak bisa disaksikan satu dekade lalu.

Pada dekade 1990-an hingga awal 2000-an, pari Manta Karang banyak ditangkap dan diperjualbelikan. Harga insang pari terbesar dunia ini sangat mahal. Insang pari menjadi bahan dasar racikan obat di Cina yang berpusat Guangzhou, Macau, Hong Kong, hingga Singapura. Permintaan dari industri pengobatan ini yang membuat populasi global pari Manta Karang menurun drastis.

Ikan pari Manta merupakan biota laut yang berusia panjang, bisa mencapai 45 tahun. Masalahnya, reproduksi pari Manta amat rendah. Menurut studi Sadli et.al (2014) periode reproduksi ikan pari 2-5 tahun dengan lama kehamilan 12-13 bulan. Dalam satu periode reproduksi, Manta betina akan menghasilkan 1 ekor anak. Pada 2011, status pari Manta Karang di IUCN tercatat rentan (vulnerable).

Indonesia termasuk salah satu dari lima besar negara pengekspor pari Manta. Ketika pari Manta Karang di perairan Nusa Tenggara Barat mulai sulit ditemukan, Taman Nasional Komodo melarang penangkapan ikan ini pada 2013. Setahun kemudian, pemerintah menerapkan larangan penangkapan pari Manta Karang dan pari Manta Oseanik (Mobula birostris)—jenis pari Manta yang suka mampir ke perairan Indonesia dan populasinya juga berkurang— di seluruh zona ekonomi eksklusif Indonesia.

Wilayah Taman Nasional Komodo mencakup 1.817 kilometer persegi di mana 1.214 kilometer persegi merupakan perairan. Perairan Taman Nasional Komodo ditandai dengan adanya tiga pulau besar (Komodo, Rinca dan Padar) dan pulau-pulau kecil tambahan di dalam batas taman nasional seluas 603 kilometer persegi dari habitat darat.

Pada Juni hingga Oktober upwelling ke selatan paling kuat, bertepatan dengan angin monsoon tenggara. Sementara pada November hingga April, saat terjadi monsoon barat laut periode upwelling bergeser dari selatan ke utara.

Upwelling atau pembalikan massa air merupakan fenomena air laut yang lebih dingin dan bermassa jenis lebih besar bergerak dari dasar laut ke permukaan akibat pergerakan angin di atasnya. Fenomena ini membawa nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan fitoplankton di permukaan laut. Tak heran bila sepanjang tahun, kawasan ini menjadi tempat pari Manta berkumpul. Fitoplankton dan ikan-ikan kecil merupakan makanan utama pari Manta.

Penelitian Elitza S. Germanov dkk. yang dirilis 17 Mei 2022 menunjukkan bahwa empat lokasi di perairan Taman Nasional Komodo kini menjadi pusat berkumpulnya ikan pari Manta untuk mencari makan, membersihkan diri, ataupun kawin. Penelitian ini memperkuat riset sebelumnya yang menyebutkan Taman Nasional Komodo merupakan contoh sukses kawasan konservasi laut untuk pari Manta.

Germanov dkk menggunakan metode telemetri jangka panjang berupa data identifikasi foto yang dikumpulkan para peneliti dan amatir melalui platform mantamatcher.org. Data tersebut diteliti untuk mengukur demografi dan habitat pari manta karang di empat lokasi perairan yang sering didatangi oleh operator tur laut dan pariwisata: Cauldron, Kerang Makassar, Mawan dan Manta Alley.

Hasil penelitian menyebutkan bahwa ada 1.085 individu pari Manta yang teridentifikasi dalam foto-foto antara tahun 2013-2018. Individu pari Manta menunjukkan afinitas yang tinggi pada situs tertentu.

Penampakan kembali pari Manta yang sama paling tinggi ditemukan di situs selatan yang terpencil, Manta Alley (lihat foto). Kerang Makassar dan Mawan yang hanya berjarak 5 kilometer tidak membuat individu pari Manta berpindah dari dua tempat tersebut.

Pari Manta tercatat lebih banyak bepergian dari selatan ke daerah tengah daripada sebaliknya. Pari Manta betina lebih suka bergerak dan berpindah lokasi ketimbang jantan. Sementara pari Manta dewasa biasanya berkumpul di Karang Makassar, Mawan, dan Manta Alley untuk kegiatan mencari makan, membersihkan diri, atau kawin. Pari manta yang belum dewasa lebih banyak berkumpul di utara, Cauldron, tempat mencari makan.

Penelitian ini juga mencatat cedera di tubuh pari Manta. Ada yang cedera akibat alat tangkap yaitu 56 individu (5%), dan cedera predator terjadi pada 32 individu (3%). Angka cedera akibat alat tangkap ini jauh lebih kecil dari jumlah cedera pari manta di area lindung Nusa Penida, Bali (14%), Maladewa (9%), Hawaii (10%), Florida (27%).

Catatan penting dalam penelitian ini terkait dengan pariwisata. Kegiatan pariwisata yang meningkat 34% berupa intensitas kapal yang membawa penyelam dari tahun 2014 ke 2017 di Karang Makassar. Dalam sehari, perahu tur membawa 10-35 penyelam secara regular mendatangi lokasi berkumpulnya pari Manta. Bila tidak diatur, kedatangan mereka berpotensi mengganggu aktivitas pari manta.

Perahu-perahu motor untuk menurunkan dan mengangkut kembali penyelam biasanya akan melewati karang dangkal yang menjadi tempat pari manta membersihkan diri. Aktivitas ini menciptakan noise yang membuat pari Manta gelisah. Membersihkan diri amat vital bagi kesehatan pari Manta. Aktivitas ini dapat menanggalkan parasit, menyembuhkan luka.

Para peneliti menekankan perlunya membatasi jumlah penyelam, membatasi jumlah dan kecepatan perahu ke lokasi berkumpulnya pari Manta. Termasuk memberi zona larangan masuk bawah air bagi penyelam untuk mencegah masuk ke stasiun pembersihan pari Manta. Artinya, pariwisata menumbuhkan ekonomi menikmati keragaman hayati laut boleh, namun dengan tidak mengganggu keragaman hayati itu, termasuk pari Manta Karang yang kembali lagi ke perairan setelah menghilang.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Penulis lepas

Bagikan

Komentar



Artikel Lain