Laporan Utama | Oktober-Desember 2018

Melindungi Satwa, Melindungi Mama Kita

Bagi masyarakat Papua melindungi alam seperti menjaga ibu mereka sendiri. Satwa adalah bagian dari mama yang sakral.

Timbul Batubara

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua

MASYARAKAT Papua memelihara nilai-nilai kearifan lokal dengan menakjubkan. Mereka memiliki karakteristik dasar yang sangat terikat kepada alam, memelihara mitologi sebagai nilai-nilai sakral, dan memiliki cita rasa seni yang tinggi. Tiga karakteristik itu berpengaruh penting dalam hal perlindungan satwa liar di Papua.

Orang Papua menganggap alam atau tanah adalah mama atau ibu kandung. Menurut Daniel Toto, Ketua Dewan Adat Suku Imbi Numbay di Jayapura, alam sebagai “mama” merujuk pada suatu kawasan, yaitu Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Sejak zaman nenek moyang, Cycloop telah menyediakan segala kebutuhan, mulai pangan, sandang, hingga papan. Sampai saat ini Cycloop masih memerankan fungsi utamanya sebagai penyedia sumber air bagi masyarakat di Kota dan Kabupaten Jayapura.

Masyarakat Amungme di Kabupaten Mimika juga memandang alam sebagai mama yang melahirkan, menyediakan makan, memelihara, dan membesarkan. Ungkapan dalam bahasa Amungkal, Te aro neweak lak-o, yang berarti alam adalah aku. Maksud ungkapan tersebut adalah aku milik mama, atau aku milik tanah. Hal ini dituliskan oleh Karel Phil Erari di dalam sebuah buku berjudul Tanah Kita, Hidup Kita yang terbit tahun 1999 oleh Pustaka Sinar Harapan. Bagi masyarakat Kamoro, hutan adalah kehidupan yang merepresentasikan jati diri. Apabila rusak hutan-hutan ulayat, sama artinya rusak pula jati diri mereka.

Masyarakat Kamoro bahkan memberikan nama bagi setiap pohon di dalam hutan, yang menandakan adanya kedekatan mendalam antara masyarakat Kamoro dengan alamnya, termasuk hutan-hutannya. Dapat dikatakan, persepsi masyarakat di sekitar Pegunungan Cycloop, Amungme, dan Kamoro telah mewakili persepsi seluruh masyarakat Papua mengenai alam, hutan, atau tanah mereka.

Berikutnya kita tilik karakter masyarakat Papua yang memandang sakral mitos-mitos. Berbagai sumber informasi dari kalangan masyarakat adat menuturkan, mitos-mitos yang mereka pelihara mayoritas terkait dengan alam dan mengandung nilai-nilai pelestarian. Di dalam mitologi tersebut terdapat pula cerita tentang totem dari suatu suku atau marga-marga.

Secara sederhana, totem dapat dipahami sebagai simbol yang mencitrakan suatu kelompok masyarakat, suku, atau klan. Di dalam simbol tersebut memuat berbagai pandangan, juga konvensi yang disepakati bersama di dalam kelompok. Misalnya, tentang aturan-aturan tabu dan sanksi, jati diri dan watak suatu klan, juga harapan-harapan akan kehidupan di masa mendatang. Biasanya totem menggunakan simbol flora atau fauna yang terdapat di sekitar masyarakat pemiliknya.

Sepintas mengenai totem, kita dapat menjumpai beberapa klan di Kabupaten Merauke, antara lain klan Awaliter yang memiliki totem ikan Arwana irian (Scleropages jardinii). Dalam aturan adat, klan Awaliter harus melindungi totemnya. Mereka dilarang memburu dan memakan ikan Arwana Irian dalam keadaan apa pun. Demikian halnya dengan klan-klan lain di Kabupaten Merauke yang memiliki totem fauna. Masing-masing dilarang memburu totem mereka di alam dan tabu pula memakannya. Bagi yang melanggar aturan tersebut dapat dikenakan sanksi adat, atau bahkan mereka percaya alam pun dapat memberikan sanksi bagi siapa saja yang melakukan pelanggaran. Tidak jarang berbagai totem tersebut dimunculkan dalam bentuk kesenian.

Sebagai kelompok masyarakat dengan cita rasa seni yang tinggi, orang Papua merepresentasikan cerita dan harapan hidup dalam berbagai bentuk tarian, nyanyian, juga motif lukis, ukir, dan pahat. Tarian-tarian dan nyanyian adat banyak berkisah tentang fauna yang dekat dengan mereka. Tarian Balada Cenderawasih, misalnya, merupakan simbol cerita yang berisi kepedihan atas perburuan cenderawasih yang terus-menerus, sehingga saat ini populasinya sangat sedikit di alam. Biasanya tarian-tarian atau terkadang disebut dansa adat oleh masyarakat Papua, diiringi dengan nyanyian berbahasa daerah. Antara dentam tifa, gerakan-gerakan tubuh, dan nyanyian berpadu menyajikan kisah-kisah tentang keadaan alam. Kesenian ini dimiliki oleh semua suku dan marga di seluruh Papua, dengan ciri khas kedaerahan masing-masing.

Di sisi lain, masyarakat Papua di daerah tertentu juga sangat mahir melukis, mengukir, dan memahat. Dalam konteks ini kita akan menelisik dua kelompok masyarakat, yaitu Sentani dan Asmat.

Masyarakat Sentani di Kabupaten Jayapura memiliki keahlian melukis dengan media kulit kayu yang disebut malo atau maro. Mereka juga ahli  mengukir dengan media kayu. Dr. Wigati Setyaningtyas-Modouw membahas dalam bukunya Helaihili dan Ehabla yang terbit tahun 2008 di Adicita, bahwa motif dasar lukisan dan ukiran Sentani adalah lingkaran yang berpusat pada sebuah titik. Motif dasar ini disebut fouw. Pusat lingkaran pada motif fouw melambangkan pemimpin besar adat (ondofolo) sebagai pemegang kendali pemerintahan adat. Segala keputusan yang menyangkut kehidupan sosial masyarakat diatur oleh ondofolo, dan dilaksanakan oleh seluruh masyarakat. Pola demikian berlaku hampir di semua tempat di Papua, sehingga memunculkan istilah “Bila ingin memengaruhi ekornya, pegang dulu kepalanya”.

Selain motif dasar fouw, masyarakat Sentani juga menggunakan motif fauna yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka, antara lain ikan, biawak, kadal, cicak, ular, anjing, kelelawar, dan burung. Masyarakat Sentani menganggap anjing dan kelelawar sebagai nenek moyang, dan pada konteks lain anjing juga berperan sebagai sahabat. Sementara ikan merupakan sumber kehidupan. Orang Sentani menerakan motif-motif tersebut pada tifa, perahu, dayung, piring kayu, serta tiang-tiang dan dinding rumah.

Beralih ke masyarakat Asmat, pola-pola atau motif ukiran mereka jelas terbaca sebagai ekspresi dari hasil interaksi manusia Asmat dengan alam sekitarnya. Don A.L. Flassy membicarakan hal ini di dalam bukunya Refleksi Seni Rupa di Tanah Papua, yang terbit tahun 2007 di Balai Pustaka. Flassy mencatat 25 jenis ornamen ukir dan pahat Asmat yang terkait dengan fauna, termasuk di dalamnya adalah jenis-jenis yang dilindungi. Di antara yang dapat disebutkan di sini adalah imbri kokom atau paruh burung julang Papua (Rhyticeros plicatus), ufir kus wow atau kepala burung kakatua raja hitam (Probosciger aterrimus), pit wow atau ornamen ular, dan bu wow atau ornamen penyu. Masing-masing ornamen memiliki makna tersendiri berdasarkan nilai-nilai adat orang Asmat.

Imbri kokom merupakan simbol pelayanan dan doa-doa untuk panglima perang agar selalu bahagia dan mendapatkan kelimpahan rezeki. Ufir kus wow bermakna peringatan bahwa manusia harus melatih panca indranya demi keselamatan diri sendiri dan masyarakat banyak. Pit wow memiliki makna upaya manusia dalam mengatur strategi untuk mengatasi setiap kesulitan. Adapun bu wow merupakan simbol kesuburan. Ornamen ini berisi makna pengharapan agar manusia selalu memiliki kecukupan makanan dan hasil usaha turun-temurun. Seperti banyaknya telur penyu, demikianlah mereka selalu mengharapkan berkat berkelimpahan.

Sampai di sini kita merasakan kehidupan masyarakat Papua yang harmoni dan penuh filosofi. Ini benar adanya. Berbagai disiplin ilmu membuktikan bahwa masyarakat Papua sanggup memelihara alam yang menjadi hak ulayatnya selama berabad-abad sehingga tetap lestari. Di Papua, tidak terdapat sejengkal tanah pun yang tidak bertuan. Mereka melindungi semua tempat, baik wilayah daratan maupun lautan, sesuai nilai-niai adat yang telah disepakati bersama. Sebagai timbal balik, alam menyediakan sumber pangan, sandang, juga papan yang berlimpah. Nyaris tidak terdapat persoalan dalam hal perlindungan atau peredaran satwa di Papua, bahkan dalam hal konservasi secara lebih luas. Faktanya, hingga saat ini belum terdapat laporan adanya satwa liar endemik Papua yang dinyatakan punah. Meski tidak dapat disangkal, beberapa jenis di antaranya berada dalam kondisi kritis karena jumlah populasinya sangat sedikit di alam, seperti keluarga cenderawasih, terutama cenderwasih kuning kecil (Paradisaea minor). Mengapa?

Keadaan alamiah masyarakat Papua tidak dapat dijamin aman sama sekali dari interaksi dengan dunia luar. Pergeseran mulai terjadi pada masyarakat Papua semenjak adanya transaksi menggunakan uang merasuki kehidupan mereka. Sekitar pertengahan abad ke-19, berbagai komoditas berharga dari Papua mulai diangkut ke luar, bahkan sampai ke dunia Barat. Cenderawasih kuning kecil menjadi primadona di antara berbagai komoditas yang diminati. Keadaan itu berlangsung dalam waktu cukup panjang. Sampai saat ini berbagai pengaruh luar semakin banyak mewarnai tatanan nilai adat orang Papua, ditambah tuntutan ekonomi yang semakin tinggi. Persoalan pun menjadi semakin kompleks.

20190104185049.jpeg

Sebagian masyarakat menjawab segala persoalan itu dengan jalan pintas, memanfaatkan yang masih tersisa di alam secara berlebihan. Perburuan dan perdagangan cenderawasih dan satwa-satwa lainnya masih berlangsung, baik diam-diam maupun terang-terangan. Kus-kus, kasuari, kanguru, penyu, dan berbagai satwa liar yang ditemukan oleh pemburu menjadi terancam. Kerumitan semakin bertambah saat kondisi habitat mereka tidak senyaman dulu. Masyarakat sekitar yang membuka kebun, juga berbagai kasus pembalakan liar menjadi ancaman tersendiri bagi kelestarian kehidupan satwa di alam.

Tercatat di tahun 2018 Balai Besar KSDA Papua menghadapi berbagai persoalan peredaran satwa liar ini, dan sebagian telah masuk ke ranah hukum. Sekadar kilas balik temuan peredaran satwa ilegal di Papua, pada 9 Januari 2018, pihak otoritas Bandara Merauke menemukan NA membawa kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta) yang akan dibawa ke luar Merauke. NA disidangkan dengan dakwaan melanggar UU No. 5 tahun 1990 Pasal 40 ayat (2) Jo. Pasal 21 ayat (2) huruf a, tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Barang bukti yang diajukan ke pengadilan berupa 1.195 ekor kura-kura moncong babi dalam keadaan hidup.

Saat yang sama, Januari 2018, otoritas Hong Kong menggagalkan masuknya 2300 ekor kura-kura moncong babi asal Indonesia. Pelaku penyelundupan adalah warga negara Indonesia dan telah diproses hukum oleh pemerintah Hong Kong. Masih di Bulan Januari 2018, di Bandara Sentani tim BBKSDA Papua bersama stakeholder menggagalkan penyelundupan 210 spesimen burung dalam keadaan mati, beserta 33 lembar kulit mamalia, tiga mamalia, dua paruh burung, dua kaki mamalia, satu kepala mamalia, satu tulang rahang bawah mamalia, satu tulang ekor dan tengkorak reptilia, serta lima kulit reptilia. Pelaku adalah warga negara asing.

Selebihnya, dalam rentang Februari-November 2018 BBKSDA Papua menemukan berbagai kasus lain, termasuk ketika tim melakukan patroli di pasar tradisional Hamadi, Jayapura, dan menemukan penyu hijau yang hendak diperdagangkan. Berbagai catatan temuan itu tentu membuat kita prihatin. Banyak pihak telah melakukan upaya pengawasan, namun pelanggaran masih juga terjadi. Lantas tindakan apa lagi yang mesti diambil?

Mungkin saja tawaran kembali kepada adat dapat menjadi bentuk upaya yang ampuh. Nilai-nilai adat atau kearifan lokal masyarakat Papua telah terbukti sanggup memelihara alamnya hingga berabad-abad. Setiap pimpinan adat, kepala suku, ondoafi, juga ondofolo memiliki kharisma dan pengaruh besar dalam membuat peraturan. Karena karakteristik budayanya, masyarakat Papua sanggup mematuhi peraturan atau keputusan-keputusan yang dibuat pimpinan adat. Ini merupakan karakteristik unik masyarakat Papua, yaitu kepatuhan terhadap aturan-aturan adatnya.

Termasuk hal yang bukan lagi rahasia, bahwa masyarakat Papua lebih patuh kepada keputusan ondoafi atau para pimpinan suku mereka daripada surat keputusan resmi dari lembaga pemerintahan Negara Republik Indonesia. Dengan demikian, peraturan adat memiliki peluang keberhasilan sangat besar dalam pengawasan peredaran satwa liar di Papua. Di sinilah perlunya sinergi antara instansi pemerintah, khususnya BBKSDA Papua, dengan dewan adat. Setiap kasus pelanggaran terhadap satwa liar dapat dilihat dari dua sisi: kebijakan pemerintah dan kebijakan adat. Keduanya bukan untuk dipertentangkan, namun justru saling melengkapi demi kehidupan konservasi yang lebih baik di masa mendatang.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.