Laporan Utama | Oktober-Desember 2018

Kolaborasi Mengonservasi Orangutan Tapanuli

Adanya Forum Bersama juga diharapkan dapat  mengurangi beban pembiayaan yang semula hanya ditanggung oleh pemerintah menjadi tanggungjawab multi pihak. Oleh karena pelaksanaan konservasi merupakan kewajiban para pihak.

Wanda Kuswanda

Peneliti Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli

ORANGUTAN merupakan kera terbesar tersisa di Indonesia yang terancam punah. Pemerintah Indonesia telah menetapkan orangutan sebagai maskot pelestarian hutan untuk menarik perhatian internasional dalam membantu upaya konservasinya.

Ancaman terhadap orangutan terjadi karena kian berkurangnya hutan sebagai habitat mereka. Orangutan kian terisolasi akibat pembukaan lahan untuk perkebunan sawit, pertanian dan budidaya, pemukiman manusia sampai prasarana kehidupan lainnya. Córdova-Lepe et al. (2018) menyatakan bahwa fragmentasi dan berkurangnya habitat alami akibat peningkatan populasi manusia, permukiman dan pertanian menyebabkan hilangnya konektivitas atau penghubung wilayah jelajah satwa sehingga menjadi ancaman serius dalam konservasi satwa liar, termasuk pada orangutan (Kuswanda, 2014).  

Orangutan di Indonesia ada tiga spesies, yaitu orangutan Sumatera (Pongo abelii Lesson), orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus Linnaeus) dan Orangutan Tapanuli. Penetapan orangutan Tapanuli, yang sebelumnya dianggap satu spesies untuk seluruh orangutan di Pulau Sumatera berdasarkan hasil riset genetik yang menyatakan bahwa genetik (hasil uji DNA) orangutan Tapanuli berbeda dengan orangutan Sumatera lainnya, bahkan lebih mendekati susunan DNA dari orangutan Kalimantan (Nater et al., 2017).  Habitat orangutan Tapanuli berdasarkan penemuan langsung baru ditemukan di Kawasan Batangtoru, meskipun berdasarkan identifikasi sarang kemungkinan masih tersebar juga di Kawasan Hutan Barumun.

Penelitian terkait orangutan Tapanuli memang belum banyak karena riset orangutan lebih banyak terfokus di Propinsi Aceh. Program riset orangutan Tapanuli baru dimulai di awal tahun 2000-an. Beberapa lembaga yang melakukan riset dan pengembangan program konservasi orangutan di Hutan Batangtoru adalah OFI/Orangutan Foundation International (2001), Balai Litbang LHK Aek Nauli, Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2003), Conservation International Indonesia/CII, Sumatera yang dimulai sekitar  tahun 2005.

20190104173952.jpg

Berdasarkan yang saya lakukan dari tahun 2003 sampai sekarang telah teridentifikasi bahwa secara morfologi dan perilaku orangutan Tapanuli sedikit berbeda dengan orangutan Sumatera lainnya. Warna bulu orangutan Tapanuli tampak lebih terang kekuning-kuningan (seperti rambut berwarna pirang) dan rambut lebih panjang dan tebal.  Sebaran habitat pun lebih lebar, orangutan Tapanuli mampu hidup dari ketinggian sekitar 300-1.500 meter dari permukaan laut, seperti yang banyak ditemukan di Kawasan Cagar Alam Dolok Sibual-buali dan Dolok Sipirok serta Suaka Alam Lubuk Raya.

Jenis tumbuhan pakan yang dikonsumsi buah dan daun hampir sama, berbeda dengan orangutan di Provinsi Aceh yang cenderung lebih banyak mengonsumsi buah karena sebarannya banyak ditemukan di dataran rendah. Beberapa jenis tumbuhan pakan orangutan Tapanuli yang banyak ditemukan pada hutan dataran tinggi (ketinggian lebih dari 800 mdpl) di antaranya adalah teurep (Artocarpus elasticus), motung  (Ficus toxicaria), asam hing (Dracontomelon dao),  dongdong (Ficus fistulosa), gala-gala (Ficus racemosa), beringin (Ficus benjamina),  hoteng  (Quercus maingayi).

 Perbedaan secara morfologi ini diduga merupakan hasil proses adaptasi untuk bertahan hidup pada hutan dataran tinggi akibat suhu udara yang lebih dingin dan sebaran pohon penghasil buah lebih rendah dibandingkan pada hutan dataran rendah.

Alokasi waktu mencari makan dan bergerak dalam aktivitas harian orangutan Tapanuli hampir sama sebagai akibat sebaran pohon pakan cukup merata di setiap lokasi habitatnya. Tidak ada suatu habitat yang menyediakan pakan yang melimpah di area hutan Batangtoru, terutama pohon-pohon penghasil buah.

Hal menarik lainnya adalah bahwa orangutan Tapanuli lebih banyak membuat sarang pada tumbuhan tingkat tiang, diamater pohon antara 10-20 cm, dengan ketinggian penempatan sarang rata-rata hanya 6-15 meter di atas permukaan tanah, lebih pendek dibandingkan penempatan sarang orangutan Sumatera di lokasi lainnya. Kondisi ini mengindikasikan sebagai strategi orangutan untuk lebih mudah memantau keberadaan predator, terutama manusia yang sejak dulu memasuki kawasan Batangtoru untuk mencari kebutuhan hidupnya, seperti ikan, hasil hutan bukan kayu maupun membuka lahan pertanian maupun perkebunan karet.

Lanskap Batangtoru sebagai bagian habitat orangutan Tapanuli secara keseluruhan diperkirakan seluas 234.399 hektare di bagian barat Provinsi Sumatera Utara. Secara administrasi terletak pada tiga wilayah kabupaten, yaitu Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah. Lanskap ini masih menyisakan hutan alam seluas 142.000 hektare, sisanya merupakan lahan terdegradasi di dalam kawasan hutan dan berbagai bentuk penggunaan lahan lain di luar kawasan hutan.

Untuk hutan alam yang tersisa, sekitar 61% berada di Kabupaten Tapanuli Utara, 29,7% di Tapanuli Selatan dan sisanya 9,3% di Tapanuli Tengah. Ekosistem Batangtoru merupakan perwakilan dari ekosistem hujan dataran rendah dan perbukitan (300 mdpl), hutan batuan gamping (limestone), hutan pegunungan rendah sampai hutan pegunungan tinggi. Kawasan hutan alam  memiliki ketinggian mulai dari 50 meter di atas permukaan laut yang  berada di Sungai Sipan Sihaporas (dekat Kota Sibolga), sampai dengan 1.875 mdpl (puncak gunung Lubuk Raya).

Topografi kawasan secara umum memiliki kelerengan antara 16% sampai dengan lebih dari 60%. Dari pengamatan yang saya lakukan, sebaran habitat potensial bagi orangutan Tapanuli saat ini diperkirakan hanya tersisa pada habitat seluas 138.431 hektare. Sebaran tersebut telah terbagi menjadi tiga blok habitat sebagai berikut :

  1. Blok I (Timur), Blok ini dipisahkan oleh jalan nasional, kebun dan penggunaan lahan lainnya. Luas habitat orangutan di Blok Timur sekitar 44.912 ha
  2. Blok II (Barat), Blok ini dipisahkan oleh jalan nasional dan Sungai Batangtoru. Luas habitat orangutan di Blok Barat sekitar 73.256 ha.
  3. Blok III (Selatan), yang dipisahkan oleh Sungai Batangtoru dengan jalan nasional. Luas habitat orangutan di Blok Selatan sekitar 20.267 ha.

Populasi orangutan Tapanuli tersebar pada berbagai status hutan, mulai dari hutan konservasi, hutan lindung, hutan produksi dan area penggunaan lain. Berdasarkan hasil penelitian penulis, kepadatan orangutan Tapanuli diperkirakan sebesar 0,3-0,78 ind/km2 dengan kepadatan tertinggi ditemukan di hutan dataran tinggi seperti di CA. Dolok Sibual-buali, CA. Dolok Sipirok dan Kesatuan Pengelola Hutan Lindung di Kabupaten Tapanuli Utara. Secara total jumlah populasi orangutan Tapanuli yang tersisa diperkirakan sekitar  495-577 individu. 

Hasil penelitian lain sebelumnya, seperti Simorangkir (2009) menyebutkan di Blok Barat (termasuk Blok Selatan) sekitar 337-421 individu dengan kepadatan populasi yang tinggi ditemukan pada hutan dataran tinggi.

20190104174032.jpg

Dengan perkiraan populasi yang kecil dan tersebar pada tiga sub populasi maka program konservasi orangutan Tapanuli harus menjadi prioritas oleh berbagai kelembagaan terkait. Hal ini karena orangutan Tapanuli tersebar pada berbagai status kawasan hutan maupun lahan masyarakat yang kewenangan pengelolaannya berada pada instansi yang berbeda-beda.

Pelaksanaan konservasi dalam kondisi ini  yang tepat  harus dilakukan melalui pengelolaan kolaboratif/co-management. Dalam sistem pengelolaan kolaboratif akan terbentuk kemitraan antara lembaga pemerintah, komunitas lokal dan pengguna sumberdaya, lembaga non pemerintah dan kelompok kepentingan lainnya untuk bernegosiasi dan menentukan kerangka kerja yang tepat tentang kewenangan dan tanggung jawab untuk melindungi orangutan. Manajemen kolaboratif juga bisa mengakomodasikan kepentingan-kepentingan seluruh stakeholders secara adil dan memandang harkat setiap stakeholders serta membagi secara adil mengenai fungsi pengelolaan, hak dan tanggung jawab.

Untuk mengimplementasikan pengelolaan kolaboratif dengan melibatkan berbagai kelembagaan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, perusahaan swasta, LSM, Perguruan Tinggi  dan masyarakat perlu dibentuk forum/wadah/lembaga multipihak. Pembentukan lembaga multipihak bertujuan untuk memaduserasikan aspirasi, peranan, tugas dan tanggung jawab dari antar lembaga dalam menciptakan kesepakatan program bersama dalam mendukung program konservasi orangutan maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Adanya Forum Bersama juga diharapkan dapat  mengurangi beban pembiayaan yang semula hanya ditanggung oleh pemerintah menjadi tanggungjawab multi pihak. Oleh karena pelaksanaan konservasi merupakan kewajiban para pihak.

Tahap awal yang harus segera dilakukan adalah membentuk Forum Bersama Pengelolaan Hutan Batangtoru untuk memaduserasikan berbagai program yang akan dan sedang dilakukan oleh para pihak terutama dalam mengkonservasi orangutan. Pembentukan Forum Bersama dapat diprakarsai oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara dengan Dinas Kehutanan Propinsi karena kawasan ini meliputi berbagai status hutan dan lintas kabupaten. Harapan ke depan, Forum Bersama dapat memfasilitasi berbagai program konservasi dalam konteks kesetaraan dan keseimbangan antara  aktivitas untuk mendukung perlindungan orangutan dengan program pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Citarum Belum Harum

    Banyak program memperbaiki sungai Citarum, sungai terpanjang di Jawa Barat, yang dijuluki sungai terkotor di kolong langit. Tiap gubernur punya program sendiri dengan anggaran tak sedikit. Ada Citarum Bergetar, Citarum Lestari, Citarum Bestari. Semuanya gagal. Kini muncul Citarum Harum. Kali ini perbaikan lebih masif dan bergaung karena kebijakannya langsung di tangan presiden. Tahun pertama Citarum Harum perbaikan sungai yang berakhir di Muara Gembong Bekasi ini belum terlalu signifikan, tapi menjanjikan. Perlu pola pikir menyeluruh di semua lapisan masyarakat.

  • Laporan Utama

    Perang Melawan Kerusakan Citarum

    Perbaikan Citarum dari hulu ke hilir. Butuh komitmen kuat.

  • Laporan Utama

    Menengok Mastaka Citarum

    Situ Cisanti, kilometer 0 sungai Citarum, kini bersih dari sampah dan eceng gondok. Tujuh mata air mengalir deras.

  • Laporan Utama

    Nyi Santi dari Bumi Pohaci

    Irma Hutabarat menekuni vetiver untuk menyelamatkan sungai yang porak poranda. Citarum membuatnya jatuh cinta.

  • Laporan Utama

    Citarum, oh, Citarum

    Citarum dalam angka.

  • Laporan Utama

    Merusak Lingkungan Belum Jadi Pidana

    Wawancara dengan Taruna Jaya, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

  • Laporan Utama

    Mengatasi Tuna Daya Mengelola Citarum

    Petani di bagian hulu DAS Citarum perlu didorong dalam konteks transformasi komoditas yang lebih menguntungkan secara finansial, yaitu mengganti tanaman hortikultura menjadi kopi dan pohon buah.

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial untuk Perbaikan Hulu Sungai

    Perhutanan sosial merupakan sistem pengelolaan hutan lestari sehingga program ini dapat mendukung pemulihan kondisi DAS Citarum melalui pelaksanaan perhutanan sosial di Wilayah Kerja Perum Perhutani di Provinsi Jawa Barat.

  • Laporan Utama

    Sungai Itu Seperti Tubuh Kita

    Jika wilayah DAS terbagi ke dalam wilayah hulu (atas), tengah dan hilir (bawah), maka tubuh manusia pun terdiri dari bagian atas, tengah dan bawah.

  • Laporan Utama

    Solusi untuk Citarum

    Slogan mempertahankan Citarum bebas limbah dan kotoran wajib dilaksanakan mulai dari setiap RT, RW, desa dan kecamatan yang berinteraksi dengan Citarum. Bentuk forum Kiai Peduli Citarum.