Laporan Utama | Juli-September 2018

Berbagi Bolu Hingga Botak Lucu

Cerita angkatan 48 soal masa orientasi.

Rizka Sya'bana Azmi

Angkatan 48

Kamu tahu apa itu korsa?
Jangan bilang tahu kalau belum mencium bau badan kawanmu saat push up berantai dengan tergesa.
Seakrab apa kamu dengan seniormu?
Jangan merasa akrab kalau belum dicaci, diteriaki namun tetap dilindungi saat orang lain menghakimi.
Sehormat apa kamu kepada ibu dan bapak dosenmu?
Jangan mengaku hormat kalau belum menunggu berjam-jam hanya untuk diceramahi.
Sedekat apa kamu dengan mamang dan bibi?
Jangan anggap sudah dekat kalau hanya mampu menegur saat mereka lewat.
Sedalam apa rasa cintamu kepada hutan?
Jangan berargumen kalau belum mengarungi dingin dan lebatnya rimba.

TIGA tahun sudah meninggalkan kampus, tak lagi bertegur sapa dengan ruang kelas, materi kuliah, praktikum lapang, kesibukan berorganisasi di himpunan maupun fakultas, dan segala tetek bengek perguruan tinggi. Belum lama memang, namun entah mengapa, membuatku mudah sekali menaruh rindu dengan masa itu. Masa ketika seluruh asa dan cita terus bergelora, segala caci dan maki yang menguji emosi, sekaligus penguat langkah kaki.

Aku mungkin tak pandai mengorek kenangan lama, apalagi menghafal persis setiap detail peristiwa. Tapi aku ingat, bagaimana aku bersama teman-teman seangkatanku memulai perjalanan kami dalam suka dan duka, menyulap resah menjadi petunjuk arah, dan menertawakan beban serta kebodohan yang datang silih berganti memenuhi ruang abu-abu kami.

Berburu Bolu dalam Masa Orientasi

Pagi itu, kami membuka mata lebih awal dari biasanya. Pukul 06.00 WIB adalah batas waktu yang ditoleransi panitia agar kami tiba di depan Student Centre, lengkap dengan segala atribut yang menempel dari ujung kaki hingga kepala, dan tak lupa mengantongi “teka-teki” yang telah ditugaskan sebelumnya.

Soal teka-teki, hampir dipastikan kami selalu kerepotan dibuatnya. Bukan hanya memutar otak untuk memecahkannya, namun juga harus mewujudkannya, bersama. Menyatukan 360 kepala dalam satu suara memang tidak mudah, namun kami tak ingin begitu saja menyerah. Komunikasi dan koordinasi adalah kunci utamanya.

Hampir semua clue selalu menyiratkan makna “seragam satu angkatan”. Ya, sejak awal kami sudah dibekali nilai korsa, dididik untuk satu rasa, sama rata, meskipun kami individu yang berbeda. Artinya, tidak ada ketimpangan atau pembedaan satu sama lain. Satu senang semua senang, begitu pula sebaliknya. Prinsip tersebut yang selalu berusaha kami pegang hingga akhir kebersamaan kami di fakultas, kini, dan nanti.

Dari sekian banyak teka-teki, sarapan maksimal Rp 1.000 adalah soal yang paling membuat kami pusing tujuh keliling. Kami diminta membawa snack atau kue pengganjal perut dengan harga tidak boleh lebih dari seribu rupiah. Bukan kami tidak mampu memecahkan teka-tekinya, tapi kami dibuat ketar-ketir mendapati kabar tempat produksi snack yang kami incar dilahap si jago merah, tepat satu hari sebelum pelaksanaan kegiatan masa orientasi. Roti GS. Yup! Ia menjelma menjadi benda langka, berharga, namun sulit ditemukan ketika itu. Kami sampai harus memburu roti dengan lima rasa tersebut ke tiap swalayan, toko, dan warung-warung di seluruh Bogor, Depok, Jakarta, hingga Kota Kembang.

Aku ingat betul betapa cemasnya kami menunggu kabar sang roti sembari mengerjakan atribut dan tugas-tugas lain di pelataran Gladiator. Abdul, penanggung jawab sementara angkatan kami saat itu juga tak kalah sibuk hilir mudik memantau kabar teman-teman di lapangan dan memastikan kelengkapan lainnya. Raut wajahnya tampak tak tenang meski sering kali kami mencoba menggoda dan menghiburnya.

Banyaknya penugasan tak ayal membuat kami lupa waktu. Tak terasa, langit semakin gelap dan kami pun terpaksa melanjutkan pekerjaan di kos mengingat panitia menetapkan jam malam. Alasannya sederhana, supaya kami aman dan tak berkeliaran sementara mereka berjaga saat tengah malam. Hingga akhirnya kami mendapati kabar bahwa, roti GS tidak tersedia hampir di seluruh tempat. Sekalinya ada, pasti sudah buluk alias expired. Alhasil, kami pun segera mencari alternatif snack lain secepat mungkin, mengingat malam semakin larut. Lagi-lagi, bukan soal jenis dan harganya yang harus kami pikirkan, namun juga ketersediaannya sebanyak 360 buah dalam waktu semalam saja.

Dengan segala pertimbangan, kami pun menjatuhkan pilihan pada biskuat bolu. Kami pikir semua kriteria dimiliki oleh roti lembut dengan dua varian rasa ini. Tak banyak membuang waktu, beberapa teman kami segera meluncur. “Ribet banget ngambilin uang ke 26 kos Bara, Balio, Radar, Perwira, sampai Cibanteng karna gue enggak ada duit buat menalangi. Setelah sebelum jam 6 pagi mesti standby di GWW buat membagi bolu ke masing-masing kelompok. Gilak! Tapi di situ serunya,” kenang Bovi, salah satu teman kami yang ikut wara-wiri saat itu.

The real definition of cantik, elok, dan perkasa, bukan?

Gara-gara Hamdani..

Cerita lain datang dari teman kami, Hamdani. Salah satu tradisi khas dari kegiatan orientasi fakultas kami yaitu, para lelakinya harus dibotaki. Bukan semata-mata dibotaki tanpa tujuan, tapi lagi-lagi ini demi kesetaraan dan kerapian. Jadi, selain sibuk memecahkan teka-teki, memburu bolu, bikin nametag, buku, pin, marka, lagu angkatan, yel-yel dan jargon kelompok, serta mendiskusikan tugas-tugas lainnya, kaum lelaki harus disibukkan pula dengan memotong rambut dengan format 1-2-1. Satu senti kiri-kanan, dan dua senti atas.

Tibalah hari pertama masa orientasi, dan seperti biasa kami mengikuti seluruh rangkaian dengan hati riang bercampur tegang. Riang karena kami mulai diperkenalkan dengan rumah kedua kami, siapa saja yang ada di dalamnya, dan apa saja yang akan kami lewati nantinya. Di sisi lain, kami pun tak memungkiri rasa tegang. Sejak hari pertama mendengar hentak kaki anggota Komisi Disiplin saja sudah membuat kami mematung seketika, apalagi berani mengangkat kepala. Riuh teriak abang dan teteh senior silih saut hampir tak ada beda, sama-sama keras dan kuat, menciutkan nyali kami agar menurut saja dan tidak mencari gara-gara.

Lalu, sampailah kami pada akhir kegiatan di hari pertama yaitu, evaluasi. Para senior berpencar mengitari barisan dari ujung ke ujung, memasang wajah galak persis di depan wajah lugu kami, dan membeberkan kesalahan-kesalahan yang kami lakukan pada hari itu, dari yang besar hingga yang paling sepele. Ada perasaan marah, kesal, dan sesekali dendam dengan sikap mereka yang seolah-olah berkuasa atas hidup kami ketika itu, namun kami tahu bahwa mereka hanya sedang berusaha mendidik kami, menjalankan peran antagonisnya, bukan benar-benar meneriaki, memaki, apalagi membenci kami.

Di tengah ketegangan suasana di dalam Ruang Sylva Pertamina, tiba-tiba salah satu teman kami Hamdani, ditarik keluar barisan oleh Bang Deri, Kepala Divisi acara ketika itu dan diketahui bahwa potongan rambutnya bukan 1-2-1, melainkan lebih pendek dibanding teman-teman yang lain. Tidak heran, baru hari pertama kami sudah dimarahi habis-habisan, dicap tidak kompak karna tidak mengingatkan teman seangkatannya. Alhasil, panitia meminta seluruh anak laki-laki memotong ulang rambut mereka hingga benar-benar seragam. 

Agar tak mengulang kesalahan, kami memanggil dua tukang cukur untuk membenahi 161 kepala. Dengan dalih tak mau lagi kena amukan senior, para lelaki harus mau memotong ulang rambut mereka sependek 0,5 cm dan mesti rela mengantre dieksekusi sejak pagi. Hamdani, sang biang kerok hanya bisa tertegun menyaksikan satu persatu teman seangkatannya terkena getah akibat ulahnya.

Dari momen itulah diketahui bahwa, sebetulnya ia sudah memotong rambutnya dengan formasi 1-2-1, namun karna rambutnya ikal, tipis, dan carang alias jarang-jarang, tak aneh jika senior mengira rambutnya lebih pendek dari yang lain. Namun, meski ia telah sampaikan pembelaannya berkali-kali, teman-teman yang lain sudah telanjur kesal dan tetap meluapkan kekesalan mereka dengan omelan atau sekedar ocehan menyebalkan, yang kemudian berujung gelak tawa karena sama-sama menertawakan kepala temannya, yang membuat mereka semakin sulit dibedakan.

***

Terlalu banyak kenangan yang hinggap dan melekat kuat di relung terdalam hati ini. Jejak nostalgia yang selalu berhasil membuat kami bertukar tawa dan pilu, menghadirkan haru yang membiru, hingga berujung desakan untuk segera bertemu. Mars Rimbawan, hutan Cikabayan, P2EH dan P2H, Forester Cup, OMI, hingga memakai toga di Graha Widya Wisuda adalah kenangan kami semua. Terima kasih, Fahutan...

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Kabar Baru

    Cinta Lingkungan di Masa Pandemi

    Pandemi bisa menjadi kesempatan lebih ramah lingkungan. Dimulai dari cara kita memproduksi dan mengolah sampah rumah tangga.

  • Surat

    Forest Digest Berusia 4 Tahun

    Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang lestari.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Sekretariat Bersama untuk Reforma Agraria

    Pemerintah membentuk sekretariat bersama WWF Indonesia untuk memperbaiki dan mempercepat reforma agraria dan perhutanan sosial.

  • Kabar Baru

    Bogor Akan Buka Wisata Hutan Kota Setelah Kebun Raya

    Satu lokasi sedang disiapkan di hutan penelitian Darmaga yang terdapat situ Gede dan perkantoran CIFOR. Potensial menjadi hutan penelitian dan wisata pendidikan karena strukturnya masih lengkap.

  • Surat dari Darmaga

    Cara Menumbuhkan Inovasi di Birokrasi

    Birokrasi kita lambat dalam membuat inovasi karena terjebak pada hal-hal teknis yang dikepung banyak aturan. Perlu terobosan yang kreatif.

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.