Laporan Utama | Juli-September 2018

Kegantengan Naik 100% Setelah BCR

Menjadi senior itu ternyata susah. Bangga setelah lulus masa orientasi.

Anonimous

Angkatan 45

Fahutan! Asyik!
Asyik! Fahutan!

TERIAKAN-teriakan tiba-tiba merusak ketenangan pagi yang cukup berkabut di Gedung DAR. Memaksa langkah lari kecil kami menjadi semakin cepat. Pendamping anak kelompok menaikkan suara, yang sebelumnya lemah lembut kepada kami, menjadi agak berteriak.

"Ayo, cepat lari!" seru mereka.

Sial benar, masih sepagi ini kami sudah berlari-lari dengan atribut khas Bina Corps Rimbawan (BCR). Sebenarnya waktu itu kami sudah siap satu jam sebelum waktu yang ditentukan panitia untuk berkumpul. Tapi, yang namanya banyak orang dengan karakter dan kebiasaan masing-masing, pasti ada satu dua yang luput. Kami masih menunggu satu orang anggota kompi yang belum hadir. Dan berakhir dengan langkah kami yang semakin cepat untuk tiba di lapangan DAR Fahutan. Lebih baik mengorbankan satu kepala daripada seluruh angkatan, pikir kami waktu itu. Nafas masih tersengal ketika panitia berwajah sangar dan memakai ban merah di lengan mulai berteriak di depan wajah kami.

 "Kalian telat 5 menit, push up lima seri!" 1 seri adalah satuan yang dipahami sebagai 10 kali push up, 5 seri berarti 50 kali.

Kami push up dengan agak memaki dalam hati. Sialan. Tekanan fisik tanpa tempaan mental tampaknya belum membuat panitia puas. Satu persatu kami didatangi oleh beberapa panitia. Bergantian. Teriakan demi teriakan sudah menghiasi pagi pertama BCR 45.

Tak lama setelah sarapan fisik kami selesai, datang seorang laki-laki plontos, bermata sipit, dan mengenakan atribut BCR, datang dengan tergopoh-gopoh. Keringat yang membasahi kepala menandakan bahwa dia berlari sepanjang jalan menuju DAR. Satu panitia ber-ban merah menghampirinya.

 "Mau apa kau?" panitia bertanya dengan logat Batak.

"Ikut BCR, Bang," jawab laki-laki itu lemas.

"Woy, ini lihat ada kawan klen yang baru datang."

Kami semua segera memandang ke arah sumber suara. Kami segera menebak-nebak apa yang akan dilakukan panitia karena kelalaian ini. Kami yang hanya telat 5 menit saja, sudah dianugerahi 5 seri. Apalagi dia yang telat sampai setengah jam.

 "Klen ini Fahutan, satu korsa, enggak ada yang peduli dengan kawan klen ini? Kenapa enggak klen bangunkan dia? Kesini kau! Siapa namamu? Sudah jam berapa sekarang?" pertanyaannya beruntun.

"Ng..ng..nganu, Bang…”

"30 porsi. Sekarang!” belum habis jawaban, perintah untuk push up 30 porsi sudah menyambut.

Bisa dibilang, Komisi Disiplin adalah peran terpenting dalam BCR. Kami semua terdiam. Sebagian tertawa dalam hati karena melihat seorang kawan dihukum 30 seri. Seperti balas dendam, karena sebelumnya, gara-gara dia juga kami mendapat 5 porsi. Masih dapat 20 kali push up, tiba-tiba koordinator komdis berteriak.

 "Kenapa klen diam? Enggak kasihan klen liat dia push up sendiri? Senang klen lihat kawan sengsara? 10 porsi!"

Kalimat lebih baik mengorbankan satu kepala daripada satu angkatan yang tadi sempat kami yakini, segera patah. Pagi-pagi, hari pertama BCR, gara-gara satu orang, kami sarapan dengan push up 15 porsi. Setelah berpuluh-puluh kali push up, pendamping AK dan divisi acara memainkan perannya. Cooling down. Mengembalikan mental kami yang sudah jatuh.

Lalu kami digiring menuju ke gedung DAR. Panitia acara segera mengambil alih untuk mengisi kegiatan hari pertama itu dengan profil Fakultas Kehutanan IPB dan materi-materi lapangan sebagai bekal kami untuk masuk ke dunia kehutanan. Kami menikmati kegiatan dalam kelas layaknya surga. Canda mulai berani kami lakukan setelah satu per satu AK menampilkan pertunjukan yang sebelumnya ditugaskan kepada kami. Di akhir acara, kami dibariskan di dalam ruangan. Divisi acara keluar gedung, hanya tinggal beberapa saja.

Lalu, dak! Pintu DAR dibanting dan semua divisi Komdis mulai masuk gedung. Deg. Jantung kami kembali berdetak lebih cepat. Divisi medis melakukan sweeping untuk menanyai apakah ada yang punya riwayat jantung. Satu dua orang ditarik keluar dari gedung. Suasana semakin mencekam. Evaluasi kegiatan hari ini sedang berlangsung.

"Kami liat, banyak kesalahan yang klen buat hari ini. Ketua Angkatan! Maju"

"Siapa namamu?"

"Nasir, Bang."

"Coba kau sebutkan kesalahan apa saja yang klen buat hari ini.”

Nasir menyebutkan kesalahan-kesalahan yang kami buat di hari itu, diiringi dengan teriakan-teriakan beberapa panitia ke arahnya. Komdis lain segera menyebar ke arah kami untuk memberikan tekanan mental yang sama. Hari pertama kami, berakhir dengan push up berpuluh kali.

Hari kedua pun berlalu dengan push up dan bentakan sepanjang hari. Hari ketiga merupakan puncak kegiatan BCR di kampus saat itu. Kami sudah mulai beradaptasi dengan tempaan fisik dan mental dari panitia di dua hari yang lalu. Teriakan dan push up sudah jadi kawan akrab kami. Setelah melewati berpuluh push up, kelompok dibagi ulang. Artinya, kami harus menghafal identitas kawan satu kelompok lagi. Hal yang sudah kami lakukan di hari pertama. Setelah kelompok selesai dibagi, satu per satu AK dilepas ke lapangan oleh divisi acara. Pendamping AK menyemangati kami dan menyuruh kami untuk menyanyikan lagu angkatan.

Hari ketiga sebagai materi lapang waktu itu masih mengadopsi pos-pos. Sepanjang jalan, akan siaga senior yang menjaga pos dan memberi tugas. Masing-masing pos berbeda tema. Dari pos pertama, perasaan kami sudah tidak enak. Karena kami melihat beberapa orang yang memakai seragam bebas yang belum pernah kami lihat. Sebagian pernah kami lihat di Warkop Bageur. Senior Fahutan angkatan 42 ke atas. Kami mulai membenarkan cerita-cerita kawan mengenai ngerinya BCR di Fahutan. Kalau boleh dibilang, mulai angkatan tua bisa hadir di sana.

Di pos pertama kami mendapat penugasan sederhana. Dimulai dengan larangan tertawa dan komandan regu yang memberikan laporan dengan mengganti huruf vokal menjadi i semua.

"Lipir, kimi diri iki simbilin siip minirimi tigis!" Para senior tertawa. Kami diam menahan tawa. Sekali ada yang terlihat tertawa, bayangan push up sudah menanti.

 Apa yang paling susah di dunia ini? Ya, menahan tawa. Jadilah kami meninggalkan pos pertama setelah push up berpuluh kali. Beberapa pos kami lewati dengan baik. Tibalah kami di pos survival. Di sini, semua mendapat penugasan untuk berpencar mencari bahan-bahan dari hutan yang bisa dimakan. Tumbuhan dan hewan boleh. Kami menyebar. Berusaha untuk tidak mencari hewan. Karena kami tahu bahwa apa yang kami bawa, nanti akan kami makan. Waktu yang ditentukan sudah habis, kami kembali membentuk barisan. Kami membuka tangan untuk menunjukkan bahan makanan yang kami dapat.

"Wah, semuanya daun-daunan. Kurang protein hewani ini. Bang, kasilah ke mereka protein hewani," kata seorang senior. Ternyata, strategi panitia dan senior lebih matang dari kami. Sekantung belalang hidup sudah siap. Masing-masing kami harus mengambil satu.

"Ikuti instruksi saya. Jangan ada yang melanggar perintah saya. Buka mulut!" seorang senior ambil alih. Di ujung, mulai terdengar seorang kawan wanita yang mulai terisak. "Masukkan belalang ke mulut. Rasakan belalangnya." Tangisan kawan mulai mengeras.

“Kunyah!”

Kawan yang tadi menangis langsung memuntahkan belalang itu. "Kenapa? Enggak enak ya? Bang minta lagi dong, ini katanya enggak enak. Cari yang gede, Bang, pasti lebih enak. Keluarkan lidah!”

Kami menjulurkan lidah. Memperlihatkan belalang yang habis kami kunyah. "Bang, ini ada yang doyan. Belalangnya sudah ditelan. Minta lagi bang. Tiga ya!"

Mampus.

"Haus, ya? Kami beri minum, semua harus terbagi,” kata seorang senior. Kami minum satu gelas cairan hijau. Itu adalah jus petai!

Tak terasa, pos terakhir sudah terlihat. Pos terakhir adalah tempat reuni para senior dan alumni. Peserta diarahkan untuk berendam di dalam lumpur. Push up masih saja menjadi hukuman utama. Bedanya, kami semua push up di dalam lumpur. Teriakan senior dan alumni menggema di tengah kubangan. Pos terakhir ini merupakan pos evaluasi di hari terakhir. Semua kesalahan dibebankan di pos itu. Fisik dan mental kami kembali ditempa berkali lipat dari sebelumnya.

Hari sudah hampir magrib. Kelompok terakhir sudah tiba di lapangan DAR. Panitia acara memberikan pengumuman bahwa hari itu adalah hari terakhir ospek di kampus. Acara puncak akan dilaksanakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat.

Waktu belum ditentukan. Selama menunggu puncak acara, kami semua harus memakai pin tanda pengenal mahasiswa kehutanan kemana pun kami pergi. Dan harus siap menerima perintah dari senior dan alumni saat bertemu di luar kampus termasuk pada kunjungan ke kos.

Puncak Bina Corps Rimbawan dilaksanakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat, kecamatan Cibadak Kabupaten Sukabumi. Dua hari satu malam dengan acara penutupan penyematan jaket rimbawan. Kami merasa kegantengan dan kecantikan naik 100 persen.

***

Setahun berlalu. Giliran kami menjadi panitia.

.......

(Rapat kepanitiaan sedang berjalan)

.......

“Sialan. Kalau tahu jadi panitia lebih sengsara, mending kami jadi peserta sajalah!”

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.