Laporan Utama | Juli-September 2018

Budak Bageur Tukang Nongkrong

Transisi kuliah ke kurikulum baru mayor-minor. Banyak mata kuliah yang belum diambil sudah hilang dan ikut kuliah penyetaraan.

Kaka Prakasa

Pemulung angka dan penggiat data, F/LOSS Enthusiast

ANGKATAN kami masuk tahun 2004, dua bulan sebelum gempa dan tsunami di Aceh. Kami terbagi menjadi 10 jurusan yang terdiri dari program D3 dan S1 pada angkatan selanjutnya (42) program D3 dipisahkan dari kampus Fahutan. 

Awal masuk IPB kami mahasiswa S1 selama setahun kuliah Tingkat Persiapan Bersama (TPB) sedangkan mahasiswa D3 telah masuk ke kampus Fahutan terlebih dahulu. Namun sesungguhnya setelah masa perkenalan kampus IPB (MPKMB) kami telah bertemu satu sama lain, berkenalan dan bekerja sama satu sama lain di momentum masa perkenalan kampus Fahutan yang waktu itu bernama RIMBA-E.

Anak baru tukang ribut
Seperti lazimnya mahasiswa baru di kampus kami sering kali berkumpul untuk berbagi persoalan sesama perantauan. Pernah ketika di asrama suatu hari beberapa kawan dituduh jadi pengedar narkoba oleh senior asrama TPB. Senior itu menyidang di kamarnya. Saat sidang berlangsung kawan-kawan lain berkumpul bersiap untuk mengepung kamar asrama senior tersebut. Syukur tidak terjadi apa-apa dan permasalahan berhasil diselesaikan secara kekeluargaan.

Kasus lainnya adalah suatu hari ketika kami ditantang bertanding futsal oleh fakultas lain yang berakhir rusuh. Sebagian besar dari kami bolos praktikum mata kuliah TPB. Ketika pertandingan baru berjalan beberapa menit terjadi pelanggaran oleh pihak lawan yang membuat kami, yang awalnya menonton, turun dari tribun dan rusuh di lapangan. Meski demikian akhirnya perseteruan berhasil diredam oleh senior-senior Fahutan pada waktu itu,

Aktivitas dan keorganisasian
Beberapa orang di angkatan kami banyak aktif di berbagai organisasi Unit Kegiatan Mahasiswa di IPB bahkan terlibat dalam pembentukan beberapa UKM baru, yang paling kontroversial bersama-sama dengan beberapa senior Fahutan dan Fakultas lain pada saat itu  mendirikan (MAX!!), UKM musik IPB di saat sulit sekali untuk mengadakan pagelaran  musik pada masa itu.

Pada tahun selanjutnya, kawan-kawan S1 mulai masuk kampus. Intensitas berkumpul menjadi semakin sering. Kantin bivak lama (sekretariat Rimpala), yang sekarang menjadi auditorium Silva Pertamina, menjadi salah satu saksi berbagai aktivitas berkumpul kami. Di sana kami mengadakan acara Tahunan mahasiswa yang di dalamnya termasuk ada acara musik. Di sana juga kami mengenal senior-senior lebih dekat. Pada tahun tersebut kami sudah mulai masuk ke dalam struktur organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa. Sebuah prestasi menurut kami ketika dari angkatan kami yang bisa dibilang anak baru menduduki posisi jabatan wakil ketua BEM, yang lazimnya pada saat itu dijabat oleh angkatan di atas kami.

Keaktifan kami di berbagai organisasi pada kala itu bisa jadi membuat kami lebih dekat dengan kawan-kawan seangkatan maupun dengan senior dan dosen aktivitas tersebut berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. Pada masa itu juga mulai terlihat beberapa kos yang menjadi basecamp angkatan. Di sana kami biasa berkumpul untuk sekedar bersenda gurau ataupun membicarakan persoalan-persoalan kampus hingga persoalan pribadi selain di kampus dan warung kopi. 

Tahun ketiga kuliah adalah tahun keemasan bagi angkatan kami di mana banyak dari kami berada di puncak keorganisasian dan Departemen Silvikultur dibentuk yang akhirnya bertambah pula organisasi himpunan profesi di Fahutan, di samping ada FMSC, Himasiltan, Himakova kemudian kini ada TGC. Pemberian nama TGC diusulkan oleh ibu Lailan Syaufina dan logo TGC yang waktu itu disayembarakan dimenangi salah satu dari kami, yaitu Cendana Tampubolon. Nama masa perkenalan departemen diusulkan bernama Belantara di Alaska—nama salah satu basecamp mahasiswa Fahutan.

Budak bageur
Keberadaan warung kopi memiliki peranan penting bagi kami karena di sanalah awal mula keakraban lintas angkatan terjalin. Di sana angkatan yang lebih muda tidak sungkan untuk bercerita dan bercengkerama dengan kami. Begitu juga kami merasa lebih cair dengan angkatan di atas kami. Dari persoalan SPP, nilai perkuliahan, hingga masalah pacaran bergulir cair. Di sanalah kami dapat meretas komunikasi lintas generasi membuat kami lebih luwes dalam bergaul dengan lintas angkatan.

Di depan gang Bara III ada sebuah warung kopi kaki lima yang cukup kekinian. Di sana kami lebih sering berkumpul dengan generasi-generasi di bawah kami. Warung kopi itu bernama Budak Bageur, yang kemudian kami jadikan nama angkatan.

Poin penting keberhasilan dalam meretas komunikasi antar angkatan membuat kami semakin percaya diri untuk menanamkan nilai-nilai Fahutan dengan cara menyesuaikan kondisi pada masa itu. Antara lain kami mencoba membuat rapat-rapat keorganisasian dalam Fahutan menjadi lebih singkat, sehingga lebih banyak waktu bagi kami untuk nongkrong, jika sebelumnya kami menerima slogan “jangan sampai kuliah mengganggu aktivitas organisasi”, saat itu kami menanamkan “jangan sampai organisasi mengganggu nongkrong”.

Perkuliahan
Seperti pada angkatan-angkatan lainnya kami berkuliah pada waktu dan di tempat yang telah ditentukan, pada waktunya sebagian dari kami menjadi asisten dosen. Selanjutnya kami menjalani P3H (Praktik Pengenalan dan Pembinaan Hutan) kemudian dilanjutkan Praktik Kerja Lapang atau KKN. Terakhir adalah penelitian, seminar, dan sidang skripsi, hingga akhirnya wisuda.

Angkatan kami adalah angkatan passing out. Kurikulum berubah pada angkatan selanjutnya menjadi mayor-minor sehingga banyak mata kuliah yang belum sempat diambil sudah hilang.  Belum lagi bagi kami yang harus mengulang perkuliahan karena nilai sehingga kami harus melakukan kuliah penyetaraan karena jumlah SKS berkurang. Selain itu ada yang harus membuat kelas khusus dengan jumlah mahasiswa yang sangat sedikit membuat sebagian dari kami harus merasakan kuliah hingga tingkat akhir.

Yang akan kami kenang bersama adalah meninggalnya saudari kami, Merry Permata Sari, mahasiswi program studi Budidaya Hutan, pada saat praktikum inventarisasi hutan di HPGW (Hutan pendidikan Gunung Walat) karena sesak nafas. Ini adalah kehilangan yang besar bagi kami.

Ada beberapa kawan kami yang kemudian memutuskan tidak melanjutkan perkuliahan di Fahutan dan tentunya banyak yang lulus. Problematika kelulusan sama seperti dengan angkatan lain, kekurangan SKS menjelang seminar sehingga harus ikut mata kuliah pilihan di tingkat akhir, kehilangan data sehingga harus mengulangi penelitian, ada yang ditekan untuk segera lulus karena dianggap menjadi biang keributan antar mahasiswa, hingga mengejar-ngejar dosen untuk konsultasi. Walaupun demikian kami akhirnya lulus, meski beberapa dari kami harus menjalani kehidupan kampus hingga hampir 7 Tahun.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.