Laporan Utama | Juli-September 2018

Antara Cijulang dan Nusakambangan

Angkatan 33 mempersembahkan tulisan ini untuk mengenang Dani dan Heri, teman terbaik yang kami sayangi.

Bagja Hidayat

Mengelola blog catataniseng.com

PAGI masih harum tanah ketika para mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB di rumah Pak Supin di Cijulang, Ciamis, Jawa Barat, baru selesai sarapan. Mereka gabungan tiga jurusan angkatan 33 yang sedang Praktik Umum Pengelolaan Hutan (PUPH) tahun 1999. 

Angkatan 33 diberi nama “Angkatan Blandong” yang masuk kuliah tahun 1996. Blandong adalah sebutan orang Jawa untuk para penebang kayu yang dipekerjakan oleh pemerintah kolonial. Angkatan ini berjumlah 315 mahasiswa.

Mereka harus menempuh praktik PUPH pada akhir tingkat III. PUPH waktu itu terbagi dalam dua tahap. Pertama, Praktik Umum Kehutanan (PUK) berupa analisis vegetasi di hutan pantai dan pegunungan. Kedua, Praktik Pengenalan dan Pengelolaan Hutan praktik pengelolaan di beberapa Kesatuan Pengelolaan Hutan milik Perhutani.

Para mahasiswa tinggal di rumah-rumah penduduk selama praktik sebulan itu, seperti satu kelompok yang tinggal di rumah Pak Supin itu. Pagi itu, 12 Agustus 1999, mereka harus bersiap melanjutkan perjalanan, bertukar tempat dengan kelompok dari Pangandaran yang baru selesai meneliti vegetasi pantai. Juga selama dua pekan.

PUK-P3H angkatan 33 terbagi ke dalam dua kelompok besar: di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Seperti di Jawa Barat, kelompok Jawa Tengah juga terbagi dalam dua grup. Ada yang meneliti vegetasi pegunungan di Baturaden, Cilacap, dan satu kelompok lagi menganalisis vegetasi pantai di pulau Nusakambangan.

Mereka yang tinggal di rumah Pak Supin di Ciamis adalah kelompok yang dipimpin Doni Arif  Wibowo dari jurusan Konservasi Sumber Daya Hutana. Anggotanya, antara lain, Dani Hanifah Darusman, Donna Satrio, Nia Triana Sari, Muslina Siregar, Lina Yuanita, Badar Mubarok, Heri Basuki. Pagi itu Donna mengumumkan ia dan Nia akan mandi di urutan pertama.

Di Cijulang, mandi, cuci, dan kakus harus ke sungai besar. Waktu itu sungai sedang surut sehingga untuk mencapainya harus menuruni tangga. Jika sore para mahasiswa berendam di palungnya, mengajari Heri, dari jurusan Teknologi Hasil Hutan, berenang.

Tapi Donna, Nia, dan anggota perempuan harus mencuci piring dan alat-alat makan sisa sarapan. Sehingga Dani dan Heri yang kemudian minta izin ke sungai terlebih dahulu.

Hari kian terang ketika para mahasiswi selesai mencuci piring dan membereskan ruang tamu yang berantakan. Mobil yang akan mengangkut mereka juga sudah tiba di pekarangan rumah Pak Supin. Tapi Dani dan Heri belum selesai juga.

Doni berinisiatif menyusul. Tapi ia kembali dengan wajah pucat. Dalam rusuh, ia mengatakan di pinggir sungai hanya menemukan celana lapang Dani. Heri dan Dani tak ada. Seluruh isi rumah pun heboh. Kabar segera disebarkan dan semua mahasiswa memburu arah sungai. Mereka yang masih leha-leha menunggu giliran mandi langsung loncat begitu mendengar berita itu.

Mereka terkesiap melihat tingginya muka air begitu sampai di bibir sungai. Rupanya semalam hujan lebat di hulu. Banjirnya baru tiba pagi itu. Di tempat MCK terlihat bekas ranting basah yang tercerabut. Para mahasiswa segera menuruni tebing dan berteriak memanggil Heri dan Dani. Tubuh Heri ditemukan 200 meter dari tangga, dengan pakaian lengkap, bahkan sabuk masih terikat di celananya. Heri mungkin masuk sungai hendak menolong Dani, tapi air terlalu deras.

Baru esoknya Dani ditemukan. Kami semua terpukul dan berduka. Kami akan selalu mengenang mereka, untuk keberaniannya, untuk senyum yang selalu menghias tiap kali mereka berbicara dan bercanda. Kami akan selalu menyayangi mereka berdua....

***

DI Jawa Tengah, para mahasiswa kelompok hutan pantai menyelesaikan analisis vegetasi di hari pertama hingga sore. Mereka tinggal di kamp milik Perhutani di pulau utama sehingga harus menyeberang selat dengan kapal lalu naik bus untuk sampai ke lokasi penelitian di sisi pulau sebaliknya.

Hanya ada satu bus yang tersedia untuk mengantar bolak-balik dari pelabuhan Sodong ke lokasi penelitian. Itu pun sudah reyot. Tak ada kendaraan lain selain bus sebesar Kopaja yang bocel-bocel catnya, tak lagi punya pintu, dan jendela kaca copot semuanya.

Dalam kelelahan setelah survei vegetasi, para mahasiswa ini meninggalkan lokasi penelitian menuju Pelabuhan Sodong. Jarak tempuh kira-kira satu jam karena rutenya membelah pulau dari ujung ke ujung.

Kartika Ryan Sanjaya masih melek dalam setengah perjalanan itu. Ia baru bangun dari tidur ayam yang sebentar. Antara sadar dan masih mengantuk, Ryan merasa bus ini tak berjalan dengan semestinya. Di jalan berkelok bus selanang-selonong tak terkendali. Di jalan lurus jalan bus juga tak ajek. Ryan, dari jurusan Manajemen Hutan, punya firasat kurang enak dalam perjalanan itu.

Ketika tiba di jalan yang menyempit, muncul dari arah berlawanan truk besar. Bus yang terengah karena menanjak itu oleng ke kanan menuju arah truk yang melaju di turunan. “Tabrakan nih,” Ryan membatin. Dugaan Ryan terbukti. Kepala bus dan truk itu bertemu di jalan yang tak bisa menampung dua mobil.

Truk itu terpelanting tertabrak bus. Sebaliknya, bus oleng ke kiri menuju parit sedalam 2,5 meter. Karena bus tak berpintu dan berjendela, para mahasiswa yang terlelap selama perjalanan itu terlempar ke luar mobil. Mereka yang berada di sisi kanan terjerembap dan menindih temannya yang lain di kursi sisi kiri.

Hermawan, juga dari MNH, yang paling parah. Karena ia tak kebagian kursi, bersama beberapa mahasiswa lain, ia berdiri bergelantungan di pintu belakang. Kakinya terserimpet besi pintu sehingga tak bisa meloncat ketika ia rasakan bus hendak terjun ke parit.

Hermawan, yang ingin dipanggil Erick tapi teman-temannya malah memanggilnya Golek, ambruk tertarik oleh gravitasi, terdorong oleh tubuh teman-temannya lalu tertindih badan bus. Ia terimpit di tumpukan paling bawah. Lebih celaka lagi, keningnya mendarat di batu. Dari bawah keras, dari atas berat.

Tangannya coba menggapai-gapai dan berusaha berteriak. Tapi puluhan tubuh yang lebih besar dari badannya menggencet lehernya sehingga suara teriakannya tak keluar. “Saya sudah membaca doa Bapa Kami dan Salam Maria,” katanya, bulan lalu. Ia terus merapal doa tapi kesakitan melebihi daya tahan tubuhnya.

Lalu gelap...

Mereka yang sempat loncat dari bus sebelum terguling, atau berada di tumpukan paling atas, segera menolong teman lain yang terimpit. Beberapa yang lain terjepit kursi dan besi di dalam bus yang terbalik. Semua panik, semua menangis, semua tak percaya dengan apa yang baru saja menimpa mereka.

Eru N. Dahlan, yang berdiri di pintu depan, juga tak bisa loncat ketika bus terjun ke parit. Ia ambruk bersama Golek. “Saya lihat wajahnya sudah biru dan matanya melotot,” kata Eru, mengenang peristiwa itu. Ia masih bergidik hingga hari ini membayangkan kecelakaan tersebut.

20180909000203.jpeg

Yosef Hermawan yang ingin dipanggil Erick, tapi teman-teman malah memanggilnya Golek.

Beberapa jam setelah bus masuk jurang, bantuan datang. KPH Cilacap mengirim mobil bak terbuka untuk mengangkut mahasiswa yang selamat ke pelabuhan lalu menyeberangkan mereka yang terluka ke rumah sakit memakai kapal cepat. Golek, Eko Ege, Libiriana Arshanti yang bocor kepalanya, dan beberapa mahasiswa yang lain diangkut ke Rumah Sakit Cilacap.

Sebuah koran lokal memberitakan kecelakaan itu dan memuat daftar penumpang bus yang masuk jurang. “Mertua saya di Tasikmalaya membaca berita itu dan panik karena nama saya ada dalam daftar korban,” kata Harini Irawati dari MNH. Tasik dan Cilacap adalah dua kota perbatasan di dua provinsi itu.

Golek pingsan selama perjalanan ke rumah sakit. Ia siuman setelah tiba di ranjang IGD karena diguncang-guncang Irvan Cahyana dan Sylvestor Saimin—mahasiswa KSH dari Malaysia—yang menemaninya ke rumah sakit. Golek melihat Sylvestor terus berbicara. “Sly, coba lihat bagian bawah gue, rasanya tadi tergencet. Masih ada enggak?” kata Golek, setengah berbisik.

Sly paham maksud sobatnya ini. Sambil mesem-mesem ia buka celana Golek dari balik selimut rumah sakit. “Masih ada, tapi tidak yakin masih berfungsi,” katanya. Golek meringis. Rasa sakit di kepala akibat terbentur batu dan tulang-tulangnya yang remuk menambah derita itu. Ia pingsan lagi untuk tiga hari kemudian.

Setelah siuman di hari ketiga, Golek diterbangkan ke Bandung, tempat tinggal orang tuanya. Selama tiga bulan ia tidur di ranjang Rumah Sakit Boromeous untuk menyembuhkan tulang dan luka dalam yang dideritanya. “Sekarang kaki saya kecil sebelah,” katanya.

Golek kini hidup bahagia bersama istri dan dua anaknya di Bandung. Ternyata “bagian bawahnya” masih berfungsi dengan baik.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat

    Forest Digest Berusia 4 Tahun

    Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang lestari.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Sekretariat Bersama untuk Reforma Agraria

    Pemerintah membentuk sekretariat bersama WWF Indonesia untuk memperbaiki dan mempercepat reforma agraria dan perhutanan sosial.

  • Kabar Baru

    Bogor Akan Buka Wisata Hutan Kota Setelah Kebun Raya

    Satu lokasi sedang disiapkan di hutan penelitian Darmaga yang terdapat situ Gede dan perkantoran CIFOR. Potensial menjadi hutan penelitian dan wisata pendidikan karena strukturnya masih lengkap.

  • Surat dari Darmaga

    Cara Menumbuhkan Inovasi di Birokrasi

    Birokrasi kita lambat dalam membuat inovasi karena terjebak pada hal-hal teknis yang dikepung banyak aturan. Perlu terobosan yang kreatif.

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.