Laporan Utama | Juli-September 2018

Ragam Cerita Para Gondewa

Kisah angkatan 32. Punya panggilan sayang untuk dosen Tatang Tiryana.

Syamsul Budiman

Alumni Jurusan Manajemen Hutan IPB dan Ketua Pokja Restorasi Ekosistem

KIRA-kira September 1995, ketika kami masih kuliah di Tingkat Persiapan Bersama di kampus Baranangsiang, masuk segerombolan orang berambut gondrong. Mereka masuk ke kelas begitu saja setelah pelajaran Matematika usai. Kami menyangka mereka preman terminal Baranangsiang. Mereka teriak-teriak dan membanting kursi. Kami sedikit kaget. Rupanya mereka adalah mahasiswa senior yang datang untuk mengetes mental mahasiswa baru.

Sandiwara intimidasi itu tak berhenti di ruang kuliah. Waktu itu mahasiswa yang tak lulus atau tak naik yang disebut residivis itu melarang mahasiswa baru duduk di Taman Satari, taman depan kampus yang kini jadi Hotel Santika. Padahal taman itu asyik untuk duduk menunggu jam kuliah. Kami lalu melawan larangan itu dengan cara duduk rame-rame di sana. Hasilnya, tak ada lagi larangan tersebut.

Keberanian itu muncul karena seminggu sekali kami dikunjungi senior-senior Fahutan dari Darmaga. Kami diminta saling mengenal dan harus berani. Strategi kami untuk mempercepat pengetahuan tersebut, dengan membuat buku Fahutan 32, yang berisi kurang lebih 240 mahasiswa.

Tahun 1996, kami pindah ke kampus Dramaga, mulai terdengar slogan ASIK, Cangkurawok, Gunung Walat dan Endah sang legenda. Kami menjalani masa orientasi kampus Fahutan saat masuk tingkat II. Waktu itu Ospek Fahutan terkenal seram dan sangar. Mahasiswa wajib rambut cepak, para senior menyebut kami “blandong”. Belakangan kami tahu blandong adalah julukan bagi penebang hutan yang menjual hasil jarahannya untuk mendapatkan uang dengan cara yang sangat mudah.

Dua puluh dua tahun yang lalu, kami bangga menjadi mahasiswa angkatan 32. Kami tersenyum ketika sepatu yang masih penuh dengan tanah menginjak kembali lantai pekarangan Graha Widaya Wisuda (GWW). Tempat ini telah berjasa dan menjadi saksi bisu, setiap subuh kami berkumpul dalam 16 anggota kelompok (AK), kemudian bersama-sama berjalan (jongkok) ke lapangan DAR 1 (Kantin Tanoto saat ini). Setelah berbaris rapi, kemudian terdengar aba-aba dari senior “serong kiri”, artinya kami akan push-up dengan tangan terkepal. Itu menu sarapan pagi selama 6 hari.

Di Gunung Walat, Bina Corps Rimbawan menjadikan akhir rangkaian ospek mahasiswa, tempat sakral yang akan selalu menjadi cerita, mungkin hingga akhir hayat tiba.  Cerita tentang makan jengkol muda, masuk kubangan lumpur dilengkapi teriakan senior yang menggelegar merupakan rangkaian cerita selama di Gunung Walat.

Namun hari itu kami sudah melepaskan beban berat Ospek selama setahun terakhir sejak tiba di Kota Hujan. Pelukan dan salam komando dari Bapak Dekan, para dosen, keluarga dosen, pegawai dan  kehangatan dari ratusan senior menjadi tanda bahwa kami sudah lulus menjadi bagian dari keluarga besar Fakultas Kehutanan IPB.

Sesaat kemudian, Jalan Bara-Bateng seperti hanya milik rombongan kami, setiap mahasiswa Fakultas Non Kehutanan yang berpapasan semuanya menunduk, penduduk pribumi seperti berjejer menyaksikan langkah kami dan seolah mengatakan selamat datang. Ya, kami adalah pasukan blandong yang sudah memenangi sebuah pertempuran psikologi.

Euforia ospek tidak putus selama sepekan, rentang itu seperti waktu untuk menunjukkan kami adalah anak baru Fahutan. Misalnya ketika duduk di angkutan kota telapak tangan selalu disimpan diatas lutut menunjukkan ke penumpang lain, empat bekas luka akibat ribuan kali push up diatas cor-coran DAR I. Kami sangat bangga dengan bekas luka tersebut.

Sampailah suatu pagi, seorang senior perwakilan Senat Fahutan datang mengumumkan bahwa enam bulan ke depan kami memasuki masa pembinaan, setiap hari kami harus masuk jam 6 pagi dan tugas pertama adalah “Kompak” dengan cara mengenal seluruh anggota angkatan, minimal harus tahu data dasar seperti nama lengkap, jurusan, asal daerah, dan tanggal lahir. Simple jika diminta hari ini, tinggal buat grup WA, upload data diri dan selesai. Namun dua dekade yang lalu tentu saja tidak bisa sesederhana itu.

Setiap pagi seluruh angkatan dari tiga jurusan (MNH, THH, KSH) disatukan di ruangan DAR I. Senior dari Senat Fakultas itu setia mendampingi, satu orang disuruh kedepan kemudian seluruh baris ketiga ataupun baris lainnya berdiri lalu orang ini diminta menyebutkan satu persatu data dasar dari orang di barisan tersebut, jika kurang dari 70% satu sekelas harus push up namun kali ini dengan senyuman, hanya saja bekas luka yang sebelumnya membuat bangga mulai terasa sakit kembali.

Rasa sakit mendorong kreativitas, setiap pagi di jalan Bara-Bateng mulai terlihat kelompok-kelompok kecil yang saling menunggu dan bergabung di sepanjang jalan, lima orang biasanya berjalan bersamaan baik saat berangkat dan pulang kuliah, begitu juga saat malam di warung-warung mi terlihat angkatan kami berkumpul. Tujuan semua ini hanya satu, untuk menghafalkan data dasar antar anggota.

Setiap hari kami berjalan dengan orang yang berbeda, tidak bosan kami memperkenalkan diri dan saling bertanya jika salah sebut nama semua tertawa. Kami sangat menikmati masa-masa itu, hanya dua minggu waktu yang diberikan, untuk selanjutnya akan dites oleh senior yang jumlahnya sangat banyak bersamaan dengan waktu Rabuan. Kerja keras membuahkan hasil, ketika hari tes akhir tiba, sebagian besar dari angkatan kami lulus menjalani kurikulum pertama pembinaan ini.

Berjalan berkelompok akhirnya menjadi satu kebiasaan dan makin mengeratkan hubungan. Senior pendamping memberikan sabda baru: “Kreatif”. Pembinaan akan terus dilanjutkan sampai angkatan kami berhasil membangun sebuah pentas acara yang disebut dengan “Bajiguran”. Bajiguran adalah indikator utama kami sudah memahami dan mengejawantahkan slogan ASIK.

Strategi dan perencanaan pun mulai dibangun. Masih melekat dalam ingatan seluruh mahasiswa yang IPK-nya di atas 2,75 disuruh maju ke depan. Saat itu tidak terlalu banyak mahasiswa yang memiliki nilai itu, mungkin hanya sekitar 30-40%. Berikutnya, seluruh mahasiswa pemilik IP tersebut diwajibkan berperan aktif membantu seluruh persiapan Bajiguran, sementara yang IPK-nya kurang diwajibkan belajar. Selang tiga bulan acara Bajiguran bisa terlaksana dan malam itu angkatan 32 dinyatakan lulus pembinaan dengan nama angkatan “Gondewa”—Tigo Duo Narsis Tapi Dewasa.

Keterbatasan teknologi bukanlah suatu halangan untuk mengorganisasikan sesuatu. Kebersamaan telah melahirkan banyak ide kreatif dan organisatoris andal yang selang 3 tahun kemudian menjadi para pemimpin organisasi besar di IPB bahkan generasi kami beserta beberapa angkatan di atas dan di bawah kami menjadi bagian dari sejarah runtuhnya rezim Orde Baru. Kesetiaan senior untuk mendampingi telah melahirkan kepercayaan, keberanian serta hubungan keluarga yang tidak akan pernah bisa ditulis dengan kata-kata.

Saatnya kami kuliah. Salah satu mata kuliah yang menjadi momok bagi mahasiswa Fahutan adalah mata kuliah Dendrologi Hutan, mata kuliah yang diampu salah satunya oleh Ir. Edje Djamhuri. Menjadi sangat menakutkan karena pada saat akhir masa perkuliahan akan ada ujian ketok jenis daun.  Ujian ketok daun merupakan tes/ujian mengenali jenis daun (nama perdagangan dan nama ilmiah) dalam hitungan detik dan dengan aba-aba melalui palu yang diketuk oleh pengawas yang mengharuskan mahasiswa harus segera bergeser untuk mengidentifikasi jenis daun lain yang siap menunggu untuk diidentifikasi.

Mengidentifikasi jenis pohon mungkin lebih mudah karena bisa dikenal dari bentuk batang, daun dan ciri fisik lainnya, namun mengenali jenis hanya dari sehelai daun, dengan waktu yang sangat singkat membuat adrenalin melonjak.

Berdasarkan kesepakatan, kami harusnya membeli berbagai jenis daun dari Kebun Raya Bogor untuk latihan. Tapi rupanya ada salah komunikasi antara kelompok mahasiswi dan mahasiswa. Tak ada yang membeli daun itu ke Kebun Raya. Para mahasiswi marah. Mereka membeli sendiri daun itu dan tidak membaginya kepada mahasiswa. Lobi tingkat tinggi dilakukan Komti, targetnya adalah belajar bersama. Berhasil. Kami bisa berangkat ujian ketok Dendrologi dengan kepala tegak.

Pelajaran lain yang berkesan adalah Teknik Penarikan Contoh yang diampu Tatang Tiryana. Waktu itu ia dosen muda angkatan 29. Sebelum mengajar Kang Tangtir melempar joke dan cerita lucu. Kami menyimaknya ada yang tertawa, banyak pula yang saling lirik setelah humor itu selesai. Sampai-sampai kami memelesetkan TPC menjadi “Tatang Punya Cerita”. Maaf, Kang Tatang...

Sanudin dan Fachrurozi

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.