Laporan Utama | Juli-September 2018

Tersesat di Jalan yang Benar

Beberapa catatan kenangan kuliah di Fahutan. Kreativitas tak berbatas: dari catatan kuliah hingga mendirikan radio gelap.

Franky Zamzani

Bekerja di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

ANGKATAN kami masuk kawah candradimuka Darmaga tahun 1992, masuk TPB-IPB 1991. E28 terbagi ke dalam MNH1, MNH2, THH-0 (Pengolahan), THH-P (Pemanenan) dan KSH dengan jumlah total sekitar 200 mahasiswa. Dari komposisi tersebut bisa dilihat bahwa jurusan Manajemen Hutan adalah jurusan terfavorit di zamannya. Selain komposisi tersebut angkatan kami memiliki “pejabat” yang berasal dari angkatan 27, 26 bahkan angkatan 24! Kami sangat menyayangi senior ini sehingga setiap kuliah mereka disediakan kursi VVIP 2 baris paling depan. 

Cerita Franky Zamzani

Kami kuliah dengan sistem paket. Karena sistem paket, setiap Sabtu ada ujian. Kuliah padat, Senin sampai Jumat, lalu setiap Sabtu, ujian. Itu horor bagi saya yang datang dari kampung dan bukan tipe orang yang tekun belajar. Yang bikin tambah horor bila mata kuliah yang diujiankan semisal Fisika Dasar, Kimia Dasar, Statistik, Kalkulus yang banyak sekali teladan-teladannya! Itu bikin panas-dingin sejak Kamis.

Tingkat dua mulai penjurusan. Tentu saja jurusan favorit harus memiliki IP dengan benchmark tertentu dan sangat bersaing. Ringkas cerita, saat penjurusan, saya memilih Lansekap sebagai pilihan pertama, Agribisnis kedua, MNH ketiga, THH ketiga, dan KSH pilihan terakhir! Maklum, saya mengenal IPB karena jurusan Statistik sama Lansekap nya saja yang tersohor pada masanya. Pengin tau IP yang saya dapat saat kenaikan tingkat? IP saya saat itu dua koma alhamdulillah alias 2.00. kurang dari itu konsekuensinya mengulang mata kuliah yang nilainya D (atau C juga!)-makanya ada istilah RCD. Tapi itu masih jadi prestasi tersendiri mengingat mendapatkan IP 'booked' seperti itu tidak mudah. Daripada IP kurang dari 1,3 yang konsekuensinya Dropped-out (DO)!

Tentu saja berdasarkan prioritas pilihan saya akhirnya tersaring di pilihan terakhir yaitu Jurusan KSH, Fahutan IPB. Luar biasa, karena sebagian besar cowok macho saat itu justru masuk Fahutan menjadi idaman. Senior kami selalu mendoktrin bahwa Fakultas di IPB itu hanya ada dua: Fahutan dan Non Fahutan.

Sewaktu Ospek, senior-senior Fahutan masih garang-garang, rambut gondrong acak-acakan, paling banyak sih gondorng dangdut atau ABCD, ABRI bukan, cepak doang. Mata merah kebanyakan begadang, teriakan kencang semacam orangutan jantan dominan.

Ketika ospek hari pertama yang membagi mahasiswa baru masuk Fahutan, menjadi beberapa Anak Kelompok (AK), saya terpilih menjadi Ketua AK. Berani sekali saya. Soalnya, di kertas nama tertulis besar-besar:

Nama: Franky
IP: 2 juta
Asal: Brebes
Fahutan: pilihan ke-5 

Sungguh sial, semua informasi itu terlihat oleh semua senior karena saya berdiri paling depan. Mereka menganggap saya melakukan pelecehan.

Alhasil, senior kala itu selalu “membelai” pipiku dalam mode cepat, sambil berkata: "Nama Franky kok dari Brebes!” Atau “IP 2 juta masuk Fahutan pilihan kelima pula!” Pipi dibelai, push-up genggam, squat-jump, jalan jongkok dan aneka hukuman konyol lain termasuk melawak di depan senior-senior RCD yang "butuh hiburan" jadi makanan harian selama lima hari Ospek itu.

Teman-teman anggota AK Durio zibethinus di belakang selalu cekikikan dan tenang, karena jatah hukuman sudah kenyang dimakan sang Ketua AK. Sebut saja inisial mereka, semisal Uni Irawati Azhar, Wa Adek Rusmana, Bambang Codet (yang berencana pindah ke AK sakit), dan lain-lain.

Terlalu banyak kenangan di Fahutan, bahkan karena SPP nya yang hanya 180ribu, jadi seringnya dihabiskan untuk bermain billiar. Tentu saja ini menimbulkan pusing kagetan, karena harus mencari penghasilan buat bayar SPP menjelang ujian! Tapi karena ini pulalah kami ditempa untuk survive dari bulan ke bulan dan tahan banting. Termasuk menjadi “pejabat” karena ketauan kasih contekan di saat ujian!

Itulah takdir, pingin ke lansekap malah masuk KSH. Tersesat di jalan yang benar.

Cerita Dian Sukmajaya

Sensasi FM
Siapa yang tidak kenal dengan radio illegal ini di awal 1990? Punggawanya empat orang Fahutan 28: Ardi, Dicky, Haidir dan Pardion (alm). Sensai FM terkenal di Dramaga dan sekitarnya pada 1993-1994. Inisiatornya Ardi Risman yang memang jago elektronik. Sensasi itu kependekan “sentuh sana sini”, maksudnya “sapa sana-sini”. Meski antenanya hanya nongol dari jendela, kekuatan trasmisinya sangat mumpuni. 

Beberapa kali Organisasi Radio Amatir Indonesia (Orari) menelusuri keberadaan Sensasi FM. Dan ketemu. Ardi mendapat teguran, tapi siaran terus jalan. “Inilah Sensasi FM yang dipancarkan langsung dari ketinggian bukit kapur ciampea di 97.5 FM….” Demikian pengantar siaran radio ini.

Materinya kaset pita pinjaman teman-teman. Bolak-balik diputar karena koleksinya kurang. Pendengar boleh memesan lagu dengan tarif Rp 100 per lagu melalui kupon. Peminatnya anak-anak SMA. Dengan jual kupon itu misi Sensasi tercapai: Jaya di udara dan tetap ngebul. Soalnya lumayan uangnya bisa buat rokok.

Saat Ospek angkatan 30, radio ini menjadi jangkar komunikasi panitia dan peserta Ospek. Tugas-tugas tak dibagi di kelas, tapi disiarkan melalui radio.

Sewaktu ujian, Sensasi FM juga lumayan menghibur. Semalam penuh isinya lagu-lagu tanpa interupsi penyiar. Karena penyiarnya juga puyeng belajar untuk ujian. Pada zamannya, Sensasi FM telah menyatukan Fahutan dan menjadi ruang kreativitas. Rimbawan tak hanya jaya di rimba wibawa di kota, tapi juga jaya di udara.

Asal Usul Nama Panggilan

Di Fahutan setiap orang punya nama panggilan. Tiap nama punya cerita yang unik dan lucu. Seperti pohon yang memiliki nama ilmiah dan nama lokal, kami juga memiliki nama tenar di kampus. Sebagian bahkan masih terbawa sampai saat ini.

Acil

Nama ini diberikan almarhum Iwen Yuvanho Ismarson untuk Franky Zamzani, dari singkatan “anak paling kecil” karena ia masuk masa “pembinaan pejabat” selama satu semester. Iwen juga menjulukinya “kakek segala tahu” karena dia tahu hampir segala hal.

Kojay

Ini nama dari senior Da’walidata, angkatan 27. Ketika Ospek dia menyangka Dian Sukmajaya itu perempuan, selain ada banyak nama Dian di Fahutan. “Dari pada salah, kupanggil ‘kau Jay’ saja,” katanya. Jadinya namanya menjadi “Kojay”. Semoga Kang Data almarhum diterima amal ibadahnya.

Kotok

Aslinya Haryadi, orang Banten. Dipanggil Kotok, karena sewaktu kami kumpul dia tiba-tiba bilang, “Aeh, aya kotok...” Dalam bahasa Banten, kotok itu ayam. Jadilah nama itu melekat padanya hingga hari ini.‚Äč

Jempol

Mohamad Yamin, waktu masuk asrama didaulat menjadi ketua angkatan masuk Osma. Dia termasuk hiperaktif alias banyak polah dan bulu di sekujur tubuhnya “mengerikan”. Dari kumis, jenggot/brewok, tangannya pun berbulu. Selain itu jari tangannya besar-besar seperti jempol semua. Bang Cikar, angkatan 25, yang memanggilnya “Jempol”.

Bujur

Jangan mengartikannya memakai bahasa Sunda. Ini panggilan untuk M. Akhyar Rizki. Sewaktu mendaftar menjadi penghuni asrama Sylvalestari, dan setelah lulus orientasi, ia punya nama baik ini. Karena ia mirip Kang Burik, senior di asrama, maka namanya menjadi Burik Junior, disingkat “Bujur”.

Uwek

Adek Rusmana sering dikatakan “teu dewasa” oleh kawan-kawannya. Entah karena pengaruh nama atau karena orangnya ngocol, jarang serius. Nama ini diberikan Dian Sukmajaya karena ia teringat kata “berewek” dari kakeknya untuk menggambarkan orang semacam ini.

Herman ‘Albertini’

Namanya berasal dari pemain sepak bola Italia tahun 1990-an. Kami memang suka bermain bola untuk mengisi waktu luang. Herman rada mirip Albertini.

Agus Ebeg

Nama aslinya Agus Yulianto. Sewaktu belajar bahasa Inggris, ia mengatakan “This is a beg” dengan “dis is e beg”. Jadilah ia dipanggil “Ebeg”.

Ujian Dendrologi

Dendrologi adalah cabang ilmu biologi yang mempelajari pohon maupun tumbuhan berkayu lainnya seperti liana dan semak. Dan ujiannya sungguh seru. Pak Iwan Hilwan sebagai pengampu mata kuliah ini memberikan instruksi bahwa nanti kalo ada aba-aba diminta semua peserta ujian berpindah satu bangku ke sebelahnya sesuai dengan arah jarum jam.

Setelah siap semua, kamipun mulai serius dan tegang mengamati daun dan mencoba mencium bau dari daun tersebut. Karena memang ada yang memilik bau khas seperti rasamala. Beberapa detik berlalu tiba-tiba papan tulis dipukul “Jeder!!” Kami yang sedang khusyu mengamati terkaget-kaget bahkan ada yang sampe berdiri dengan mengucap “Astaghfirullohu haladzim!!” Saya jadi masih melongo ketika teman di sebelah mendorong untuk segera berpindah kursi.

Ujian berlanjut dan tibalah saya pada kursi terakhir yang hanya menyisakan ranting saja. Daunnya hilang semua, diremas-remas untuk dicium baunya. Jadilah kosong jawaban saya untuk jenis terakhir di bangku tersebut karena tinggal ranting saja tersisa. Posisi memang menentukan prestasi.

Agar hasil ujian maksimal, kami membeli material ujian daun dari kebun raya bogor. Berkarung2 material dibawa kesalah satu tempat kos dan kami pun mulai bergantian mengamati daun-daun tersebut.

Catatan Tika

Anak Fahutan itu malas menulis, apalagi mencatat bahan kuliah. Ini menjadi berkah buat pengusaha fotokopi di sekitar Babakan Raya dan Babakan Tengah. Sebab tiap akan ujian anak Fahutan berbondong-bondong menyalis “catatan Tika”, yaitu catatan kuliah Tika Kartika yang kelahiran Cianjur ini. Dia mahasiswa berprestasi anak bimbing Professor Cecep Kusmana. Dia rapi mencatat kuliah dan tulisannya mudah dibaca.

Meski catatannya beredar sepanjang malam, Tika tak gusar. Rupanya karena ia menyalinnya lagi di buku lain. Proses itu membuat ia belajar dobel juga. Pantas pintarnya juga dobel. Sayangnya, tak ada catatan Tika yang melahirkan sarjana kehutanan yang sudah berkiprah di seluruh Indonesia. Semoga ini menjadi amalan yang baik buat Tika.

Penutu

Kami tak henti bersyukur atas semua yang telah didapatkan saat menimba ilmu di kampus tercinta Fahutan IPB. Kampus yang tak seorangpun dari kami yang bisa membayangkannya sampai tiba saatnya daftar ulang setelah pengumuman penjurusan. Kampus yang selain memberikan ilmu juga mendidik kami untuk mencintai rekan seangkatan, menghormati senior dan menyayangi adik-adik kelas. Kampus yang mengajarkan kami untuk “silih asih, silih asah, silih asuh”. Untuk selalu ‘care and respect’.

Fahutan memang Asik..

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.