Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|30 Juni 2021

Mencegah Api di Masa Pandemi

Sebentar lagi puncak musim kemarau. Dampak kebakaran hutan akan luas dan besar akibat kombinasi dengan pandemi virus corona covid-19. 

ASAP kebakaran hutan bisa meningkatkan penularan virus corona, kata Agus Dwi Susanto, Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Ia berbicara dalam webinar dampak kebakaran hutan dan lahan di masa pandemi virus corona covid-19 oleh Regional Fire Management Resouce – South East Asia (RFMRC-SEA) bersama Komunitas Rimbaraya Indonesia beberapa waktu lalu.

Lebih parah lagi polusi udara dari kebakaran hutan dan lahan turut pula meningkatkan iritasi paru, inflamasi, hingga menurunkan sistem imunitas tubuh—faktor penting masuknya virus. Walhasil, kata Agus Dwi Susanto, risiko kematian akan meningkat akibat kombinasi infeksi virus corona dan dampak asap.

Api dan pandemi adalah kombinasi mematikan di musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan bulan Juni telah memasuki musim kemarau hingga Oktober 2021, dengan puncak pada Agustus. Musim kemarau adalah momok kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.

Selain pembakaran untuk membuka lahan dengan biaya murah, api tersembunyi di bawah hutan-hutan rawa gambut yang terbengkalai. Gelombang panas kemarau akan membangkitkan lagi lidah-lidah api dan merembet cepat di tumpukan serasah yang kering.

Kombinasi mematikan pandemi dan api adalah tersendatnya pencegahan. Menurut Basar Manullang, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pengendalian api menjadi tantangan berat akibat kebijakan pembatasan sosial untuk memutus penularan virus corona.

Apalagi, di lapangan, satuan tugas kebakaran hutan membagi fokus kegiatannya dalam membantu menangani covid-19 dan mencegah munculnya titik api. Mereka sendiri harus menjaga daya tahan tubuh dari paparan virus. “Sementara anggaran menanggulangi kebakaran juga ada penghematan karena dialihkan untuk menangani covid,” kata Basar.

Dengan kondisi dan situasi seperti itu, langkah pencegahan menjadi krusial. Guru Besar Perlindungan Hutan IPB University Bambang Hero Saharjo mengatakan belum ada solusi komprehensif mematikan api di masa pandemi. “Seperti covid, menangani kebakaran hutan juga butuh anggaran besar,” kata Bambang. “Jika menanganinya tak tepat hanya akan menghamburkan anggaran saja.”

Cara mencegah kebakaran dengan tidak memicunya. Dari riset puluhan tahun Bambang Hero, ia menemukan, penyebab kebakaran adalah manusia. Pembakaran lahan untuk perkebunan acap memicu kebakaran yang luas. Sementara di lahan gambut, mengatur tinggi muka air adalah cara mencegah api dengan membuat gambut tetap basah di musim kemarau.

Pencegahan dalam jangka panjang melalui pengelolaan hutan bersama masyarakat dengan memberikan nilai ekonomi. Profesor Bambang pernah menulis tentang kopi liberika di Jambi dan agroforestri di Kalimantan Barat.

Dengan tanaman yang bisa dipanen musiman itu, masyarakat terdorong tak membakar lahan ketika membuka kebun. Lahan pun jadi memiliki nilai ekonomi karena masyarakat mendapatkan manfaatnya ketika panen. Dengan memberikan nilai ekonomi cara berkebun tanpa api akan mendorong masyarakat sekitar hutan memakai cara ini dalam mengelola lahan.

Pendampingan dan edukasi adalah cara tepat mencapai strategi ini. Peran desa menjadi krusial, seperti pengembangan tanaman ketela di Kubu Raya. Di sana, masyarakat sudah mendapatkan manfaat mengolah kebun tanpa bakar.

Dengan meluaskan pengetahuan manajemen lahan tanpa api kebakaran akan bisa dikurangi. Sebab, setelah api muncul biaya memadamkannya sangat besar. Pada 2019, dari total dana siap pakai menanggulangi bencana sebanyak Rp 6,7 triliun, lebih dari separuhnya terpakai untuk memadamkan api. 

Sebab, jika gagal mencegah api, kata Bambang Hero, cara berikutnya adalah menanggulangi dan memadamkannya. Biaya akan makin besar karena perlu ada mitigasi setelah pemadaman, yakni menegakkan hukum untuk pembakar dan rehabilitasi lahannya.

Karena itu pencegahan api adalah strategi berbiaya murah, kendati mesti ada program kontinu untuk melaksanakannya. Kegagalan mencegah akan menghabiskan biaya yang mahal. Belum lagi dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan, seperti disampaikan oleh Dokter Agus Dwi Susanto.

Mencegah kebakaran hutan adalah cara paling ampuh mengurangi dampaknya di masa pandemi virus corona covid-19, di tengah kebijakan pembatasan sosial berskala besar.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar

Artikel Lain