Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|27 Juni 2021

Karantina Wilayah Membersihkan Udara

Studi di tiga kota selama pandemi virus corona covid-19. Karantina wilayah membersihkan udara kotor.

PANDEMI virus corona covid-19 memaksa dunia menghentikan aktivitas. Jalan lengang, pabrik berhenti beroperasi, aktivitas manusia terbatas untuk menghindari penularan virus. Secara global, kualitas udara membaik dan emisi turun 5% dari total emisi tahunan sebanyak 51 miliar ton setara CO2 pada awal pandemi 2020.

Meski Indonesia tak menerapkan karantina wilayah secara total (lockdown), pembatasan sosial berskala besar (PSBB) juga berpengaruh terhadap kualitas udara. Seluruh parameter polusi—PM10, PM2.5, niktrat dioksida, karbon monoksida, hidrokarbon, timbal, sulfur dioksida, hingga O3—berkurang lumayan signfikan.

Di Jakarta, dua hari setelah PSBB kualitas udara juga naik dari tidak sehat menjadi moderat. Udara Jakarta yang jarang mencapai level aman di semua waktu selama 24 jam, menjadi bersih selama masa PSBB akibat anjuran kerja dari rumah sehingga jalanan menjadi lengang.

Studi Dita Alfianita dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB University pada Februari-Maret 2020 di Kota Bogor juga menunjukkan lima dari tujuh parameter pencemaran udara berkurang. Jumlah NO2 di Kota Bogor turun sebanyak 25%, juga Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta sebagai pembanding pada periode sama.

Kadar sulfur dioksida (SO2) yang mencapai 146 mikrogram/meter kubik pada 2018 anjlok menjadi 72 μg/m3 pada awal PSBB. Polusi SO2 biasanya berasal dari pembakaran pembangkit tenaga batu baru, pembakaran energi fosil, atau knalpot kendaraan bermotor. SO2 berperan dalam penyakit kardiovaskular, kanker, mengubah konsentrasi pH tanah dan air tawar.

Karbon monoksida yang mencapai rekor di Yogyakarta pada 2019 sebesar 6.720 μg/m3 juga turun pada awal 2020 menjadi 2.877 μg/m3. Menurut BPS, CO di Yogyakarta berasal dari pembukaan lahan menjadi permukiman. Sumbangannya terhadap jumlah kadar CO mencapai 66%.

Sementara pencemaran udara paling penting dari lalu lintas jalan raya adalah NO2. Di Bantul, dengan angka tertinggi pada 2018 sebesar 80 μg/m3 turun hampir separuh menjadi tinggal 41 μg/m3.

Dari data-data itu terlihat bahwa karantina wilayah memberikan dampak positif terhadap kualitas udara di tiga kota tersebut. Dari perhitungan Dita Alfianita, indeks standar pencemar udara (ISPU) di Kota Bogor selama sebulan PSBB turun dari 59 ke 58.

Angka ini menunjukkan kualitas udara Kota Bogor berkategori sedang. Artinya, kualitas udara pada skala ini tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif, dan nilai estetika.

Kenaikan lima parameter pencemaran udara di tiga kota itu berasal dari kenaikan jumlah penduduk dan bertambahnya industri serta intensitas lalu lintas. Tiga faktor ini yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi di tiga kota tersebut.

Ketika pandemi virus corona, tiga penyebab dan sumber polusi udara berkurang lumayan signifikan. Dengan begitu, pembatasan interaksi sosial membuat pertumbuhan ekonomi juga mandek. Secara nasional, pertumbuhan ekonomi Indonesia terjun bebas.

Dilema antara menghidupkan ekonomi dan memilih penanganan pandemi pun membuat kebijakan Indonesia terlihat bimbang. Cermin kebimbangan itu adalah ketiadaan karantina wilayah total, melainkan hanya pembatasan-pembatasan aktivitas penduduk agar ekonomi tak terlalu kolaps.

Indeks Standar Pencemar Udara sebelum dan sesudah pembatasan sosial berskala besar 2020

Setelah pandemi berlangsung setahun, kebimbangan itu memakan ongkos ekonomi tak sedikit. Pandemi Indonesia memasuki gelombang kedua ketika negara-negara lain yang memilih mengisolasi aktivitas penduduk sejak awal sudah mulai normal.

Keberadaan vaksin turut mendorong aktivitas penduduk di negara lain mulai menggeliat. Dari 190 juta dosis (38% populasi) vaksin yang direncanakan, Indonesia baru menyuntikkan 40 juta dosis kepada sekitar 27 juta orang.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain