Laporan Utama | Juli-September 2018

Rimbawan 79 dan Osma

Rimbawan 79 berbicara tentang perploncoan, hikmahnya, dan relevansinya dengan kondisi saat ini.

"Kamu benar dengan kemarin enggak datang, Cok," kata seorang teman perempuan yang aku tanya tentang hari pertama masa perkenalan/orientasi mahasiswa baru Fakultas Kehutanan, pada Februari 1979. 

"Loh kenapa?"

"Kita dikerjain habis,” kata teman itu. “Kirain hari pertama itu baru kenalan baik-baik, ternyata enggak. Telur yang kita bawa itu bukan untuk dimakan, tapi dipecahin di punggung kita, di dalam baju. Habis itu, teman yang di belakang disuruh senior ngeratain ke seluruh punggung.” Masih tergambar wajah teman ini yang kesal dan ingin menangis.

Aku tertawa mendengarnya, meskipun ada rasa ngeri-ngeri juga. Teman itu semakin cemberut melihat aku ketawa.

"Kamu enggak merasakan, sih," katanya lagi, masih dengan muka kesal. “Bayangin aja, setelah itu kita balik ke Bogor, naik angkot masih bau amis dan lengket semua di punggung. Penumpang lain pada tutup hidung semua.”

Aku tambah ngakak membayangkan penumpang angkot tutup hidung.

Ketika itu kami s mahasiswa baru Fahutan, diminta hadir di acara pembukaan masa perkenalan mahasiswa. Karena ada perubahan tahun ajaran baru, masa TPB (Tingkat Persiapan Bersama) angkatan 15 (masuk IPB 1978) diperpanjang menjadi tiga semester. Tapi pada semester III, kami sudah diterima di fakultas masing-masing. Sehingga pada semester ketiga kami masih TPB, tetapi status sudah sebagai mahasiswa Fahutan.

Nah, OSMA itu sudah mulai dari bulan Februari 1979 sampai pekan penutupan di bulan September 1979, di masa awal semester IV di Fahutan. Setiap Minggu, antara bulan Februari dan September 1979, kami diminta hadir. Selama tujuh bulan itulah kami "dijajah" dan "dianiaya".  Setiap hari sejak Februari 1979, kami harus memakai "kalung" pita abu-abu dengan gantungan potongan melintang kayu Pinus dan di tengahnya ditempel uang logam Rp 100, yang waktu itu tertera tulisan Kongres Kehutanan Dunia (World Forestry Congress, 1978 ), yang bertema Forest for People.

Kalau dipikir-pikir sekarang kami sering tertawa jika bercerita soal itu. Mengapa dulu kami mau saja disuruh begitu dan menurut? Memang ada rasa takut jika kami tak memakai kalung itu sehari saja. Seolah-olah ada intel yang mengawasi kami, ke mana pun kami pergi di Bogor.  Padahal waktu itu, kami kuliah di Baranangsiang dan para senior di Darmaga.

OSMA adalah masa ketika kami ditekan habis, dirisak, tidak dimanusiakan, tidak dihargai, dimarginalkan, diremehkan, direndahkan sebagai mahasiswa, bahkan mungkin sebagai manusia. 

Waktu itu kami memahaminya sebagai teori “menekan tukang becak". Jika ingin melihat contoh tentang spontanitas dan kekompakan, lihatlah ketika tukang becak digusur, diusir, diuber-uber petugas Tramtib. Dengan spontan, mereka akan kompak dan melawan. Kekompakan terbentuk ketika sekelompok orang ditekan dengan perlakuan yang sama. Perasaan sependeritaan, sepenanggungan, sekubangan karena perlakuan itulah yang kemudian kami pahami membentuk jiwa korsa kami. Apalagi pada waktu itu, membayangkan tentang hutan adalah gambaran yang menyeramkan dan penuh dengan tantangan fisik dan mental. "Ayo kalau mau jadi rimbawan jangan cengeng. Digituin aja nangis. Kalian harus jadi pemberani," begitu teriakan dan bentakan para senior yang sering kami dengar.

Kegiatan OSMA saat itu 50 persen kegiatan fisik, separuhnya lagi permainan (games) dan kesenian yang sangat menyenangkan, karena dengan begitu untuk sementara membebaskan kami dari bentakan dan deraan fisik. Waktu itu kami hanya berpegangan pada sebuah keyakinan bahwa semenderita-menderitanya dan "sejahat-jahatnya" senior kami, tidak mungkin kami disiksa dan dibunuh.

Dalam bahasa lain mungkin sesuai dengan yang dikatakan Joseph Campbell, "The cave you fear to enter, holds the treasure you seek," gua yang kamu takut memasukinya berisi harta karun yang kamu cari. Masuk ke gua Fahutan yang mengerikan itulah yang kami jalani, tetapi harta karunnya belum kami dapati ketika itu.

Masa puncak "penderitaan" adalah ketika kami harus mengikuti pekan Orientasi Mahasiswa di Kampus pada awal semester keempat, bulan September 1979, sebelum masa perkuliahan dimulai. Selama seminggu kami digojlok habis-habisan oleh para senior dan para dosen. Tokoh mahasiswa yang terkenal galak pada waktu itu antara lain, Mas Kuplek (nama sebenarnya saya lupa dari angkatan E12, Binsar Sitanggang, Indratmo dari E13, Wayan E13, Fariman E12, Sudrajad E13, dan Agus Sarsito dari E12. Para dosen, sementara itu, juga terlibat menggojlok kami. Tokoh-tokohnya antara lain adalah Pak Suwarno, Pak Domon (alm), Pak Wardiman (alm), Pak Bedy Tambunan (alm).

Penutupan masa Orientasi Mahasiswa Rimbawan 79 dilakukan di Gunung Walat, Sukabumi.  Di situlah puncak "penyiksaan". Kami ditutup mata, disuruh merayap, dijedotin ke pohon, dijatuhkan, dipukul, dikagetin, ditakutin, dibanjur, dan "perlakuan tidak senonoh" lainnya.  

Tetapi saat itu juga terjadi proses yang antiklimaks. Karena di situ pula muncul awal kebahagiaan kami. Kami sesudah itu merasa terbebas, merdeka dari penjajahan, mulai dihargai, mulai diajak, disapa dengan baik, mulai dibukakan mata tentang sandiwara-sandiwara senior dan para dosen yang selama ini mereka lakukan dan tentang pertemanan yang sesungguhnya.

Selain ada senior yang berperan galak, ada juga yang berperan baik dan mengayomi, kreatif dan kocak, organisatoris dan pejuang kampus, serta para seniman kampus yang ternyata gudangnya adalah di Fahutan ini. Pri Supriadi dari E12, Hadi Daryanto dari E14, Efransyah Nasution dari E13, Budi Santoso (alm) E14, Budi Ketua Senat - E13, Endang Suhendang - E13, Tri Djoko - E14. Para dosen yang kami pandang mengayomi dan berperan baik ketika itu adalah Pak Dudung Darusman, Pak Rachmatsyah, Ibu Umi, Pak Sudari, Pak Teguh (alm).

Terlepas dari "penyiksaan" yang kami terima selama masa OSMA yang panjang itu, kalau kita bisa mengambil hikmahnya, di situlah kami melihat potret kehidupan nyata yang memang keras.  Di situlah secara tidak langsung kami mulai dididik dan digembleng untuk melihat dan belajar berbagai watak dan karakter manusia. Di situlah kami mulai belajar memahami apa yang dinamakan kejujuran, konsistensi, integritas, berani, tanggung jawab, kepemimpinan, disamping juga kami memahami sifat-sifat culas, kemunafikan, penjilat, pecundang, egois, safety players, oportunis, pengkhianat dan sifat antagonis lainnya.

Bisa jadi dan mungkin saja, penerimaan dan pemahaman saya berbeda dengan teman-teman sebaya kami ketika itu, tetapi melihat bahwa proses itu kami jalani bersama dengan selamat dan kami bisa menikmati karena merasa sependeritaan, rasa-rasanya saat itu kami bisa melewati dengan baik. Apalagi, kalau diingat-ingat, dari kejadian itu kami sudah menikmati hasil perjuangan dalam menjalani kehidupan sampai dengan saat ini. Bisa jadi, apa yang bisa kami capai saat ini juga berdasarkan pengalaman batin dan fisik ketika itu. Bisa jadi, benih-benih daya survival kami sudah mulai tertabur ketika kami digojlok habis habisan ketika itu. Dan mungkin saja, kekukuhan dan kekonsistenan kami saat ini, juga buah dari proses belajar ketika OSMA itu.

Apabila kita berpikir dan melihat dengan pertimbangan situasi saat ini, apakah proses penggojlogan itu menghasilkan dampak yang sama kepada setiap individu di angkatan Rimbawan 79 atau angkatan sebelum dan sesudahnya? Memang belum tentu sama. Setitik atau sekelebat proses itu bisa berdampak yang berbeda kepada setiap individu atau komunitas.

Harshit Agrawal (2014) mengatakan, "Life is hard school for you to know, not what level of class you are in, what exam you will have. You can not copy it, because nobody else has the same paper." Hidup adalah sekolah yang berat yang harus kamu ketahui, tidak tergantung pada level ke berapa dan ujian yang akan kamu hadapi. Kamu tidak bisa menirunya, karena tidak ada seorangpun mempunyai lembar yang sama.

Jadi, teksnya bisa jadi tetap sama dengan filosofi dasar, kenapa pada waktu itu dibutuhkan proses OSMA yang seperti itu untuk membangun kekompakan dan kebersamaan, tetapi konteksnya bisa disesuaikan dengan perkembangan dan kondisi jaman milenial saat ini. Namun terlepas dari perbedaan teks dan konteksnya, membentuk karakter dan watak yang tangguh, jujur, tidak cengeng, berani, setia kawan, mampu bekerjasama, berkomunikasi yang baik, membangun kepercayaan, memelihara persahabatan dan silaturahim, serta selalu berpikir positif, tetap diperlukan untuk ditanamkan kepada mahasiswa baru Fahutan saat ini.

Kuncinya adalah bagaimana kita berani melihat kembali diri kita sendiri dengan jujur, adakah kepentingan-kepentingan lain yang mendasari, ketika kita melakukan pendadaran, indoktrinasi, pembekalan, kepada mahasiswa baru Fahutan, selain dari kepentingan agar Rimbawan muda kita bisa dengan lebih wise mengelola hutan kita. Seperti kata Thomas Jefferson, “Honesty is the first chapter in the book of wisdom.” Kejujuran adalah bab pertama dalam buku tentang kearifan.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat

    Forest Digest Berusia 4 Tahun

    Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang lestari.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Sekretariat Bersama untuk Reforma Agraria

    Pemerintah membentuk sekretariat bersama WWF Indonesia untuk memperbaiki dan mempercepat reforma agraria dan perhutanan sosial.

  • Kabar Baru

    Bogor Akan Buka Wisata Hutan Kota Setelah Kebun Raya

    Satu lokasi sedang disiapkan di hutan penelitian Darmaga yang terdapat situ Gede dan perkantoran CIFOR. Potensial menjadi hutan penelitian dan wisata pendidikan karena strukturnya masih lengkap.

  • Surat dari Darmaga

    Cara Menumbuhkan Inovasi di Birokrasi

    Birokrasi kita lambat dalam membuat inovasi karena terjebak pada hal-hal teknis yang dikepung banyak aturan. Perlu terobosan yang kreatif.

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.