Laporan Utama | Juli-September 2018

Transisi Sarjana dari Enam ke Empat Tahun

Cerita angkatan 11 ketika Fakultas Kehutanan menjadi fakultas favorit ketiga pertengahan 1970-an. Banyak yang nilainya A, alias alhamdulillah lulus.

Bambang Winarto

Angkatan 11

SETELAH lulus dari SMA Negeri Kendal, Jawa Tengah, tahun 1973, aku bercita-cita kuliah di Fakultas Kehutanan (Fahutan) Institut Pertanian Bogor (IPB). Soalnya, aku lihat kehidupan Ajun Administratur Perhutani Kendal sangat mapan. Testing antara tanggal 7-14 Januari 1974. Aku ingat tanggal testing karena pada saat pulang ke Kendal, ada demonstrasi besar-besaran di Jakarta yang dikenal dengan peristiwa Malapetaka Lima belas Januari (Malari).

Selama testing aku menginap di Penginanan Pasundan di belakang Pasar De Vries. Penginapan yang sederhana, kamar mandinya saja di luar kamar. Airnya sangat dingin. Bahkan hidungku selalu keluar ingus, karena dinginnya.

Sarjana Empat Tahun
Saat itu IPB dipimpin oleh Profesor Dr. Ahmad Satari dan salah satu dosen yang terkenal dan sekaligus “penggagas Sarjana 4 tahun” adalah Bapak Prof. Dr. Andi Hakim Nasution. Dosen matematika dan statistika IPB. Banyak mahasiswa pelajarannya yang kurang paham kalau beliau yang mengajarnya, karena bicaranya kurang jelas. Namun, mahasiswa IPB  harus berterima kasih karena jasanya menjadikan kuliah sarjana dari enam menjadi empat tahun. Gelarnya Ir atau Insinyur.

Sebelum kuliah resmi dimulai, ada Pekan Orietansi Mahasiswa atau Posma. Namanya saja keren, tapi pelaksanaannya berupa “gojlokan” bagi mahasiswa baru. Panggilanku “Tangkur Kuda”, gara-gara tidak tahu arti nama tersebut. Posma zaman itu sangat kejam. Mahasiswa senior diberi kepercayaan penuh untuk menyelenggarakannya. Meski kejam, persahabatan sesama angkatan jadi lebih akrab.

Pada masa orientasi itu, untuk sementara aku  tinggal di Asrama Sukasari, salah satu asrama IPB di Jalan Siliwangi Nomor 43. Aku di tempatkan satu kamar bersama senior, Sibarani, mahasiswa tingkat akhir dari Fakultas Peternakan. Saat itu Sibarani sedang menyusun skripsi. Aku lihat  banyak sekali textbook yang berada di meja tulisnya. Aku merasa minder dengan banyaknya texbook. Apa aku bisa lulus dari IPB?

Daya tampung asrama tidak terlalu banyak, sekitar 40 orang. Di sini ada “Warung Kejujuran”. Di dapur disediakan berbagai macam keperluan mahasiswa seperti: kopi, gula, super mie yang sudah dicantumkan harganya. Jika perlu masak mi instan, tinggal menaruh uang seharga mi di tempat yang telah disediakan. Jauh sebelum ada KPK sebetulnya mahasiswa IPB sudah kenal konsep “Warung Kejujuran” ini.

Dulu ada istilah “Residvis” atau RCD. Ini julukan untuk mahasiswa yang tak lulus mata kuliah sehingga tak naik tingkat. Pada masa perkuliahan tahun 1974-1978, istilah RCD sangat populer di telinga mahasiswa, sekaligus momok. Sangat menakutkan, karena  RCD sangat dekat dengan drop-out (DO).  

Sistem kenaikan tingkat di IPB sangat berat.  IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) minimal 2, dengan tidak ada nilai F. Setiap nilai D harus dapat ditutup dengan nilai B pelajaran lain yang mempunyai kredit sama. Jadi kalau dapat nilai B, apalagi A yang kreditnya 3, senangnya bukan main, karena sudah dapat menutup pelajaran lainnya yang nilainya D. Mahasiswa yang nilainya kurang dari 2 akan kena DO.

Jumlah mahasiswa Angkatan 11 IPB  sebanyak 261 orang, terdiri dari 184 laki-laki dan 77 perempuan, 24 orang di antaranya  telah dipanggil Sang Khaliq. Ada 69 orang yang kena DO, dan yang punya kesempatan masuk fakultas 192 orang. Dulu kami tak langsung memilih jurusan, tapi masuk tingkat persiapan terlebih dahulu baru masuk fakultas setelah lulus persiapan. Yang masuk Fahutan sebanyak 27 orang. Ini Fakultas favorit ketiga setelah Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Pertanian. Waktu itu jeri juga karena di Fahutan paling banyak mahasiswa RCD di angkatan 9 dan 10.

Inilah 27 mahasiswa Fahutan Sebelas itu:

Ade Kurnia Rauf
Abubakar Roland
Agus Kristijono
Agus Pakpahan
Agus Pambudi
Bambang Uripno (almarhum)
Bambang Winarto
Darmadji W. Karlan
Djoko Supomo
Dodi Surachman Sukardi
Erwidodo
Harmini Sudjiman
Harry Santoso (almarhum)
Hendi Setiawan
Herry Rousyikin
Imam Santosa (almarhum)
Isa Muhtar M. Asraf
Iwan Somantri Setiawan
Ketut Landra Setiasa
Kumaedi
Man Supratman
Mochammad Ichwanudin Mawardi
Mohammad Ratu Ashari (almarhum)
Priyambudi Santosa
Tedjo Roemekso
Tiwa Sukrianto
Yetty Rusli 

Lihat, dari  27 mahasiswa, hanya ada dua perempuan, Harmini dan Yetty. Dan desas-desus itu ternyata betul: kuliah di Fahutan sulitnya minta ampun. Banyak angkatan 9 dan 10 jadi RCD. Paling tidak ada 17 orang. Ada yang memperdalam 1 mata kuliah, 3 mata kuliah, bergantung nilai pada semester 4 dan 5. Jika nilainya D apalagi F, pasti mengulangnya, sementara yang nilainya C bebas memperdalam atau cukup puas dengan nilai C. Itulah kejamnya sistem pendidikan saat itu. Bayangkan hanya mengulang 1 mata pelajaran saja harus menunggu satu tahun.

Mahasiswa yang masuk Fahutan pasti mempunyai nyali tinggi. Suatu keberanian yang luar biasa, karena harus mempunyai “tabungan” nilai yang cukup, untuk menutup jika mata pelajaran di kehutanan jatuh. Alhammdulillah, 27 mahasiswa angkatan 11 dapat menyelesaikan studinya di Fahutan dan tidak pernah menjadi RCD.

Sejak semester empat, aku mendapat beasiswa Super Semar. Syaratnya mudah, naik tingkat, aktif kegiatan mahasiswa dan ada pernyataan kurang mampu dari orang tua. Keaktifan mahasiswa berdasarkan penilaian dari Senat mahasiswa dan Ketua Angkatan 11. Beasiswa yang sampai semester 8 (tingkat 4). Beasiswa pertama sebesar Rp. 12.500,- dan terakhir dapat Rp. 17.500.

Masuk  Fahutan itu mulai semester 4. Kampus Fahutan berada di Dramaga, menyendiri, sementara fakultas lainnya (Pertanian, Perikanan, Peternakan, Kedokteran Hewan, dan Mekanisasi dan Teknologi Pertanian) berada di Baranangsiang. Jarak antara Kampus Darmaga dengan kota Bogor sekitar tujuh kilometer. Sebagian besar areal kampus masih berupa hutan karet dan pinus.

Aku masuk Asrama Sylvalestari karena Sylvasari sudah penuh oleh angkatan 10. Asramanya bagus, terdiri dari tiga lantai, listrik bebas, tersedia TV di lantai dasar. Kamarnya besar cukup untuk berempat, namun hanya diisi dua mahasiswa. Bagian samping kamar utama terdapat kamar single, akan diisi oleh mahasiswa senior, yang telah menempati kamar double lebih dari satu tahun. Nomor kamar melalui undian. Bagi mahasiswa luar Bogor, adanya asrama  sangat membantu dan menikmati, karena gratis dengan fasilitasnya yang “mewah”. Setiap beberapa kamar dilayani seorang Bibi, yang tugas utamanya adalah membersihkan kamar dan mencuci pakaian mahasiswa.

Saat itu, hanya ada dua jurusan di Fahutan: Manajemen Hutan dan Hasil Hutan. Dari sekian banyak dosen, dua yang ditakuti mahasiswa: Dr. Ir. Zufri Hamzah, M.Sc  yang mengampu Ilmu Tanah Hutan dan Dr. Ir. Herman Haeruman yang mengajar Ekonomi Kehutanan. Kalau dapat nilai C dari kedua mata pelajaran yang diasuh beliau dapat dikatakan sudah cukup bagus.

Dosen Fahutan terkenal pelit memberikan nilai. Banyak dosen yang tinggal di di Asrama Dosen (di belakang Asrama Lestari dan Asrama Sylva Lestari). Kalau sore sering bermain bersama voli bal atau tenis meja bersama mahasiswa. Di luar perkuliahan hubungan antara dosen dan mahasiswa cukup erat. Tapi begitu menyangkut nilai, lain soal. Dari 27 mahasiswa Fahutan 11, tidak ada yang memperoleh predikat Cum Laude, paling banter “Memuaskan”. Predikat terbanyak adalah lulus dengan predikat A, Alhamdulillah lulus.

Suatu kali Pak Sanusi Wiradinata meminta saya mengerjakan soal Biaya Eksploitasi Hutan di papan tulis. Ternyata saya enggak lancar menyelesaikannya. Pak Sanusi memandu sambil marah-marah. Mahasiswa lain semua terdiam. Soal baru selesai setelah satu jam. Begitu bubar teman-teman menertawakan saya karena disetrap Pak Sanusi satu jam lebih. Tapi waktu pengumuman nilai akhir kenaikan ke tingkat 4, nilai Biaya Eksploitasi Hutan saya B. Gara-gara dimarahi Pak Sanusi, saya jadi rada pinter.

Ruang Sylva merupakan ruang kuliah yang tidak terlupakan bagi mahasiswa. Karena di ruang inilah selama 2,5 tahun mahasiswa Fahutan 11 mengikuti perkuliahan dan sekaligus ujian kehutanan. Ruang Sylva merupakan saksi bisu dalam mencetak sarjana kehutanan. 

Praktik pengelolaan hutan dilakukan selama satu bulan di Gunung Walat. Saat itu hanya tersedia “barak” untuk tidur mahasiswa. Bahkan makannya di tempat terbuka, di bawah pohon pinus, di buat bangku dan meja dari kayu. Sangat sederhana, namun begitulah kenyataan kalau berada di hutan. Satu-satunya hiburan adalah main gaple. Praktik di Gunung Walat sangat bermanfaat selain mempraktikkan ilmu yang telah dipelajari, juga untuk meningkatkan kebersamaan dan jiwa korsa kehutanan. Sebagai rimbawan setelah 42 tahun melihat Hutan Pendidikan Gunung Walat kembali tentu sangat bangga melihat berbagai fasilitas dan tanaman agathis tumbuh dengan suburnya.

Praktik Umum
Dilakukan pada semester 7 selama dua bulan di Perhutani Jawa Timur. Intinya belajar bagaimana Perencanaan Hutan dan  Pengelolaan Hutan serta Pengolahan Kayu dilaksanakan. Organisasi Perhutani  memisahkan antara  Perencanaan Hutan dan Pengelolaan Hutan yang dilakukan oleh Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH). Dalam Perencanaan Hutan diatur bagaimana mengatur kelestarian hutan, blok mana saja yang di lakukan: inventarisasi, penanaman, penjarangan, penanaman dan seterusnya. KPH hanya melakukan apa yang telah di rencanakan oleh Kantor Perencanaan Hutan. Sementara, pengolahan kayu dan nonkayu, adalah bagaimana meningkatkan nilai tambah dari hasil hutan yang dipanennya. Praktik dilakukan di Pabrik Pengolahan Kayu Jati Jatirogo dan Pabrik Gondorukem dan Terpentin di KPH Lawu Ds. Ternyata, Praktek Umum yang dilakukan 2 bulan, tidak ada kreditnya, yang ada hanya keterangan lulus. 

Praktik Khusus
Kalau melihat kembali transkrip daftar nilai yang dikeluarkan oleh Fahutan, ternyata tidak ada skripsi. Yang ada adalah “Praktik Khusus”. Tidak ada kreditnya, hanya tertulis lulus. 

Summer Job
Ini program yang dilakukan oleh Fahutan bekerja sama dengan Perum Perhutani. Pada saat liburan semester, mahasiswa diberi kesempatan magang di Perhutani. Sambil libur di kampung halaman, sekaligus magang di Perhutani setempat. Sangat menyenangkan, karena bisa melihat dan mempraktikkan ilmu yang dipelajari di dunia nyata. Lebih senang lagi kalau diajak oleh Bapak Ajun KPH atau oleh Bapak KPH pergi ke lapangan. Sambutan Pak Mantri Hutan (Asper Kehutanan) luar biasa. Ini juga yang menyebabkan kenapa Fahutan dijadikan pilihan. 

KKN
Kuliah Kerja Nyata merupakan praktik yang wajib diikuti oleh mahasiswa. KKN dilakukan di kecamatan JONGGOL Kabupaten Bogor. Satu kelompok 3-5 mahasiswa dari berbagai Fakultas. Dari Fahutan, fokus melakukan monitoring pelaksanaan penghijauan di desa tersebut dan membantu pembuatan monografi desa. 

Karena transisi dari enam ke empat tahun, setelah lulus angkatan 11 sering diragukan kesarjanaannya. Namun dalam perjalanan waktu, ada semacam pengamatan bahwa sarjana 4 tahun dalam keilmuannya tidak kalah dengan sarjana 6 tahun, hanya saja dalam masalah emosional sarjana 6 tahun lebih dewasa. Angkatan 11 yang nilai bagus kemudian bergelar doktor dan sukses berkarier hingga eselon I atau setingkat eselon I seperti Agus Pakpahan, Erwidodo, Ikhwanuddin, Yetti Rusli. Kami bangga dengan kesuksesan mereka.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.