Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|26 Maret 2021

Bank Genjot Kredit untuk Industri Energi Fosil

Ironi besar: di tengah usaha menurunkan emisi karbon untuk mencegah krisis iklim, 60 bank terbesar di dunia menggenjot kredit hingga US$ 3,8 triliun untuk 100 perusahaan energi fosil.

LIMA tahun setelah 197 negara bersepakat menurunkan emisi karbon untuk mencegah suhu bumi naik mulai 2020 dalam Konferensi Tingkat Tinggi Iklim, bank-bank terbesar di dunia malah menggenjot kredit membiayai industri energi kotor. Tak hanya mencederai tekad itu, ulah para eksekutif bank itu bertentangan dengan prinsip “keuangan hijau” sebagai solusi mencegah krisis iklim. 

Menurut catatan International Energy Agency, emisi akibat pembakaran energi tahun 2020 sebesar 31,5 miliar ton atau 61,7% dari total emisi tahunan. Dari jumlah itu sebanyak 80% berasal dari energi kotor. Jika tak diturunkan dengan beralih ke energi ramah lingkungan, seperti angin dan matahari, jumlah produksi emisi pada 2030 diprediksi mencapai 64 miliar ton setara CO2 sehingga suhu bumi akan melesat menjadi 3-40 Celsius dibanding masa praindustri 1800-1850.

Penyalur kredit untuk industri fosil terungkap melalui kajian enam lembaga internasional dalam laporan Banking on Climate Chaos 2021 pada 25 Maret 2021. Mereka menelisik jumlah kredit 60 bank terbesar di dunia untuk industri energi fosil selama 2015-2020 sebanyak US$ 3,8 triliun atau Rp 55.100 triliun. Tahun 2020 bahkan 10% lebih tinggi dibanding 2016. Kredit ini umumnya berjangka waktu 30 tahun.

Laporan itu menyebut ekspansi kredit untuk energi fosil sebuah ironi besar mengingat permintaan energi selama pandemi covid-19 turun. Pandemi bahkan menjadi peringatan keras bahwa krisis iklim sedang berlangsung akibat tak seimbangnya ekosistem karena kenaikan suhu bumi yang dipicu produksi emisi ke atmosfer. Virus yang bersarang di tubuh hewan liar pindah ke manusia karena kita memburu dan membabat habitat mereka.

Menurut IEA, selama 2020 permintaan terhadap energi turun 6% yang mendorong jumlah emisi karbon berkurang 5,8%, penurunan terbesar sejak Perang Dunia II. Karena itu, ekspansi 60 bank membiayai lebih dari 100 perusahaan energi kotor menjadi pertanyaan besar di tengah komitmen global menurunkan produksi emisi pada 2050.

Sesuai Perjanjian Paris 2015, dunia mesti menurunkan jumlah emisi dari 51 miliar ton setara CO2 per tahun menjadi 25-30 miliar per tahun untuk mencegah suhu bumi naik 1,50 Celsius dibanding suhu masa praindustri. Dengan skenario alakadarnya, jumlah emisi pada tahun itu akan mencapai 64 miliar sehingga suhu bumi naik melewati 2C. Apalagi, jika bank menyokong industri pencemarnya giat mengeksploitasi bumi.

Saat ini jumlah energi kotor masih mengisi 63% sumber pembakaran global. Alih-alih menurunkannya dengan berinvestasi di energi terbarukan, bank-bank di dunia merayakan industri fosil, seperti minyak, gas, dan batu bara, dengan memberikan kredit kepada mereka secara terus menerus. “Wall Street harus bertindak sekarang untuk menghentikan pembiayaan ekspansi fosil,” kata Direktur Eksekutif Rainforest Action Network Ginger Cassady, menyebut pusat keuangan di Amerika.

Selain RAN, lima lembaga lain yang terlibat dalam penelisikan bersama ini adalah BankTrack, Indigenous Environmental Network, Oil Change International, Reclaim Finance, dan Sierra Club. Mereka mendapat dukungan lebih dari 300 organisasi dari 50 negara di seluruh dunia.

Metode yang dipakai laporan ini untuk menelisik jumlah kredit untuk industri fosil dengan mengumpulkan pinjaman bank dan penjaminan emisi utang dan ekuitas menurut metodologi kredit Bloomberg. Sebelum laporan ini diterbitkan, mereka menyurati bank untuk mengomentarinya.

Menurut laporan itu, bank-bank yang berbasis di Amerika Serikat terus menjadi pendorong emisi global terbesar pada tahun 2020, dengan “JPMorgan Chase tetap menjadi bank fosil terburuk di dunia”.

JP Morgan baru-baru ini berkomitmen menyelaraskan pembiayaannya dengan Perjanjian Paris, namun melanjutkan pembiayaan bahan bakar fosil yang tidak terkendali. Dari 2016 hingga 2020, aktivitas pinjaman dan penjaminan JP Morgan hampir US$ 317 miliar untuk bahan bakar fosil, 33% lebih banyak dari Citibank, bank fosil terburuk berikutnya selama periode ini.

Hasil mengejutkan adalah BNP Paribas (melalui Bank of West, anak usaha di Amerika, mengiklankan tanggung jawabnya terhadap iklim) tapi masuk sebagai bank fosil terburuk keempat pada 2020. BNP Paribas menyediakan US$ 41 miliar dalam pembiayaan fosil pada tahun 2020, naik 41% dibandingkan 2019.

Lima bank Asia pemberi kredit terbanyak untuk energi kotor

Lucie Pinson, pendiri dan Direktur Eksekutif Reclaim Finance, mengatakan bahwa laporan ini sebagai contoh sempurna kemunafikan pemimpin dunia dan lembaga keuangan. Ia menyitir pernyataan Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire yang menyebut Paris sebagai ibu kota keuangan hijau. “Nyatanya, empat bank menjadikan Prancis pendukung terbesar minyak, gas, dan batu bara di Eropa,” katanya.

Lorne Stockman, analis Riset Senior Oil Change International, menambahkan bahwa temuan ini juga mengungkap “nol emisi” hanya retorika belaka. “Bank-bank menghabiskan miliaran dolar untuk mengunci kita dalam kekacauan iklim,” katanya.

Bank yang menggenjot kredit untuk industri energi kotor kelak akan dicatat sebagai lembaga keuangan yang menyebabkan malapetaka. Krisis iklim melahirkan pelbagai bencana: banjir, topan, rob, badai, suhu ekstrem, hingga pandemi. Jika suhu bumi naik melewati 1,5C, bumi tak akan bisa menanggungkan pelbagai perubahan alam yang dahsyat.

Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain