Laporan Utama | Januari-Maret 2018

Ciremai Lewat Jalur Kelima

RIMPALA melakukan ekspedisi mendata tumbuhan obat di jalur baru pendakian ke puncak Gunung Ciremai. Obat untuk sehari-hari.

Tim Ekspedisi Rimpala

Rimbawan Pencinta Alam Fakultas Kehutanan IPB

ADA empat jalur umum mencapai puncak Ciremai, gunung tertinggi di Jawa Barat, itu. Jalur Palutungan dan jalur Linggarjati jika masuk dari Kabupaten Kuningan; jalur Apuy dari Majalengka, dan jalur Desa Padabeunghar yang menjadi desa perbatasan dua kabupaten itu. Kami memilih jalur kelima: jalur desa Linggasana di Kecamatan Cilimus.

Pada 2015, ketika kami melakukan ekspedisi ini, jalur Linggasana tergolong jalur baru. Ini sengaja kami lakukan karena ekspedisi ini, selain mencari data jalur baru ke puncak Ciremai , juga mendata tumbuhan obat selama perjalanan ke gunung setinggi 3.078 meter dari permukaan laut ini.

Kami tertarik memetakan tanaman obat di Ciremai karena penelitian soal ini relatif jarang. Padahal jenis tanaman obat, menurut Hamid et al. 1991), terentang sangat luas. Tanaman obat adalah tanaman yang bagian tanamannya (daun, batang atau akar) mempunyai khasiat sebagai obat dan digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan obat modern atau tradisional. Bagi orang Indonesia, obat dari tanaman adalah praktik menjaga kesehatan sehari-hari.

Selain memetakan jalur, dan tanaman obat, kami juga memetakan fauna di sepanjang pendakian. Data yang diambil dalam ekspedisi ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan observasi secara langsung dengan metode tracking untuk pemetaan jalur dan marking atau menandai tempat-tempat yang dapat dijadikan sebagai camping ground, spot yang memiliki pemandangan bagus, serta letak mata air, eksplorasi untuk data tumbuhan obat, dan metode pengamatan cepat untuk data fauna. Data sekunder diperoleh melalui penelitian sebelumnya tentang flora fauna di Gunung Ciremai, identifikasi tumbuhan obat dicari melalui studi pustaka.

Pengambilan data primer berupa peta jalur pendakian diambil dengan tracking menggunakan Global Positioning System (GPS) pada setiap jalur pendakian. Tanama-tanaman obat yang kami temukan, kami dokumentasikan untuk dicarikan referensinya dalam tinjauan pustaka.

***

 GUNUNG Ciremai atau sering juga disebut Cereme, menjulang di tengah-tengah dataran rendah kawasan Pantai Utara Jawa Barat bagian Timur. Menurut data dasar gunung api di Indonesia, gunung ini telah meletus sebanyak tujuh kali selama kurun waktu 400 tahun terakhir. Kondisi aktif gunung ini banyak berdampak pada jenis batuan di sekitar kawasan TN.

Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. SK. 242/Menhut-II/2004 gunung ini memiliki kawasan seluas 15.500 hektare. Kawasan ini merupakan kawasan hutan lindung dengan fungsi utama pengaturan tata air, pencegah erosi dan sedimentasi, longsor banjir. Tingginya curah hujan di gunung Ciremai ini membentuk 43 sungai, yang memenuhi standar kriteria kualitas air minum.

Kami melakukan ekspedisi selama tiga hari, dari  tanggal 27 sampai 30 Juli 2015. Tim ekspedisi yang beranggotakan tujuh orang dibagi menjadi tim dokumentasi tiga orang, tim fauna dua orang dan tim tumbuhan obat dua orang. Petualangan kami dimulai dari pos Linggasana yang berada di ketinggian 600 mdpl.

Ada sembilan pos melalui jalur ini: Kondang Amis, Kuburan Kuda, Pangalap, Batu Lingga, tanjakan Seruni, tanjakan Bapa Tere, Sanggabuana 1, dan Sanggabuana 2. Perjalanan menuju puncak melalui jalur ini sangat menguras tenaga. Jalurnya terjal, berbatu, berpasir dan berhawa panas. Segala kelelahan itu terbayar ketika memasuki kawasan batas vegetasi. Kami disuguhi bentang alam yang sangat indah. Ini bisa melenakan karena jalurnya curam dengan jurang di kanan-kiri.

Selama ekspedisi kami menemukan 17 spesies tumbuhan obat yang berasal dari 14 famili, yaitu Anacardiaceae, Acanthaceae, Myrtaceae, Lauracecae, Euphorbiaceae, Asteracecae, Fabacecae, Arecaceae, Melastomataceae, Lamiaceae, Musaceae, Theaceae dan Sapindaceae. Dari referensi yang kami baca, tumbuh-tumbuhan itu berkhasiat mengobati berbagai macam penyakit. Mulai dari mengobati luka luar dan penyakit dalam seperti mencegah diabetes, obat luka sayat, gatal-gatal dan disentri.

Tumbuhan yang paling sering kami jumpai adalah Kirinyuh, yang berkhasiat mengobati gatal dan penyakit kulit. Ada juga Puspa yang daunnya bermanfaat sebagai obat luka luar, sementara buahnya bisa direbus dan airnya diminum untuk obat diare. Daftar obat tanaman yang kami temukan bisa dilihat di Tabel 1.

No

Lokasi

Tabel 1. Tumbuhan obat yang ditemukan di sepanjang jalur pendakian Gunung Ciremai via Linggasana-Apuy

 

Nama lokal

Nama latin

Famili

Habitus

Khasiat

Bagian yang digunakan

Cara penggunaan

1

Basecamp-Tanjakan Jeunjing

Mangga

Mangifera indica L.

Anacardiaceae

Pohon

Menurunkan gejala hiperglisemia

Buah

Makan langsung

2

Basecamp-Tanjakan Jeunjing

Kejibeling

Sericocalyx crispus (L.) Bremek.

Acanthaceae

Herba

Obat dan pencegah diabetes

Daun

Daun segar 20 - 50 gram, di rebus dengan 6 gelas air sampai tersisa 3 gelas, dinginkan, saring. Minum 3 kali 1 gelas per hari

3

Basecamp-Tanjakan Jeunjing

Salam

Syzygium polyanthum (Wight) Walp.

Myrtaceae

Pohon

Antioksidan, obat luka sayat

Daun

Daun dibubukkan dengan cara ditumbuk atau digerus kemudian dijadikan tapal penyembuh luka

4

Basecamp-Sirahong

Huru Batu

Litsea glutinosa (Lour.) C.B.Rob.

Lauraceae

Pohon

Obat bisul

Buah

Buah dibersihkan dan direndam dengan garam

5

Basecamp-Sirahong

Mara

Macaranga tanarius (L.) Müll.Arg.

Euphorbiaceae

Pohon

Obat berak-darah, obat anti nyeri bersalin

Kulit batang


Seduh kulit batangatau ditambah bahan lain kemudian diminum

6

Basecamp-Tanjakan Jeunjing

Waru gunung/ Belantu

Homalanthus giganteus Zoll. & Moritzi

Euphorbiaceae

Pohon

Batuk

Daun

Daun direbus, air rebusan diminum 3 kali sehari.

Muntah-muntah

Giling daun sampai halus, tambahkan air sambil diremas-remas, saring dan tambahkan air gula secukupnya lalu minum

Rambut rontok

Giling daun sampai halus, tambahkan 2 sendok makan minyak jarak dan air perasan 1 buah jeruk nipis, gunakan perasan air tersebut untuk menggosok kepala

Bisul


Giling daun dan tempelkan pada daerah yang sakit

7

Basecamp-Batulingga

Kirinyuh

Eupatorium inulifolium Kunth

Asteraceae

Herba

Obat gatal-gatal

Daun

Bersihkan daun keringkan dalam oven, lalu blender hingga menjadi serbuk kemudian taburkan pada daerah yang gatal

8

Basecamp-Batulingga

Babandotan

Ageratum conyzoide (L.) L.

 

Asteraceae

Herba

Luka

Daun

Remas-remas hingga keluar air, teteskan airnya ke kulit yang luka

Disentri, diare

Akar

Rebus 30 gram akar Ageratum  dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring dan diminum airnya selagi hangat

10

Tanjakan Jeunjing-Sirahong

Jengkol

Archidendronjiringa (Jack) I.C.Nielsen

Fabaceae

Pohon

Diabetes

Buah

Buahnya dapat dikonsumsi secara langsung

11

Tanjakan Jeunjing-Condang Amis

Salak

Salaccazalacca (Gaertn.) Voss

Arecaceae

Perdu

Menghentikan diare

Buah

Makan langsung

12

Tanjakan Jeunjing-Kuburan Kuda

Harendong/Senggani

Melastoma candidum D. Don

Melastomataceae

Perdu

Mengatasi sariawan, diare, mimisan, keracunan singkong, bisul

Akar

Rebus, minum airnya

13

Sirahong-Condang Amis

Kumis Kucing

Orthosiphon aristatu (Blume) Miq.

Lamiaceae

Herba

Memperlancar pengeluaran air kemih (diuretik) 

Daun

Rebus, minum airnya

14

Sirahong-Condang Amis

Pisang kepok

Musa acuminata Colla

Musaceae

Herba

Melancarkan fungsi otak

Buah

Makan langsung

15

Condang Amis-Pangalap

Puspa

Schimawallichii Choisy

Theaceae

Pohon

Obat luka

Daun

Daun muda di kumnyah dan di tempelkan ke luka

Diare dan sakit perut

Buah

Buah tua di tumbuk halus lalu diseduh

16

Sanggabuana 1-Puncak

Cantigi

Dodonaea viscosa (L.) Jacq.

Sapindaceae

Semak

Luka

Daun

Daun dipakai untuk tapal dan dioleskan pada luka

Obat demam dan mengurangi pembengkakan disebabkan oleh peradangan dan benjolan

Daun direbus dan air rebusannya dipakai untuk mengompres

17

Sanggabuana 1-Puncak

Edelweiss

Anaphalis javanica (DC.) Sch.Bip.

Asteraceae

Semak

Mengencangkan kulit berkeriput, mengobati sirkulasi yang buruk, difteri, disentri, diare, tuberculosis

Bunga

Bunganya diekstrak

Sementara fauna yang kami jumpai sepanjang perjalanan Linggasana-Apuy sebanyak enam satwa yang berasal dari enam famili yang berbeda. Setelah diidentifikasi, dari enam spesies satwa tersebut empat di antaranya termasuk dalam daftar hewan endemik Indonesia. Dua spesies lain yaitu gagak hitam (Corvus enca) dapat ditemukan di Filipina, sedangkan babi celeng (Sus scrofa) dapat ditemukan di seluruh dunia. Daftar satwa yang ditemukan dapat dilihat pada tabel 2.

No

Nama Latin

Nama Lokal

Famili

Status Konservasi

Lokasi ditemukan

1.

Paradoxourus hermaphrodius

Musang Luwak

Vivirridae

Resiko rendah

Kondang Amis

2.

Tupaia javanica

Tupai Kekes

Tupaiidae

Resiko rendah

Kondang Amis

3.

Ictinaetus malayensis

Elang Hitam

Accipitridae

Resiko rendah

Sengkuni

4.

Corvus enca

Gagak Hitam

Corvidae

Resiko rendah

Sengkuni

5.

Trachipitecus auratus

Lutung

Cercopithedae

Rentan

Sengkuni

6.

Sus scrofa

Babi Celeng

Suidae

Resiko rendah

Sanggabuana

Kami memutuskan turun dan pulang melalui jalur Apuy karena paling pendek dibanding empat lainnya. Di jalur ini ada enam pos: Gua Walet, Sahyang Rangkah, Tegal Jamuju, Tegal Masawa, Arban dan basecamp Apuy. Meski hasil ekspedisi kami masih banyak kekurangan, ini ekspedisi berat yang menggembirakan karena kami bisa memetakan tanaman obat untuk keperluan praktis sehari-hari.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.