Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|08 Agustus 2020

Potensi Melimpah Energi Terbarukan

Energi terbarukan adalah solusi ekonomi dan lingkungan sekaligus. Perkembangannya lelet.

INDONESIA masih memakai bahan bakar fosil sebagai sumber energi, dari minyak bumi dan batu bara. Padahal energi fosil yang tak terbarukan menjadi sumber gas rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global.

Baru-baru ini, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) merilis laporan tahunan yang memprediksi suhu bumi akan naik 1-1,50 Celsius pada lima tahun ke depan. Menurut Panel Antar-Pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), badan pemantau pemanasan global di PBB, sebanyak 33,6% peningkatan emisi gas rumah kaca berasal dari sektor energi.

Selain mempercepat pemanasan bumi, ketersediaan energi fosil juga terbatas dan suatu saat akan habis. Solusinya adalah membuat dan memakai energi terbarukan, yang bersumber dari sesuatu yang tak terbatas di alam, seperti angin, matahari, air, ombak laut, panas bumi, bioenergi.

“Indonesia punya semua jenis energi terbarukan,” kata Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), sebuah NGO, Fabby Tumiwa. Ia mengutip data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang menyebutkan sumber daya yang bisa dijadikan pembangkit listrik terbarukan sekitar 400 Giga watt—hampir enam kali lipat kapasitas pembangkit listrik sekarang.

Setiap daerah juga punya keragaman sumber energi. Misalnya, kendati biomassa melimpah di Jawa, areal untuk perkebunan tak ada lagi akibat okupasi manusia terhadap lahan. Biomassa limbah tanaman banyak terdapat di Kalimantan atau Sumatera.

Selain belum adanya kebijakan—rancangan undang-undang dan peraturannya masih digodok parlemen dan pemerintah—nilai investasi yang besar kerap menjadi kendala penggunaan energi terbarukan. Namun, menurut Febby, kendala terbesar investasi energi terbarukan bukan pada modal, melainkan kebijakan pemerintah.

“Dari penelitian kami terlihat bawah hambatan terbesar investasi energi terbarukan adalah ketidakpastian,” kata dia. “Komitmen mengembangkan energi terbarukan pemerintah Indonesia tidak terlalu kuat.”

Meski begitu, baru-baru ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral meluncurkan program Mentari, program kemitraan energi rendah karbon Inggris-Indonesia guna mendukung upaya pemulihan ekonomi yang ramah lingkungan di Indonesia.

Sekretaris Jenderal ESDM Ego Syahrial mengatakan bahwa program Mentari akan menjadi bagian dari transisi menuju energi bersih Indonesia. Sekaligus juga mewujudkan pertumbuhan ekonomi inklusif dan mengurangi kemiskinan melalui pengembangan sektor energi terbarukan.

Transisi energi bersih di Indonesia akan menguntungkan semua pihak: investasi yang naik sehingga membuka lapangan pekerjaan untuk menumbuhkan ekonomi, sekaligus ramah lingkungan. Dalam ilmu manajemen, mengawinkan kelestarian lingkungan dan ekonomi salah satu cara jitu melalui inovasi.

Lingkungan yang rusak akan membuat pertumbuhan ekonomi terhambat karena menimbulkan biaya eksternalitas. Biaya eksternalitas adalah biaya yang muncul akibat produksi barang yang tak ramah lingkungan yang dampaknya ditanggung alam semesta. Imbasnya biaya ekonomi juga akan mahal.

Ego menyebut akses listrik akan dihadirkan termasuk untuk mereka yang tinggal di daerah paling terpencil di Indonesia. Program Mentari berfokus di wilayah timur Indonesia. Kementerian sedang menyiapkan program penggantian semua Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dalam tiga tahun ke depan.

Berdasarkan kajian Kementerian ESDM, potensi energi terbarukan menjadi salah satu yang terbesar di dunia, sebesar 442 Giga watt atau 6,5 kali kapasitas pembangkit listrik saat ini. Indonesia baru memakai 2,15% dari kapasitas tersebut. Indonesia telah menetapkan target energi terbarukan mencapai 23% dari total energi yang dihasilkan pada 2025.

Fabby berharap target itu tak meleset lagi. Soalnya, tantangan mencapainya lumayan berat. Tak hanya inovasi dan kebijakannya, tapi rayuan pertumbuhan ekonomi negara lain tak kalah menggiurkan.

Dalam sebuah diskusi online baru-baru ini, pemerintah Cina didorong melonggarkan impor batu bara untuk mendongkrak kembali ekonomi yang mandek akibat pandemi virus corona covid-19. Pelonggaran ini akan mendorong industri batu bara Indonesia menggeliat kembali. Dengan cadangannya yang mencapai 147 miliar ton di 21 provinsi, Indonesia berkepentingan menjualnya dengan cepat.

Inovasi lama yang telanjur memakai batu bara sebagai sumber energinya membuat banyak negara lambat mengaplikasikan teknologi energi bersih. Keinginan menjual energi kotor karena mudah dan murah membuat banyak negara tergiur menempuh jalan pintas mengengkspornya.

Tekanan dunia terhadap negara-negara memenuhi janji mereduksi emisi karbon pada 2030 tak terlalu dihiraukan karena tak ada sanksi signifikan bagi mereka yang gagal mencapainya. Indonesia punya target menurunkan emisi 29% pada 2030 atau 855 juta ton setara karbon dioksida (CO2) dengan usaha sendiri.

Pada tahun itu sektor energi diperkirakan menyumbang emisi sebanyak 1,7 Giga ton emisi setara CO2. Meski menyumbang emisi paling banyak, pengurangan emisi dari sektor energi hanya 11% pada 2030, lebih rendah dibanding sektor kehutanan sebanyak 17,2% yang diprediksi akan menyumbang emisi pada tahun tersebut sebanyak 714 juta ton CO2.

Artinya, pengendalian emisi dari sektor energi yang paling jadi andalan dalam mencapai target tersebut. Masalahnya, kebijakan energi belum bertumpu pada mitigasi perubahan iklim.

Anggota redaksi, wartawan radio di Jakarta.

Bagikan

Komentar

Artikel Lain