Surat dari Darmaga | 22 April 2020

5 Inovasi Perguruan Tinggi Saat Pandemi

Saat pandemi virus corona Covid-19 seperti sekarang, kampus dituntut berinovasi, baik di dalam perguruan tinggi maupun inovasi riset yang bermanfaat bagi orang banyak.

Arif Satria

Rektor IPB University

PANDEMI virus corona Covid-19 telah membuat hampir seluruh kampus close down sejak pertengahan Maret 2020. Baru kali ini kampus benar-benar menghadapi ketidakpastian. Kondisi ini membuat insan kampus berpikir keras untuk bisa beradaptasi dengan ketidakpastian (uncertainty).

Ternyata kampus pun juga dituntut berusaha melakukan mitigasi ketidakpastian ini. Adaptasi dan mitigasi seperti apa yang bisa dilakukan kampus? Setidaknya ada lima:

Adaptasi kuliah gaya baru
Kini kuliah online menjadi keniscayaan. Pada saat wacana pembelajaran daring didorong sebagai respons Revolusi Industri 4.0, banyak orang menentang. Padahal waktu itu alasannya sebagai salah satu bentuk fleksibilitas sesuai perilaku kaum milenial.

Harus kita akui fleksibilitas adalah jawaban atas ketidakpastian sebagaimana VUCA (volatility, uncertainty, complexcity dan ambiguity). Kini dosen dan mahasiswa “dipaksa” keadaan terbiasa dengan pola pembelajaran baru. Jadi, pola perkuliahan 4.0 akhirnya terwujud dan ternyata yang memaksa adalah Covid-19.

Meski begitu persoalan yang muncul adalah kesiapan dosen menyangkut materi daring, dan kesiapan mahasiswa menyiapkan kuota Internet. Dalam waktu 1-2 pekan dosen mesti menyiapkan materi daring untuk seluruh sisa pertemuan, dan bukan sekadar mendaringkan materi kuliah konvensional. Tantangannya juga bukan sekadar pelaksanaan kuliah daring, tetapi bagaimana bisa menjamin tercapainya learning outcome suatu mata kuliah dalam suasana darurat ini.

Bagi mahasiswa, isu ini direspons secara beragam tergantung latar belakang ekonomi keluarganya. Secara umum mahasiswa keberatan jika kuliah daring terus menerus dilakukan secara synchronous melalui video karena metode ini menggerus kuota internet. IPB pun akhirnya mengambil kebijakan memberikan bantuan kuota Internet bagi mahasiswa agar kuliah berjalan lancar.

Bagi Perguruan Tinggi Berbadan Hukum (PTNBH) dan swasta, upaya ini relatif mudah dilakukan karena memiliki otonomi pengelolaan keuangan. Akan tetapi bagi PTN satuan kerja, ada komplikasi karena secara aturan keuangan agak sulit pertanggungjawaban administrasinya. Di sini peran pemerintah ditunggu untuk memecahkan problem PTN Satker yang memang tidak sefleksibel PTNBHN.

Beberapa penyedia jasa Internet sebenarnya sudah membantu penyediaan kuota gratis, namun ada syarat dan ketentuan serta saat ini belum menyeluruh untuk seluruh universitas di Indonesia. Masifnya kuliah online juga mengharuskan perguruan tinggi berinvestasi lebih banyak pada infrastruktur penunjang serta melakukan pelatihan bagi dosen dan tenaga kependidikan dalam pengembangan materi ajar dan penyampaiannya secara online.

Adaptasi fleksibilitas kerja
Bekerja dari rumah atau Work from Home (WFH) adalah kebiasaan baru. Beberapa perusahaan multinasional sudah lama menerapkan prinsip fleksibilitas dalam waktu dan tempat bekerja. Yang penting output pekerjaan terukur.

Bagi kampus, tidak mudah beradaptasi dengan fleksibilitas, khususnya pengukuran kinerja pegawai. Dalam kondisi bekerja konvensional pun kampus masih kesulitan menerapkan prinsip pengukuran kinerja, kecuali untuk dosen yang memang ouputnya lebih mudah diukur. Karena itu dalam kondisi darurat seperti ini untuk sementara insentif pegawai akhirnya “disamaratakan” bukan lagi berbasis kinerja. Namun demikian, sebenarnya kondisi darurat ini bisa menjadi momentum pembelajaran tentang efektivitas dari fleksibilitas kerja dan pengukuran kinerjanya. Tentu ini penting kalau kampus benar-benar ingin bertransformasi menjadi organisasi modern yang adaptif dengan VUCA yang sangat memerlukan fleksibilitas dan kelincahan.

Adaptasi sosial ekonomi
Terjadi kegelisahan kolektif karena informasi di media sosial yang semakin masif tentang bahaya penyakit ini sekaligus kegelisahan akibat memburuknya ekonomi. Kegelisahan sosial disambut dengan berbagai informasi baru yang melegakan tentang berbagai cara pencegahan. Dari sini terjadi pembelajaran massal yang luar biasa karena orang semakin melek terhadap dunia kesehatan dan pentingnya pola hidup sehat.

Banyak akademisi yang muncul dengan informasi baru tentang jenis makanan untuk daya tahan tubuh, waktu tepat berjemur pagi hari, hingga tips psikologis lainnya. Intinya, semua orang menjadi pembelajar karena keingintahuan seputar Covid-19, pencegahan dan penanggulangannya. Begitu pula relawan-relawan kampus bermunculan membantu penanggulangan wabah ini.

Pada saat yang sama kegelisahan kolektif muncul akibat sebagian kelompok masyarakat terkena dampak ekonomi, khususnya para pedagang, ojek aplikasi, dan sektor informal lainnya. Masyarakat pun merespons dengan pergerakan masif pemberian bantuan melalui crowd funding, bantuan tunai, sembako, dan obat-obatan.

Kepedulian kolektif ini merupakan modal sosial yang harus terus diperkuat agar ketahanan sosial menguat, dan ini adalah obat sosial yang mujarab menghadapi Covid-19. Saatnya kampus bergerak dengan cara masing-masing untuk mengurangi beban ekonomi kelompok ekonomi rentan. Momentum ini juga harus dimanfaatkan oleh kampus bukan hanya untuk mendidik entrepreneur, tetapi juga sociopreneur.

Inovasi adaptasi dan mitigasi
Melihat kegelisahan sosial ekonomi di atas, adalah tugas kampus tidak hanya membantu mendidik masyarakat dengan informasi-informasi penting, tetapi juga bagaimana harus muncul gagasan inovasi baru pemberi solusi, baik inovasi untuk adaptasi maupun inovasi untuk mitigasi.

Inovasi untuk adaptasi mulai berkembang, seperti inovasi disinfektan alami, alat pelindung diri, robot untuk melayani pasien, penemuan obat herbal, dan masih banyak lagi. Dalam mitigasi, ilmuwan dunia berlomba-lomba menemukan vaksin. Dulu IPB mengembangkan vaksin flu burung dan tentu kini juga ditantang untuk menemukan vaksin Covid-19.

Setiap bencana baru mestinya melahirkan pengetahuan dan inovasi baru, tentu bila kita semua benar-benar menjadi pembelajar yang lincah dan responsif. Momentum ini mestinya sekaligus semakin menyadarkan kampus betapa riset harus membumi dan berorientasi solusi. Ini yang disebut riset transformatif, yakni riset yang bisa dirasakan hasilnya untuk mempercepat proses perubahan sosial yang diharapkan.

Adaptasi perubahan perilaku hidup sehat
Covid-19 menyadarkan arti pentingnya higienis dan sanitasi personal dan lingkungan. Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun secara lebih sering, memakai masker dan jaga jarak pergaulan mungkin akan menjadi kebiasaan baru pasca Covid-19 berakhir. Kampus dituntut menyediakan fasilitas-fasilitas penunjang guna mendukung hal tersebut, khususnya fasilitas cuci tangan, ruang kelas, dan ruang tunggu/layanan yang lebih nyaman dan aman. Bagaimana pun juga kampus harus memberi contoh kepada masyarakat luas tentang adaptasi hidup sehat.

Tuntutan kepada kampus jauh lebih besar dari pada organisasi lainnya. Saatnya kampus selalu hadir dengan solusi. Di sini kampus harus berisi kaum pembelajar yang lincah dan tangguh untuk merespons setiap ketidakpastian baru. Ketidakpastian bisa datang kapan saja, dan respons cepat untuk beradaptasi dan mitigasi menjadi kunci untuk bisa mengatakan “badai pasti cepat berlalu." 

Bogor, 5 April 2020

Gambar oleh mohamed Hassan dari Pixabay.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain