Laporan Utama | Juli-September 2018

Di Asrama Semua Cerita Bermula

Mahasiswa Fakultas Kehutanan menempati tiga asrama. Memulai tradisi pemberian nama panggilan, sampai tercetak di ijazah.

Rina Kristanti

Penjelajah bentang alam dan voluntir pelestarian lingkungan.

SETELAH Dekan Fakultas Kehutanan Rudy C. Tarumingkeng sepakat menerima tawaran Rektor Tojib Hadiwidjaja pindah kampus dari Baranangsiang ke Dramaga, mahasiswa bersiap merayakannya dengan sebuah upacara. Mereka berkumpul di kampus untuk berjalan kaki menuju tempat kuliah baru mereka. 

Waktu itu 1 Oktober 1968. Sudah ada lima angkatan mahasiswa Fakultas Kehutanan, dengan tiga mahasiswi dari angkatan dua (1964) sebanyak tiga orang. Mereka ngabring menempuh 10 kilometer ke Dramaga. Dosen dan pegawai juga ikut sambil menyanyikan mars Rimbawan.

Kampus IPB Dramaga dibangun sejak 1961 atas prakarsa Presiden Sukarno. Meski sempat tersendat pembangunannya karena bahan bangunan dialihkan ke Jakarta untuk membangun stadion Gelora Bung Karno menyambut Asian Games 1962, kampus Fakultas Kehutanan berdiri juga.

Karena transportasi sulit—oplet hanya ada dari Taman Topi di terminal Merdeka hingga jembatan Ciherang—kampus baru di tengah perkebunan karet milik orang Belanda ini dilengkapi tiga asrama untuk tinggal mahasiswa. “Sementara dosen-dosen akan menempati Wisma Amarilis karena kamarnya lebih besar,” kata Rudy, bulan lalu.

Menurut Rudy, proses pemindahan kampus itu berlangsung selama tiga bulan. Mahasiswa mulai belajar di kampus baru—yang kini jadi Gedung Sylva—dan tinggal di asrama. “Saya gelombang pertama yang menempati asrama Sylva Sari,” kata Profesor Kurnia Sofyan.

Kurnia adalah angkatan 1962 atau Minus 1. Ketika pindah kampus itu ia sedang menempuh kuliah di tingkat akhir, dari enam tahun program sarjana yang harus dijalaninya. Kurnia kuliah selama tujuh tahun. “Keenakan tinggal di asrama, jadi lulusnya lama,” kata pensiunan dosen Fahutan ini.

Kampus Dramaga waktu itu masih rimbun hutan karet. Meski sudah ada mamang dan bibi yang membersihkan kamar dan menyediakan makanan, fasilitas sangat minim. Tapi dari asrama inilah cerita Fahutan dimulai. “Listrik cuma menyala sampai jam 10 malam,” kata Jojo Ontario, angkatan 1963.

Hiburan paling banter para mahasiswa penghuni asrama adalah menonton pertunjukan wayang golek di kampung-kampung sekitar kampus, seperti Kampung Carang Pulang hingga desa-desa di Ciampea. “Kalau tak menonton, kami nongkrong di warung kopi depan kampus,” kata Jojo.

Para mahasiswi, sementara itu, tinggal di sebuah rumah besar yang disebut Landhuis, milik seorang pengusaha asal Belanda, van Mooten. Setelah ditempati namanya menjadi Asrama Putri Kehutanan. Bangunan ini diapit dua asrama. Selain Sylva Sari, asrama khusus mahasiswa Fakultas Kehutanan adalah Sylva Lestari.

20180907115627.jpg

Peresmian menghuni hari pertama Asrama Sylva Sari (1968).

Sylva Lestari baru dihuni ketika angkatan 1969 masuk kampus. Sama seperti tanda masuk Sylva Sari, mahasiswa yang akan menempati asrama baru ini juga membuat upacara long march dari Baranangsiang ke Dramaga. “Saya mengiringinya dengan naik sepeda motor,” kata Adjat Sudrajat, angkatan 6, yang akrab disapa Kang Kromo. “Zaman itu waktu tempuh ke Dramaga cuma delapan menit.”

Menurut Adjat, karena Sylva Sari sudah penuh, mahasiswa senior yang tak lulus mata kuliah—yang disebut residivis atau RCD—ikut bergabung dengan mahasiswa baru ini menempati Sylva Lestari. Ketua Sylva Lestari pertama adalah Kardi Sabarudin dari angkatan 2 atau masuk IPB tahun 1964.

Di Sylva Sari maupun Sylva Lestari mahasiswa bebas memilih kamar. Bahkan mereka juga bebas tinggal. “Siapa saja boleh tinggal, yang tak mau tinggal di asrama juga tak masalah,” kata Adjat.

Dalam perkembangan berikutnya, karakter mahasiswa dua asrama ini bertolak belakang. Menurut Adjat perbedaan itu karena penghuni Sylva Sari sejak awal adalah mahasiswa senior, bahkan sedang persiapan lulus. Sehingga mereka serius belajar. “Para RCD di Lestari juga serius dan kalem seperti di Sari,” katanya.

Angkatan muda kemudian yang mewarnai pola penghuni Lestari. Jika penghuni Sylva Sari hanya menonton pertunjukan, angkatan muda acap ngaprak ke desa-desa sekitar, bahkan ada yang pacaran dengan penduduk setempat. “Pernah ada yang melabrak ke asrama, karena katanya anaknya hamil oleh satu mahasiswa,” kata Adjat. “Tapi berhasil negosiasi, padahal mah pasti kalakuan si eta.”

Karena penghuni Sari lebih senior dan belum ada batas waktu kuliah, kata Adjat, mereka terlena tinggal di asrama yang gratis. Selain subsidi pemerintah masih penuh, para senior itu berdagang untuk menambah penghasilan sekaligus menyediakan kebutuhan mahasiswa. “Di Sari mah sampai ada yang jadi bandar minyak,” kata Adjat, yang pensiun sebagai eselon I di Kementerian Kehutanan.

Karena penghuni asrama mulai banyak, mereka menciptakan hiburan sendiri selepas jam kuliah. Gaple dan sepak bola serta voli adalah kegiatan paling populer. Mahasiswa dan dosen campur baur bermain gaple dan olah raga. Permainan-permainan itu acap berlangsung hingga larut dan berisik.

Sekali waktu, Dekan Fakultas Pertanian Andi Hakim Nasution yang rumahnya sekitar 100 meter dari Sylva Lestari menegur mereka agar tak terlalu ribut dan berpakaian lebih rapi. Ditegur sekali tidak mempan, dua kali masih cuek, sampai akhirnya rektor IPB paling terkenal itu memarahi para mahasiswa.

Tak terima dimarahi, Adjat lapor kepada Rudy Tarumingkeng. “Pak, mengapa kami dimarahi terus sama Pak Andi?” katanya. “Mahasiswa mah biasa begini-begini.” Adjat terus bercerita soal teguran Andi Hakim itu.

“Waktu saya lapor, Pak Rudy bilang, ‘Geus lah lawan bae, Djat’,” katanya. Mendapat restu itu Adjat dan teman-temannya bersiap menyambut Andi di asrama. Sewaktu Andi Hakim olah raga jalan sore, mereka bersiul, memukul besi, hingga panci. Karuan saja, Andi Hakim tambah marah.

Sewaktu dikonfirmasi soal “konflik” mahasiswa Lestari dengan Andi Hakim, Rudy Tarumingkeng masih ingat kejadiannya, tapi tak seperti cerita Adjat.

Waktu itu, kata Rudy, mahasiswa Fahutan sedang persiapan kemping, sebagai rangkaian masa orientasi mahasiswa baru. Rudy menerima laporan dari panitia bahwa Dekan Fakultas Pertanian meminta mereka menurunkan spanduk acara di kampus Baranangsiang karena halaman kampus kini menjadi area fakultas itu.

Rudy langsung berangkat ke Kota Bogor setelah mendengar laporan itu. Ia menemui rektor dan menyampaikan keberatan atas permintaan Andi Hakim tersebut. Setelah itu ia meminta mahasiswa memasang kembali spanduk-spanduk yang sudah diturunkan. “Kalau menyuruh melawan Dekan pasti tidak mungkin,” katanya. “Yang saya ingat memang ada ketegangan itu."

Karena keguyuban tinggal di asrama, lahir tradisi-tradisi baru seperti pelonco masuk asrama hingga pemberian nama-nama yang lucu dan nyeleneh. Di lantai 3 Adjat tinggal bersebelahan dengan kamar Rahmat, yang saleh dan suka azan sewaktu subuh. “Aing mah tidur teh kayak bareng haji,” kata dia. Jadilah Rahmat dipanggil “si haji”.

Ketika akan lulus, Rahmat mencantumkan nama keduanya dengan “Adjie”. Maka di ijazahnya hingga kini tercantum nama Rahmat Adjie. Ia kini 71 tahun dan pensiun dari Dinas Kehutanan tahun 2007. “Dulu mah kalau lulus malah ditanya mau mencantumkan nama apa di ijazah, hehe,” kata Rahmat.

Robi Deslia, Fitri Andriani, dan Labib Mubaarok berkontribusi dalam laporan ini.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain